PSBB Total di Jakarta, Ojol Boleh Bawa Penumpang

indopos.co.id – Pengusaha hiburan asal Serpong, Tangsel, khawatir. Jika PSBB total di Jakarta diterapkan, bisa berdampak pada penurunan pendapatan. Sebab, selama masa pelonggaran tempat usahanya kerap dikunjungi warga Jakarta.

’’Walaupun jam operasionalnya terbatas pendapatan kami masih ada. Yang datang juga warga dari Jakarta, makanya khawatir kalau PSBB ini diterapkan lagi pasti kami bangkrut,’’ katanya saat ditemui ditempat usahanya di Tangsel akhir pekan kemarin.

Baca Juga :

Jokowi: Mini Lockdown Lebih Efektif dari PSBB

Untuk menyiasati kekurangan pendapatan, dia merumahkan beberapa karyawan. Terlebih di Tangsel pengawasan tempat hiburan kembali diperketat. Sehingga dirinya pun harus mencari cara lain untuk tetap mempertahankan tempat usaha hiburan bernyanyi keluarga.

’’Kalau ditutup ya saya ubah jadi kafe buat makan, itu juga belum bisa menutupi biaya opersional. Jika memang tidak ada solusi lagi pasti semua tempat hiburan akan tutup. Sekarang saja di sini mau diterapkan jam malam, maka akan semakin kecil kami mempertahankan usaha ini,’’ paparnya.

Baca Juga :

Hal senada disampaikan pengusaha rumah makan asal Depok Zakaria Chaniago. Dia mengungkapkan, jika PSBB diterapkan Pemprov DKI Jakarta akan berdampak pada tempat usahanya. Sebab kata pria asal Pariaman, Sumatera Barat, itu, pengiriman makanan ke sejumlah perkantoran di Jakarta melonjak saat pelonggaran PSBB dilakukan pemerintah. Dan itu pula yang membuat usaha rumah makannya itu mulai pulih.

’’Pelanggan saya kan kebanyakan di wilayah Jakarta Selatan sama Timur. Kalau PSBB diterapkan maka saya mau jualan di mana lagi. Pendapatan berdagang di Depok omzetnya tidak sama jika di Jakarta,’’ jelasnya.

Selain itu, sambung Zakaria, dampak PSBB di Jakarta akan membuat tempat usahanya akan sulit mendapatkan bahan lagi. Mengingat setiap hari dirinya berbelanja ke pasar induk karena harga bahan baku untuk usaha rumah makannya itu sedikit lebih murah. Karena itu dirinya berharap Pemprov DKI Jakarta dapat kembali mengkaji penerapan PSBB.

’’Lebih murah dari pada belanja di pasar tradisional di Depok. Pasti pedagang juga tidak bisa berjualan karena adanya pengetatan PSBB. Saya mohon ini dikaji lagi biar kami yang tinggal di pinggiran masih bisa menghidupi usaha kami ini,’’ imbuhnya.

Itu pula yang dirasakan pelanggan Commuter Line asal Kabupaten Bogor, Cahyati Sulistiasi. Jika PSBB diterapkan di Jakarta, pegawai sebuah perusahaan swasta ini tidak dapat bekerja dari rumah. Apalagi, perusahaan tempatnya bekerja itu bergerak di bidang ekspedisi yang mengharuskan dirinya datang untuk mengecek seluruh barang yang hendak dikirim ke konsumen.

’’Mana bisa saya kerja secara daring. Makanya bingung, kalau diterapkan pasti akses transportasi akan susah. Lagi pula masih ada kebijakan lain yang bisa ditempuh dari pada penerapan PSBB ini,’’ tegasnya.

Tak sampai di sana, lanjut Cahyati, jika PSBB itu diterapkan maka akan semakin banyak perusahaan merumahkan karyawan. Sebab, pendapatan perusahaan tidak akan mampu memenuhi kebutuhan mengupah karyawan. Artinya akan semakin banyak warga kota penyanggah DKI Jakarta menjadi  pengangguran.

Terpisah, ketakutan besar juga dirasakan Driver Ojek Online asal Ciledug, Kota Tangerang, Erikson Presli. Dia menuturkan, jika Pemprov DKI memperketat kegiatan di Jakarta, maka dirinya bersama driver ojol lain harus kehilangan pekerjaan. Sebab selama ini pendapatan mereka bertambah lantaran pesanan antar makanan, barang dan orang mayoritas berada di pusat pemerintahan itu.

’’Baru saja punya napas sekarang harus sesak lagi. Bagaimana mau makan kalau ke Jakarta saja susah antar penumpang karena PSBB ini. Kan semua tau semua kegiatan ada di Jakarta, kalau ini diperketat mana bisa cari makan di sini,’’ tuturnya.

Untung saja Gubernur DKI Jakarta merevisi kebijakannya. Jika sebelumnya mau melarang ojek online membawa penumpang, pada jumpa pers Minggu kemarin Anies akhirnya memperbolehkan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta  mengizinkan jasa angkutan umum motor berbasis aplikasi dalam jaringan (daring)  mengangkut penumpang selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) lanjutan mulai Senin (14/9).

“Motor berbasis aplikasi diperbolehkan untuk mengangkut barang dan penumpang dengan menjalankan protokol kesehatan yang ketat dan detail,” kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Jakarta, Minggu.

Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 88 Tahun 2020 tentang pelaksanaan PSBB lanjutan.

Namun aturan pengganti Pergub Nomor 33 Tahun 2020 itu juga membatasi pergerakan penduduk di Jakarta dengan membatasi kapasitas tampung maksimal kendaraan umum dan pribadi maksimal 50 persen.

“Mobilitas penduduk juga akan dikurangi kapasitas maksimal dari kendaraan umum atau kendaraan pribadi adalah 50 persen meneruskan seperti apa yang ada sekarang,” katanya.

Kemudian ada pembatasan frekuensi layanan dan armada lalu transportasi darat, kereta dan kapal penumpang yang juga diatur dengan pembatasan jumlah penumpang per kendaraan.

Salah satunya adalah kendaraan pribadi hanya boleh diisi maksimal dua orang per baris kursi, kecuali bila kendaraan pribadi mengangkut keluarga yang berdomisili satu rumah.

“Tetapi bila tidak satu rumah atau tidak satu domisili, maka harus mengikuti ketentuan maksimal dua orang per baris,” katanya.

Anies juga meniadakan kebijakan rekayasa lalu lintas ganjil genap selama PSBB lanjutan.

“Detailnya nanti akan diatur secara teknis melalui Surat Keputusan Kepala Dinas Perhubungan,” katanya.

Semantara itu, penyedia jasa pemesanan transportasi online Gojek memastikan mereka tetap menggunakan protokol kesehatan yang ketat saat beroperasi di masa pengetatan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai Senin (14/9).

“Dengan mengedepankan protokol Jaga Kesehatan, Kebersihan, dan Keamanan (J3K), kami ingin memastikan baik pelanggan, mitra dan seluruh pengguna ekosistem Gojek dapat terus menjalani keseharian dengan aman, nyaman dan terjaga kesehatannya,” kata Chief of Corporate Affairs Gojek, Nila Marita, kepada ANTARA, Minggu.

Seluruh layanan transportasi Gojek, termasuk ojek GoRide tetap beroperasi selama PSBB. Sementara untuk layanan GrabCar dan GoBluebird, jumlah penumpang maksimal dua orang per kendaraan, sudah termasuk dengan pengemudi.

Selain memastikan mitra menggunakan protokol J3K, Gojek mewajibkan pengguna untuk menggunakan masker sepanjang perjalanan dan duduk di kursi belakang.

“Gojek juga telah mengimplementasikan pengaturan geofencing yang dapat memastikan layanan tidak dapat beroperasi pada wilayah yang ditetapkan sebagai wilayah pengendalian ketat berskala lokal (zona merah),” kata Nila.

Layanan di luar angkutan penumpang, seperti pesan antar makanan GoFood, telemedis GoMed dan pengantaran barang GoSend, GoMart, GoShop dan GoBox tetap beroperasi selama PSBB.

Gojek mengimbau konsumen untuk menggunakan layanan tanpa kontak fisik langsung, atau contactless delivery, seperti membayar dengan metode nontunai. (cok)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.