Alexa Metrics

Membedah Polemik Sertifikasi Ulama ala Kemenag

Membedah Polemik Sertifikasi Ulama ala Kemenag Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kamaruddin Amin menjelaskan sertifikasi penceramah tidak seperti sertifikasi profesi. (Foto: HO-Kementerian Agama/am/ ANTARA)

indopos.co.id – Sertifikasi ulama tengah hangat menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. Program Kementerian Agama (Kemenag) itu, menuai pro dan kontra di ruang publik. Untuk mengetahui secara lengkap seperti apa program itu, simak perbincangan INDOPOS dengan Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Kemenag Kamaruddin Amin di Jakarta, Kamis (10/9).

Program sertifikasi ulama menuai polemik di masyarakat. Mohon jelaskan apa sih program sertifikasi ulama ini? 

Tolong digarisbawahi, program sertifikasi ulama atau penceramah tidak sama dengan sertifikasi profesi. Yang kemudian akan muncul konsekuensi, seperti tuntutan profesionalitas yang kemudian dibayar negara. Sertifikasi penceramah itu, program penguatan berupa pelatihan-pelatihan untuk para pendakwah. Setelah selesai mengikuti pelatihan, para peserta berhak memperoleh sertifikat.

Bukan berarti yang tidak bersertifikat enggak boleh berceramah. Itu enggak! Atau yang bersertifikat itu harus dipakai. Pilihan-pilihan itu ada di masyarakat. Kan tergantung selera masyarakat juga kan.

Dalam pelatihan nanti, penguatan penceramah menerima materi apa saja?

Ada dua penguatan dalam sertifikasi penceramah ini. Yang pertama penguatan tentang wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional. Penguatan itu, meliputi pengetahuan tentang konstitusi, dasar negara. Kami dibantu lembaga negara seperti Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Yang kedua tentang pemahaman keagamaan moderat atau Islam yang menghargai perbedaan, pluralitas perbedaan, bisa menerima perbedaan orang lain, dan demokratis. Pokok pelatihan sertifikasi penceramah hanya dua poin itu.

Siapa saja yang bisa mengikuti pelatihan ini? 

Pelatihan ini menyasar para penceramah dari elemen-elemen ormas Islam. Ormas Islam itu di antaranya NU, Muhammadiyah, Lembaga Dakwah Muslimah, Wanita Islam, dan masih banyak lagi ormas Islam lain. Dan, hingga saat ini, kami telah melakukan komunikasi dengan para dai. Ormas Islam itu, akan kami undang, untuk kemudian mengirimkan peserta.

Lalu bagaimana pola pelatihan penceramah ini dilakukan?

Kami melibatkan Kantor Wilayah (Kanwil) daerah untuk menyelenggarakan program penguatan penceramah. Di pusat 200 peserta dari ormas Islam pusat. Lalu 8 ribu peserta dilaksanakan pada 34 provinsi Indonesia. Setiap Kanwil daerah melibatkan ormas Islam setiap wilayah. Berdasar rencana, program penguatan penceramah dilakukan akhir September. Setiap peserta berhak mengikuti pelatihan selama tiga hari.

Apa pesan dan harapan anda dengan program pelatihan penceramah ini?

Seluruh umat Islam Indonesia untuk mendukung program ini. Tujuannya hanya memberikan pembekalan. Itu penting supaya para penceramah berwawasan luas. Baik pengetahuan agama, wawasan kebangsaan, dan memahami dinamika keagamaan secara nasional maupun global. Sehingga bisa memberikan konten ceramah berkualitas, bermutu, dan mencerahkan masyarakat. (nas)



Apa Pendapatmu?