Alexa Metrics

Cetak Uang Burden Sharing Bikin Nilai Rupiah Merosot Tajam

Cetak Uang Burden Sharing Bikin Nilai Rupiah Merosot Tajam Dr Anthony Budiawan. Foto: Indra/ INDOPOS
indopos.co.id – Pembentukan dewan moneter yang sedang diupayakan pemerintah, dinilai adalah jalan pintas sektor fiskal di bawah Kementerian Keuangan untuk mengintervensi sektor moneter yang ditangani Bank Indonesia (BI).
Yang dimaksud jalan pintas tersebut, dijelaskan pengamat ekonomi Dr Anthony Budiawan adalah sektor fiskal akan meminta uang kepada BI, atau yang disebut burden sharing.
”Padahal burden sharing itu adalah istilah yang membodohi publik. Mana ada di dunia ini sebuah bank sentral sebagai otoritas moneter lalu burden sharing dengan kementerian keuangan sebagai otoritas fiskal?” papar Anthony saat diwawancara di channel youtube bravos radio.
Yang dimaksud burden sharing itu sendiri adalah skema menanggung beban bersama antara pemerintah, yakni Menteri Keuangan sebagai otoritas fiskal, dan BI sebagai otoritas moneter.
Namun Anthony menilai, burden sharing itu adalah mencetak uang dan membelinya di pasar primer.
”Jadi BI memberikan utang, dan utang itu ada bunganya. Seolah-olah bunganya dibayar kepada BI. Tapi kemudian dibalikkan lagi kepada Kementerian Keuangan. Jadi ini murni cetak uang. Dan ini dampaknya akan menjadi krisis yang luar biasa,” urai Anthony yang merupakan Direktur Political Ekonomy dan Policy Studies (PEPS).
Dicontohkan Anthony, ketika BI masih diintervensi pemerintah, tahun 1998 nilai 1 USD dari Rp 2 ribu-an, merosot tajam hingga sekitar Rp 16 ribu per 1 USD. ”Dan sekarang ini, bisa nanti dari Rp 15 ribu per 1 USD merosot menjadi Rp 30 ribu per 1 USD,” katanya.
Ia menilai saat ini penerimaan pajak pada sektor fiskal yang sedang terpuruk. Yang mana penerimaan pajak per akhir Juli 2020 hanya 8 persen, dan itu pun masih terpotong 25 persen untuk membayar bunga utang. ”Defisit yang terlalu tinggi, sehingga tidak bisa mencukupi pembiayaan yang lain, termasuk belanja modal. Di sisi lain, rasio utang luar negeri Indonesia yang sudah tinggi sekali,” jelas Anthony.
Menurutnya para kreditor pemberi utang akan sangat berhati-hati memberi utang lagi kepada Indonesia. ”Sepanjang 2015 hingga 2019 defisit sudah Rp 2 ribu triliun. Sepanjang tahun ini sudah berutang Rp 1.000 triliun lebih. Kreditur sekarang berpikir, bisa (bayar) gak ini. Dan dengan adanya dewan moneter, maka sektor fiskal akan meminta uang kepada BI untuk pembiayaan yang tidak mampu ditutup sektor fiskal,” pungkas Anthony. (ind)



Apa Pendapatmu?