Alexa Metrics

Efek Penerapan Ganjil Genap Kawasan Setu Babakan, Omzet Pedagang Terjun Bebas

Efek Penerapan Ganjil Genap Kawasan Setu Babakan, Omzet Pedagang Terjun Bebas

indopos.co.id – Sistem ganjil genap diterapkan dilingkungan unit usaha Ibu Kota. Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (UPK PBB) menerpakan ganjil genap di kawasan wisata air Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Itu dilakukan untuk mencegah penularan COVID -19. ”Sudah sejak akhir Juni diberlakukan ganjil genap, kita sih ikut aja apalagi demi kebaikan,” kata salah seorang pedagang kerak telor, Yoh.

Menurut Yoh, hingga kini kebijakan masih diterapkan secara tertib. Hanya, sistem ganjil genap tidak membawa keuntungan bagi pedagang. Namun, pedagang juga tidak mau ambil risiko dengan penularan COVID-19. Sejak merebak Maret lalu, pedagang Setu Babakan terpaksa tutup selama empat bulan. Itu karena kawasan wisata juga ditutup pemerintah. ”Setelah dibuka, kita boleh jualan. Namun, digilir pakai ganjil genap,” tegas Yoh.

Hal senada diungkap Ani. Perempuan 55 tahun itu, mengaku pendapatan berkurang dibanding sebelum COVID-19. Pada akhir pekan, omset berjualan minimal Rp1 juta. Meski dibatasi berjualan, pedagang mengaku sehari bisa membawa pulang penghasilan minimal Rp100 ribu. Itu untuk waktu berjualan mulai pukul 09.00-16.00 WIB. ”Selama pandemi, ada pemasukan. Hanya, kan digilir. Jadi, sehari dapat sehari tidak,” ucap Ani.

Sementara itu, Kepala UPK PBB Imron mengaku ada 400 pedagang kawasan wisata Situ Babakan. Sejak pola ganjil genap, mayoritas pedagang patuh. Itu terpantau dari hasil pengawasan dilapangan. ”Pedagang tertib. Ganjil genap berlaku dengan pengawasan,” ucap Imron.

Pemberlakukan sistem ganjil genap untuk pedagang tertuang dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Nah, 200 dari 400 pedagang boleh berjualan setiap hari. Tidak hanya itu, kapasitas pengunjung Setu Babakan juga dibatasi 50 persen, termasuk pengunjung makan. Pedagang juga dilarang menggelar tikar untuk lesehan pengunjung untuk menghindar kerumunan. Jam operasional dibatasi sampai pukul 16.00 WIB, dari lazimnya pukul 17.00 WIB.

UPK PBB kawasan Setu Babakan berkonsep wisata budaya, wisata air, dan wisata agro. Pengunjung dapat menikmati wisata kuliner disuguhkan pedagang. Aneka jajanan tersaji dengan rapi. Mulai kerak telor, baso, aneka mie, gorengan, minuman kelapa muda, dan Bir Pletok.

Pemberlakuan sistem itu, tidak lepas dari lonjakan kasus COVID-19 Jakarta menanjak signifikan. Pada Selasa (8/9), konfirmasi positif COVID-19 harian mencapai 1.015 kasus, sehingga total menjadi 48.811. Menanjak signifikan dari sebelumnya 47.796 kasus. Berdasar data Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, pertambahan 1.015 kasus itu, lebih tinggi dibanding penambahan Sabtu (5/9) 842 kasus, Jumat (4/9) 895 kasus, dan Selasa (1/9) 941 kasus.

Hanya, lebih rendah dibanding penambahan Senin (7/9) 1.105 kasus, Ahad (6/9) 1.245 kasus, Rabu (2/9) 1.053 kasus, dan Kamis (3/9) 1.406 kasus, merupakan rekor pertambahan selama Pandemi COVID-19 berlangsung. Penambahan kasus itu, merupakan hasil pemeriksaan 8.570 spesimen pada Senin (7/9) keluar Selasa.

Dan, hingga 7 September 2020, sudah ada 791.403 sampel (sebelumnya 782.833 sampel) telah diperiksa dengan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mengetahui jejak COVID-19 pada lima wilayah DKI Jakarta melalui 54 laboratorium.

Untuk pemeriksaan 7 September 2020, 6.856 orang dari 8.570 spesimen, dites untuk mendiagnosis kasus baru. Hasilnya, 1.015 kasus positif dan 5.841 negatif. ”Untuk rate tes PCR total per 1 juta penduduk 66.213. Jumlah orang dites PCR sepekan terakhir 55.424,” tegas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia.

Dwi menjelaskan jumlah kasus aktif terpapar COVID-19 saat ini, 11.030 orang (berkurang 17 dari sebelumnya 11.047 orang) masih dirawat atau isolasi. Sedang dari jumlah kasus konfirmasi secara total di Jakarta Selasa 48.811 kasus. Ada 36.451 orang sembuh, dan 1.330 orang meninggal dunia.

Dalam persentase, tingkat kesembuhan Jakarta 74,7 persen (sebelumnya 74,1 persen). Tingkat kematian 2,7 persen (sebelumnya 2,8 persen). Untuk positivity rate atau persentase kasus positif sepekan terakhir di Jakarta setelah penambahan Selasa ini, sebesar 13,2 persen (sebelumnya 14,1 persen). Sedang persentase kasus positif total 6,9 persen (sama seperti sebelumnya). WHO menetapkan standar persentase kasus positif tidak lebih dari lima persen. (ash)



Apa Pendapatmu?