Alexa Metrics

Harus Berani Kenyang Tanpa Nasi!

Harus Berani Kenyang Tanpa Nasi! FOKUS-Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan RI Kuntoro Boga Andri PhD (tiga kiri), Kepala Ketua Departemen Ilmu Ekonomi IPB Dr Sahara (tiga kanan), Sandi Octa Susila, petani milenial (dua kanan) dalam diskusi Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) bertemakan ‘Diversifikasi Pangan Kokohkan Ketahanan Pangan Nasional’ di Jakarta, Selasa (8/9/2020). Foto : Forwatan for INDOPOS

indopos.co.id– Dalam masyarakat Indonesia muncul pola pikir ‘belum kenyang kalau tidak makan nasi’. Nah bisa nggak kenyang tanpa nasi? Jawabannya bisa! Caranya? Mengkonsumsi makanan non-beras. Jumlahnya banyak, serta kaya gizi dan nutrisi.

Melalui Diversifikasi Pangan berbasis kearifan lokal, Kementerian Pertanian (Kementan) RI menggaungkan program tersebut ke seluruh Indonesia. Saat ini, setiap provinsi difokuskan memproduksi panganan lokal selain beras. Diversifikasi pangan difokuskan terhadap enam pangan lokal sumber karbohidrat non-beras di antaranya ubi kayu, jagung, sagu, pisang, kentang dan sorgum.

Dalam lima tahun ke depan, Kementan RI menargetkan penurunan konsumsi beras nasional sebesar tujuh persen. Khusus pada 2020, rata-rata konsumsi beras ditargetkan turun ke posisi 92,9 per kg per kapita per tahun dari posisi tahun lalu sebesar 94,9 per kg per kapita per tahun. Hingga 2024, ditargetkan konsumsi sudah turun tujuh persen ke posisi 85 per kg per kapita per tahun. Penurunan itu setara 1,77 juta ton senilai Rp17,78 triliun. Namun dengan catatan, penurunan konsumsi beras bisa dicapai asalkan ada intervensi dari pemerintah. Tanpa intervensi, penurunan konsumsi beras hanya mampu mencapai posisi 91,2 per kg per kapita per tahun.

Kuntoro Boga Andri PhD, kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan RI menjelaskan, pihaknya memastikan kebutuhan pangan masyarakat Indonesia sebanyak 267 juta jiwa harus tercukupi kebutuhannya. Karena itu, diversifikasi akan membantu ketahanan pangan masyarakat.

”Ada potensi pangan lokal yang luar biasa dalam mendukung program diversifikasi pangan. Kita memiliki pangan lokal di luar beras. Program diversifikasi membantu masyarakat Indonesia swasembada pangan,” ujarnya dalam diskusi yang digelar Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) bertemakan ‘Diversifikasi Pangan Kokohkan Ketahanan Pangan Nasional’ di Jakarta, Selasa (8/9/2020).

Dari segi produktivitas, lanjut Kuntoro, potensi produktivitas ubi kayu mencapai 10 ton per hektare (ha) dan pisang potensinya dapat mencapai 80 ton per ha. Selanjutnya, perlu mendorong pasar untuk memperkenalkan produk. ”Jadi imejnya pangan lokal harus ditingkatkan supaya menarik semua orang untuk konsumsi,” tandasnya.

Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan RI memiliki strategi jangka menengah dan jangka panjang untuk meningkatkan diversifikasi pangan lokal. Sekretaris BKP Kementan Dr Ir Riwantoro MM menjelaskan, diversifikasi pangan untuk kebutuhan makan masyarakat ini jadi pedoman. Karena itu, pemerintah berkomitmen menjaga kebutuhan pangan dan mencegah masyarakat kelaparan di saat Pandemi COVID-19. Ketika BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) menyebut akan ada kekeringan, era New normal ada program peningkatan ketersediaan pangan. “Secara konsistem menggalakkan diversifikasi pangan di wilayah masing-masing dan menjadi sebuah gerakan,bahkan di pekarangan rumah,” jelas dia.

Riwantoro menyebutkan, diversifikasi pangan bertujuan mengantisipasi krisis, penyediaan pangan alternatif, menggerakkan ekonomi dan mewujudkan sumberdaya manusia (SDM) yang sehat. Sasarannya menurunkan ketergantungan konsumsi beras.

“Kami targetkan ada satu penurunan pangan beras kita dan itu harus diikuti dengan kenaikan konsumsi pangan lokalnya. Peluang diversifikasi besar karena masyarakat ingin hidup sehat dan terdapat peluang bisnis UMKM,” ujarnya.

Kepala Ketua Departemen Ilmu Ekonomi IPB Dr Sahara menuturkan, Pandemi COVID-19 menjadi momentum tepat untuk mempercepat diversifikasi pangan. Karena itu, pola pandang harus diubah bahwa beras bukan satu-satunya sumber karbohidrat. Karena selama ini, pemerintah masih terlalu fokus pada pengembangan pangan jenis beras. Padahal, Indonesia memiliki ragam jenis pangan yang sangat berlimpah.

Saat ini, Indonesia memiliki 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis pangan sumber protein, 110 jenis rempah dan bumbu, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 26 jenis kacang-kacangan, dan 40 jenis bahan minuman. Namun, konsumsi beras per kapita yang terlampau tinggi.

Menurut Sahara, kondisi tersebut kontra produktif lantaran dapat menghambat investasi dan pengembangan produk pangan selain beras. ”Efeknya, kemampuan kita memproduksi pangan lokal secara kontinu rendah. Belum lagi bicara soal teknologi pengolahan pangan lokal yang masih terbatas,” ujarnya.

Dikatakan Sahara, diversifikasi pangan tidak hanya untuk pangan pokok, tetapi juga pada upaya mendorong keragaman konsumsi berbagai jenis makanan yang mengandung protein, serat dan vitamin yang tinggi. Makanya, upaya diversifikasi pangan harus dilakukan secara terintegrasi melalui aspek permintaan dan suplai.

Sandi Octa Susila, petani milenial menuturkan bahwa petani milenial juga mendukung diversifikasi pangan lokal. Bahkan, sudah melakukan ekspor mokaf atau tepung singkong dan sagu. Untuk itu, ia meminta potensi lahan harus dioptimalkan untuk budidaya. Selain itu, perlu juga membangun kerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kemampuan pangan lokal. (aro/mdo)



Apa Pendapatmu?