Alexa Metrics

Kisah Sandi Uno Gagal Beli Saham Telkomsel, Indosat dan Excelcomindo

Kisah Sandi Uno Gagal Beli Saham Telkomsel, Indosat dan Excelcomindo Sandiaga Salahudin Uno

indopos.co.id – Pengusaha nasional Sandiaga Salahudin Uno mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengincar perusahaan telepon company (telco) yang teridiri dari Telkomsel, Indosat dan Excelcomindo untuk berinvestasi usai terjadinya krisis tahun 97’-98 lalu.

Pasalnya, setelah menggeluti dunia investasi di sektor sumber daya alam, Sandi melihat ada peluang yang menjajikan di sektor infrastruktur seperti perusahaan telepon tersebut.

“Sektor yang juga akan berkembang adalah sektor infrastruktur. Nah yang paling waktu itu kita incar adalah Telco (Telepon Company) dan itu ada tiga Telco. Ketiga perusahaan Telco ini in play pada saat itu, mulai dari Telkomsel, Indosat, dan Exelcom,” kata Sandi

Namun, pemilik PT Saratoga Investama Sedaya Tbk gagal membeli saham dari ketiga perusahaan telepon. Karena perusahaan Telkomsel dibeli Singapura, Singapore Telecommunications Limited (Singtel) dimana pada saat itu baru saja dalam proses menjual 35 persen saham yang dimiliki oleh Belanda ke pihak lain.

“Terus setelah Telkomsel kita mencoba juga gagal karena juga diambil oleh Singapura, ST Telemedia, kita coba Exelcom kalah juga oleh Telco Malaysia,” ujarnya.

Dan akhirnya, lanjut Sandi, dirinya bersama rekan bisnisnya melihat apa di bidang infrasktruktur yang berkaitan perusahaan telepon.

“Dan akhirnya kita melihat apa ya bidang infrakstruktur yang berkaitan Telco tapi memprovide bisnis kepada Telco. Akhirnya kita lihat bisnis telecom tower dan itu kita gagas dalam berinvestasi di Tower Bersama Group,” jelasnya.

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini menyebutkan, pada saat itu perusahaan Tower Bersama Group mulai membangun tujuh tower.

“Kita kembangkan melalui beberapa proses akuisisi, akhirnya alhamdulllah sekarang sudah menjadi salah satu perusahaan yang mengoperasikan atau mengelola lebih dari 20 ribuan sites,” katanya.

Selanjutnya, perusahaan tersebut melebarkan sayap dengan tidak hanya hanya hanya membangun tower untuk perusahaan telepon. Namun juga masuk ke pembangkit listrik.

“Jadi kita masuk ke power plan (pembangkit listrik) ke jalan tol dan lain sebagainya,” pungkasnya.

Meski demikian, bisnis Sandi di sektor infrastruktur perusahaan telepon dan listrik tak mudah. Kala itu, Sandi mengaku kerap disindir dan dipertanyakan oleh para investor terkait usaha tersebut. Pasalnya, investasi di sektor infrastruktur tingkat pengembaliannya lama.

“Dan returnnya (pengembalian) itu bisa dibilang tidak menarik dibanding dengan return di sektor lainnya,” beber Sandi.

Namun, mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini membuktikan pada saat itu, karena value investing jika dilakukan di momen yang tepat, infrastruktu dan pendanaannya pasti akan sukses.

“Waktu itu, saya memperkenalkan mezzanine finance, saya memperkenalkan leveraging equity, di dalam struktur permodalan kita. Akhirnya kita bisa mendapatkan nilai tingkat pengembalian investasi yang baik di jalan tol Cikopo – palimanan (Cipali) investasi kita di pembangkit listrik,” tukasnya. (yay)



Apa Pendapatmu?