Ambulans Laut di Sulsel Tidak Efektif

Penggunaan Ambulans Laut Terlalu Boros

indopos.co.id – Ambulans laut sebagai inovasi Pemerintah Kota Makassar dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan ternyata tidak efektif dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang berdomisili di pulau.

Kepala Puskesmas Barrang Lompo Kota Makassar dr Faisal pada Selasa (9/9) di Makassar mengatakan penggunaan ambulans laut terlalu boros anggaran sehingga sangat jarang digunakan masyarakat pulau.

Baca Juga :

IDI Gelar Seminar Rekomendasi MEA

“Jadi kita itu harus siapkan bahan bakar pertalite jika ingin menggunakan ambulans laut, sementara harga pertalite di pulau Rp10.000/liter dan pemakaiannya kira-kira sekitar 60 sampai 70 liter dan itu hanya dari Pulau Barrang Lompo saja ke Makassar,” jelasnya.

Penggunaan bahan bakar ini menjadi salah satu kendala sehingga penggunaannya tidak begitu optimal bagi warga pesisir, sementara anggaran yang disiapkan Dinas Kesehatan Kota Makassar hanya berkisar Rp5 juta per bulan.

Selain itu, pada operasional ambulans laut, pihak Puskesmas Barrang Lompo juga harus mengeluarkan biaya lebih bagi pengemudi, terlebih tidak banyak warga yang tahu pengoperasian armada kesehatan tersebut.

“Ini pengadaan wali kota, saat ini tetap dipakai tapi kurang efektif karena boros biaya. Anggarannya itu dari dinas dan kita tidak dibebankan ke pasien,” katanya.

Ambulans laut juga dianggap tidak efisien karena dengan ongkos besar tersebut hanya mampu membawa satu pasien bersama sekitar tiga-empat orang anggota keluarganya. Hal ini mengakibatkan akses penggunaan ambulans tidak cukup mudah bagi sedikitnya enam pulau di wilayah Puskesmas Barrang Lompo.

Adapun enam pulau tersebut yakni Pulau Barrang Lompo, Pulau Barrang Caddi, Pulau Kudingareng, Pulau Lumu-lumu, Pulau Bonetambu dan Pulau Lajukan.

Menurut dr Faisal, saat ini ambulans laut digunakan untuk rujukan pasien gawat darurat dan untuk Puskesmas keliling yang menggunakan ribuan liter bahan bakar untuk menjangkau beberapa pulau, sedangkan dana yang disiapkan hanya Rp5 juta.

Ambulans laut ini kerap bertengger di dermaga Pulau Barrang Lompo dan sangat jarang digunakan masyarakat setempat, terlebih warga di pulau lainnya.

“Sebenarnya bisa menelepon ketika memang dibutuhkan tapi prosesnya lama karena diisi bensin dulu, mencarikan pengemudinya. Jadi untuk kegiatan yang bisa direncanakan itu tidak bisa, belum lagi perawatannya. Makanya ambulans laut ini tidak efektif,” ujar dr Faisal.

“Kasihan juga negara kalau terlalu boros penggunaannya dan tidak efektif melayani masyarakat. Apalagi kami juga tidak pernah menagih ke masyarakat kalau ini dipakai,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan FD Manaba, selaku Plh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep bahwa ambulans laut belum pernah digunakan untuk melayani warga pulau dalam akses kesehatan sejak ambulans laut diserahkan oleh Pemprov Sulsel tahun 2019.

“Persoalannya karena tidak ada biaya operasional, jadi selama ini hanya digunakan untuk simulasi untuk menjaga mesinnya tidak rusak tetapi belum pernah dipakai untuk warga pulau,” katanya.

Manaba mengatakan bahwa ambulans laut ini baru direncanakan anggaran operasionalnya pada 2021. (ant)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.