Strategi Bertahan Industri Sanitasi

Properti Stagnan, Berimbas ke Serapan Lokal

indopos.co.id – Persaingan pasar industri keramik sanitary (sanitasi) di dalam negeri dinilai semakin kompetitif dengan adanya pemain-pemain baru di industri ini. Padahal, industri keramik sanitasi di Indonesia sedang lesu karena rendahnya serapan lokal.

Ketua Bidang Saniter Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Hendry Widjaja mengatakan, penurunan permintaan keramik sanitasi dirasakan sejak akhir 2017 hingga saat ini. Sebelumnya, produksi diserap pasar domestik sebesar 70 persen dan untuk ekspor sebesar 30 persen.

Baca Juga :

Tetapi sekarang porsi serapan lokal sebesar 55 persen dan sisanya ekspor. ”Salah satu perusahaan sanitary yang di Indonesia mengirim produknya ke perusahaan satu grup yang berada di Tiongkok dan Amerika Serikat,” paparnya.

Perlambatan di sektor properti disebutkan juga berimbas ke industri keramik sanitary. Hendry menuturkan pada 2016 saat industri properti mulai melambat, permintaan dalam negeri belum turun.

Baca Juga :

Transaksi Daring di Masa Pandemi Pesat

Tapi, penurunan signifikan baru terasa pada akhir 2017. Dia juga menilai, pengembang properti masih import minded atau menganggap produk sanitary impor kualitasnya lebih baik dibandingkan produksi dalam negeri, terutama untuk segmen menengah ke atas.

Padahal, pabrikan yang ada di Indonesia memiliki standar internasional yang sama dengan jaringan perusahaan di luar negeri dan kualitasnya tidak kalah dengan produk impor. Lantaran memiliki kualitas dengan standar internasional, produk keramik sanitary asal Indonesia tidak kesulitan menembus pasar global, bahkan bisa menembus pasar Amerika Serikat, Timur Tengah, dan Eropa.

Baca Juga :

Produsen keramik sanitary di Indonesia yang memiliki afiliasi jaringan internasional, PT Surya Toto Indonesia (TOTO) mengakui, memang saat ini industri keramik sanitary tengah mengalami kelesuan. ”Beberapa tahun belakangan memang menurun. Apalagi ada corona, efek pasti ada. Kita di-shut down. Untungnya kita penjualan retail banyak, lumayan membantu, masih stabil lah mereka. Produksi kita juga menurun tapi sudah recovery lagi,” kata President Director PT Surya Toto Indonesia Hanafi Atmadiredja disela penerimaan penghargaan BCI Asia Interior Design Award 2020 di Jakarta, Selasa (8/9) lalu.

Dirinya optimistis masih ada peluang industri sanitary di Indonesia. Apalagi saat ini produknya menguasai 60 persen market share.

”Penduduk Indonesia itu banyak. Kita juga ekspansi pabrik di Indonesia. Saat ini total empat pabrik di Indonesia. Untuk populasi nomer empat. Ujung-ujungnya kalau mau jualan ya populasi. Saya yakin, 5-10 tahun ke depan akan maju,” ujarnya optimistis.

Menurutnya, di tengah Pandemi COVID-19 seperti saat ini, dia tetap melihat adanya potensi bisnis.  Justru menurutnya, ini adalah momen yang tepat memperkenalkan produk sanitary yang higienis.

”Dimasa pandemi ini soal higienitas ini merupakan suatu keharusan,” ujarnya. Tak hanya menggarap pasar domestik, Toto mengekspor produknya ke Tiongkok, Amerika Serikat, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan negara-negara Timur Tengah.

Hal itu dilakukan seiring dengan program pemerintah Indonesia yang tengah menggalakan program ekspor guna menekan defisit neraca perdagangan. ”Pasar ekspor memang sangat menjanjikan. Namun, kami akui bahwa pasar dalam negeri hingga saat ini masih menjadi penopang penjualan. Jika dilihat dari komposisinya, memang ekspor masih 20 persen dari total produksi,” imbuhnya.

Tercatat di semester I-2019, penjualan ekspor Toto naik 3,13 persen menjadi Rp245,46 miliar. Sementara penjualan domestiknya menurun 18,05 persen (y-o-y) menjadi Rp744,27 miliar.

Dirinya menjabarkan sejumlah tantangan yang harus dihadapi untuk ekspor. Antara lain, masih lesunya ekonomi global dan perang dagang antara AS dan Tiongkok yang masih terus berlangsung hingga saat ini.

Untuk menghadapi penurunan penjualan dalam negeri, pihaknya juga menyasar segmen menengah ke bawah. ”Dengan strategi ini, diharapkan dapat mendorong produk-produk Toto lebih cepat terserap ke pasar,” kata Hanafi.

Optimistis juga digaungkan produsen produk saniter Kohler Co. President of Kohler Kitchen and Bath Asia Pacific Angel Yang mengakui bahwa market di Indonesia tak lepas dari besarnya populasi di Indonesia.

“Seiring itu pula sektor konstruksinya bertumbuh dengan baik,” ujarnya. Terkenal dengan produk yang futuristik dan otomatis, perusahaan berharap dapat memberi solusi bagi kebutuhan lokal Indonesia.

Selain menyasar keperluan rumah tangga, Kohler di Indonesia memposisikan diri sebagai brand yang diterima di kelas menengah. Dia juga menambahkan, perusahaan tidak menitikberatkan antara sektor ritel maupun proyek konstruksi saja.

Sebab ia mengklaim, pihaknya secara global kuat didua-duanya. Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa perusahaan sangat melihat prospek positif dari market di Indonesia.

Untuk itu, pihaknya tidak segan berinvestasi pabrik di Indonesia. Dengan nilai investasi pabrik sekitar USD100 juta, lokasi fasilitas produksi bakal berdiri di Cikarang.

Pabrik tersebut bakal punya kapasitas produksi sebesar 1 juta unit per tahun. Berdasarkan data Kemenperin, pada 2016 kapasitas terpasang industri ubin dan keramik dalam negeri tercatat sebesar 580 juta meter persegi dengan porsi untuk pasar domestik sebesar 87 persen dan sisanya untuk diekspor ke Asia, Amerika, dan Eropa.

Sementara itu, kapasitas terpasang keramik untuk tableware sebesar 290 juta unit, keramik untuk sanitary sebesar 5,4 juta unit, dan genteng sebanyak 120 juta keping. Indonesia merupakan negara dengan kapasitas produksi keramik keempat terbesar di dunia.

 

Dorong Produk Saniter Eco-friendly

Produk saniter mirip fashion. Sebab model dan desainnya seringkali mengikuti tren yang berkembang di pasaran.

Hanafi mengatakan, perusahaan sengaja mendesain kantor mereka dengan produk sanitasi yang berkualitas, futuristik, dan ramah lingkungan. ”Perpaduan suasana budaya Jepang dan Indonesia ini, sama seperti perpaduan produk kami yang menggabungkan kualitas material dari Indonesia dan aspek modern dari Jepang untuk menciptakan produk yang berkualitas dan inovatif,” ujarnya.

Field Four Design Office sebagai konsultan desain kelas dunia menjelaskan, bahwa kebutuhan masyarakat terhadap air bersih menantang mereka untuk menghadirkan rangkaian produk yang telah dilengkapi dengan teknologi eco-friendly. Sehingga memungkinkan efisiensi daya dan air mulai dari keran, shower, bidet, urinal, kloset, wastafel, hingga hand dryer.

Ketergantungan manusia dengan alam menjadi alasan utama mengapa pencemaran lingkungan terus terjadi. Meski begitu, kini semakin banyak orang yang memahami pentingnya menjaga alam.

Dengan latar belakang tersebut, muncullah tren eco-friendly atau ramah lingkungan beberapa tahun belakangan. ”Tren ini biasa dikaitkan dengan produk, hasil olahan, dan bahan baku yang tidak berbahaya untuk manusia, bumi, maupun lingkungan sekitar. Termasuk juga produk saniter yang memanfaatkan teknologi,” imbuhnya.

Dikutip dari situs Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, teknologi ramah lingkungan adalah produk yang dalam pembuatan dan penerapannya menggunakan bahan baku ramah lingkungan, proses yang efektif dan efisien, serta mengeluarkan limbah yang minimal. Teknologi ramah lingkungan ini bisa diterapkan di berbagai bidang, seperti energi, transportasi, industri, dan rumah tangga.

Eco-friendly menjadi angin segar bagi para pecinta lingkungan. Sebab menjadi cara untuk mempertahankan kesehatan alam yang nantinya akan memberikan manfaat bagi keberlangsungan hidup makhluk hidup, khususnya manusia. (dew)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.