Alexa Metrics

Trump – Biden Saling Sindir

Trump – Biden Saling Sindir

indopos.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan saingannya dari Demokrat Joe Biden saling sindir satu sama lain. Trump menyindir Biden ketika kampanye tradisionalnya mencapai bagian akhir pada liburan Hari Buruh di AS.

Trump menyebut Biden sebagai ancaman bagi ekonomi dan bodoh. Sementara itu, Biden membidik atas laporan, di mana Trump menghina pasukan yang gugur.

“Biden dan pasangannya yang sangat liberal (Kamala Harris), orang paling liberal di Kongres menurut saya bukanlah orang yang kompeten, akan menghancurkan negara ini dan ekonomi negara ini,” kata Trump pada konferensi pers Gedung putih, menurut Reuters.

Selain itu, Trump juga menyebut Biden bodoh. Dalam banyak kesempatan, Trump sering menyebut mentan wakil presiden itu sebagai ‘Sleepy Joe’ atau Joe yang mengantuk.

Trump kembali menolak laporan dari The Atlantic bahwa dia menyebut tentara AS yang gugur sebagai pengecut dan pecundang. Ia juga mengatakan bahwa semua itu hanyalah sebuah berita palsu.

Penghinaan Trump pada tentara itu telah mendominasi berita utama selama berhari-hari dan mengancam dukungan untuk Trump dari para veteran dan anggota militer, yang merupakan blok pemungutan suara utama.

“Tidak ada orang yang lebih menghormati militer kita dan orang-orang yang memberikan nyawa mereka di militer,” ujar Trump.

Biden mengutip pernyataan kontroversial Trump tersbut saat berkampanye di negara bagian medan pertempuran elektoral Pennsylvania. Dia menyebutkan putranya, Beau Biden, yang bertugas di Irak sebagai anggota Pengawal Nasional Delaware dan meninggal karena kanker otak pada tahun 2015.

“Beau bukanlah seorang pecundang ataupun orang bodoh. Dia melayani bersama para pahlawan,” ucap Biden.

Kunjungan Biden ke Pennsylvania pada Senin lalu memulai awal perjalanannya ke negara-negara bagian yang menjadi medan pertempuran antara Biden dan Trump minggu ini. Itu karena beberapa jejak pendapat menunjukkan bahwa persaingan keduanya semakin ketat dengan waktu kurang dari 60 hari hingga pemilihan pada 3 November mendatang.

Dengan menyebarnya pandemi virus corona dan kerusuhan sipil atas rasisme dan kebrutalan polisi yang menjadi perhatian dalam beberapa bulan terakhir, Biden berusaha mempertahankan keunggulannya dengan menggambarkan bahwa presiden dari Republik itu sebagai pemimpin tidak efektif yang selalu membuat kekacauan dan telah meninggalkan kelas pekerja.

Sementara itu, Trump telah berjuang untuk mengubah kontur kampanyenya. Retorika Trump tinggi tentang polariasasi rasial serta hukum dan ketertiban yang dimaksudkan untuk memotivasi basisnya dan menarik pendukung baru di bagian kunci di pinggiran kota negara bagian, seperti Pennsylvania, Wisconsin dan Michigan.

Sebelumnya, Biden bertemu dengan para pemimpin serikat di Harrisburg, ibu kota Pennsylvania, dan berbicara secara virtual dengan pemimpin federasi serikat buruh AS terbesar, Presiden AFL-CIO Richard Trumka. Dia juga menjawab pertanyaan dari pekerja serikat dan telah bertemu dengan anggota serikat yang bertugas di militer AS.

Kampanye Biden juga mengumumkan pengesahan tiga serikat pekerja, yaitu Serikat Buruh Internasional Amerika Utara, Persatuan Konstruktor Elevator Internasional, dan Federasi Nasional Pegawai Federal.

Biden berjanji untuk menjadi ‘presiden perburuhan terkuat’ dalam sejarah AS. Dia juga berjanji untuk meminta pertanggungjawaban para eksekutif secara hukum jika mereka mengganggu pengorganisasian serikat, dan untuk menaikkan upah minimum dan memperkuat Dewan Hubungan Perburuhan Nasional.

“Orang-orang telah mengetahui bahwa bukan ahli keuangan Wall Street yang membuat negara ini berjalan. Itu kalian, para pekerja penting,” seru Biden saat acara virtual bersama Trumka.

Di lain kesempatan, Trump mengatakan bahwa jika Biden terpilih, Demokrat akan mengamanatkan penutupan ekonomi lagi untuk menangani pandemi virus korona.

“Rencana Biden untuk virus Tiongkok adalah menutup seluruh ekonomi AS,” kata Trump.

Trump menuduh Biden akan merumahkan puluhan juta pekerja dan menyebabkan kematian yang tak terhitung jumlahnya karena bunuh diri, penyalahgunaan zat, depresi, penyakit jantung, dan penyakit sangat serius lainnya.

Trump berencana untuk mengunjungi North Carolina, Florida, Michigan, dan Pennsylvania di akhir pekan. Semua wilayah itu dianggap penting bagi peluang kemenangan kedua kandidat.

Jajak pendapat di Pennsylvania, yang dimenangkan Trump dengan tipis pada tahun 2016, secara konsisten menempatkan Biden di posisi terdepan. Namun, rata-rata menunjukkan bahwa margin menyempit menjadi sekitar 4 hingga 5 poin persentase, turun dari sekitar 8 poin pada akhir Juni. Biden dijadwalkan kembali ke Pennsylvania pada Jumat. (fay)



Apa Pendapatmu?