Alexa Metrics

Kenapa Investor Ogah Taruh Uang di Pasar Modal?

Kenapa Investor Ogah Taruh Uang di Pasar Modal? Ilustrasi pergerakan saham di BEI, Jakarta. DOK Indopos
indopos.co.id – Pada kuartal I 2020, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 2,97 persen, atau terendah sejak 2001. Sementara itu, kontraksi atau pertumbuhan negatif terjadi di kuartal II 2020. Analisis dari Lifepal.co.id pada Minggu (13/9/2020) menyebutkan, dengan negatifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020, Indonesia sudah setengah jalan menuju resesi ekonomi.
Resesi dapat didefinisikan sebagai kondisi perekonomian sebuah negara yang mengalami pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang negatif selama dua kuartal berturut-turut. Maka, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali negatif pada kuartal III 2020, Indonesia resmi bisa dikatakan masuk dalam resesi.
Demi menopang pertumbuhan RI, Bank Indonesia pun memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin agar mendorong masyarakat melakukan konsumsi. Di sisi lain, pemerintah juga  mengucurkan dana sebesar Rp22,95 triliun dengan relaksasi pajak untuk dunia usaha dan karyawan.
Namun Menteri BUMN Erick Thohir sebelumnya mengatakan hingga akhir 2020, pemulihan ekonomi Indonesia hanya berkisar antara 40 hingga 60 persen, dan pemulihan ekonomi secara total dipastikan baru akan berlangsung pada kuartal I 2022.
Bersamaan dengan itu, pertumbuhan rata-rata jumlah kasus COVID-19 di Indonesia juga semakin bertambah yang bisa memicu ketidakpastian ekonomi di RI.  Besar kemungkinan ini akan menjadi penyebab mengapa investor enggan menaruh uang di pasar modal. Imbasnya, pemulihan IHSG pun bisa berjalan lambat dibanding indeks bursa di negara-negara ASEAN lainnya.
Pertumbuhan rata-rata kasus COVID-19 terus bertambah. Pemulihan IHSG (indeks harga saham gabungan). Peringkat ke 6 dari 9 Negara Negara ASEAN.  Bank Dunia memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan mengalami kemerosotan 5,2 persen karena COVID-19. Hal itu disebabkan karena pandemi ini bisa melumpuhkan segala aktivitas perekonomian di seluruh negara, termasuk Indonesia.
Sementara itu, kurva pertumbuhan kasus COVID-19 di Indonesia memang masih terlihat terus meningkat hingga kini, lain halnya dengan Vietnam, Kamboja, atau Laos yang sempat diklaim menang melawan COVID-19.
Rata-rata pertumbuhan kasus COVID-19 per hari di Indonesia terus bertambah, dari Maret yang saat itu 59 kasus per hari, meningkat di April dengan 295 kasus per hari, bulan Mei menjadi 516 kasus per hari, Juni dengan 977 kasus per hari, hingga agustus dengan 2.095 kasus per hari.
Hingga laporan ini dibuat Minggu (13/9/2020), kasus COVID-19 di Indonesia kini sudah ada di angka 169.196 secara nasional. Kebijakan pelonggaran pembatasan aktivitas pada awal Juni tentunya tidak bisa dikecualikan sebagai salah satu faktor terus bertambahnya kasus COVID-19 di Indonesia.
Bahkan, jauh sebelum itu, sudah dilakukan “pelonggaran” dari sisi transportasi, yakni sejak 7 Mei 2020. Pemerintah membuka seluruh moda transportasi hanya dua pekan setelah diberlakukannya larangan mudik. Jelang seminggu setelah pengumuman itu, muncul pula kabar mengenai padatnya antrean di bandara.
Riset Lifepal.co.id sebelumnya mengenai risiko COVID-19 di aktivitas sehari-hari, Pakar Epidemiologi FKM UI Dr. Tri Yunis Miko Wahyono, Msc. mengategorikan aktivitas bepergian dengan kendaraan umum, pesawat terbang, maupun mendatangi stasiun atau terminal bandara, adalah tergolong dalam aktivitas yang tinggi risiko terpapar COVID-19.(dni)



Apa Pendapatmu?