Alexa Metrics

Luis Suarez, Nafsu Memburu Lawan Itu Semakin Jauh

Luis Suarez, Nafsu Memburu Lawan Itu Semakin Jauh

indopos.co.id – Juventus tengah berada di puncak sepak bola Italia. Sembilan scudetto berturut-turut adalah bukti autentiknya. Namun, cita-citanya mengivasi Eropa kembali gagal dan gagal lagi. Karena itu, Si Nyonya Tua tidak tinggal diam. Juve coba-coba merevisi skuad yang sudah mulai menua. Akuisisi Arthur Melo dan Weston McKennie adalah cara untuk merevitalisasi lini tengah. Tetapi perbaikan di lini tengah itu akan sia-sia kalau Juventus akhirnya mendatangkan Luis Suarez yang dilepas Barcelona.

Meskipun tidak ada yang meragukan kualitas pemain Uruguay itu, seperti diwartakan Football Italia, kedatangan Suarez tidak serta merta melambungkan harapan baru. Tim raksasa asal Turin itu tidak lebih dekat dengan gelar Liga Champions ketiga yang sudah lama ditunggu-tunggu.

Juventus memang pontang-panting mengejar striker baru selama beberapa bulan terakhir. Banyak nama sempat masuk nominasi dan perbincangan. Sekarang Suarez nampaknya akan menandatangani kontrak di garis putus-putus.  ‘El Pistolero’ memiliki semua alat yang diperlukan untuk menjalin pemahaman bermainnya yang kuat dengan Cristiano Ronaldo.

Meski usianya semakin lanjut, pemain Portugal itu belum menjelma menjadi predator kotak penalti kembali seperti yang diharapkan beberapa orang di Turin. Suarez dapat memberikan rangsangan sentral yang tetap dan permainan link-up yang cerdik yang memberikan ruang keutamaan kepada legenda Real Madrid itu.

Di luar peran krusialnya dalam memaksimalkan aset Ronaldo, pemain Uruguay ini juga dapat merangsang rasa petualangan yang tidak aktif di lini tengah. Aaron Ramsey,  pencetak gol terbanyak musim lalu di sektor itu, hanya mencetak tiga gol di Serie A lho. Keinginan untuk datang dari posisi yang lebih dalam untuk menyelesaikan peluang harus meningkat dengan Suarez di belakangnya.

Bahkan pada usia 33 tahun, striker Salto Uruguay ini adalah salah satu penembak jitu paling mematikan di planet ini. 21 golnya dalam 36 pertandingan untuk Barca musim lalu adalah bukti dari kemampuan finishing yang tak berkurang. Akan tetapi, kalau ditelaah lebih dalam ke penampilan Suarez, ternyata ada yang hilang dari Suarez sekarang. Kurangnya mobilitas menghambat timnya ketika bertarung di perempat final Liga Champions melawan Bayern Munich.

Nafsu yang tak pernah terpuaskan untuk memburu pemain lawan biasanya menjadi ciri khas permainan Suarez, tetapi kakinya tidak lagi memungkinkannya untuk mempertahankan ciri khasnya itu. Selain itu, gerakan menyerang Suarez lebih bisa diprediksi tanpa kecepatan kilat yang pernah membuatnya menjadi ancaman konstan di lini belakang lawan.

Konsekuensi negatif dari fisik Charrúa (predator) yang memudar terlihat jelas saat melawan Bayern Munich di Lisbon. Raksasa Jerman mampu masuk ke dalam lingkaran tengah memainkan orkestrasi bola mereka dengan sangat nyaman. Nah, Suarez tak mampu mengganggu kombinasi lini belakang Bayern yang memainkan orkestrasi itu.

Kemenangan Teutonik di Liga Champions hanya menegaskan kembali pentingnya bisa bertahan di garus depan. Terlepas dari kecemerlangan mereka yang tidak diragukan lagi di ujung lapangan yang tajam, kehadiran Ronaldo dan Suarez akan membuat segala kepurapuraan tentang intensitas tinggi kolektif menjadi tidak mungkin.

Sekarang semua mata tertuju ke Andrea Pirlo. Seperti apakah debut perdananya nanti? Semuanya masih misterius. Barangkali konferensi pers perdana Pirlo bisa jadi pijakan. Penguasaan bola tetap menjadi titik fokus proyek konstruktif l’architetto atau sang arsitek.

Bahwa Suarez tidak cocok dengan tujuan yang ingin dicapai itu jelas. Tetapi menilik posisi keuangan Juve, hanya Suarez-lah yang paling memungkinkan. Sebab, klub hanya perlu membayar lebih dari biaya kompensasi nominal ke Barcelona. Uang ketat dan harga selangit yang dikutip untuk Duvan Zapata dan Arkadiusz Milik menjadi faktor pendukung kedatangan Surez ke Juventus.

Sebagai rookie, Pirlo harus cerdas menggunakan energi Suarez untuk kepentingan tim. Ronaldo tetap menjadi kartu AS Juventus. Kerja sama keduanya harus berbuah kejayaan mendapatkan si Kuping Besar. Dan, DNA CR7 ada di sana. Juve hanya butuh sedikit serius lagi untuk menggapai DNA itu. (*)



Apa Pendapatmu?