Alexa Metrics

Jangan Jemput Paksa Pasien

Jangan Jemput Paksa Pasien ilustrasi (dok.indopos)

indopos.co.id – Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Zita Anjani meminta jangan ada kesan paksaan dalam penjemputan pasien terpapar COVID-19 untuk dikarantina di fasilitas yang disiapkan pemerintah.

Pernyataan Zita disampaikan terkait rencana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang akan melibatkan aparat penegak hukum untuk membantu petugas kesehatan menjemput pasien positif COVID-19 kategori orang tanpa gejala (OTG) dan gejala ringan yang menolak isolasi terpusat di tempat yang telah ditentukan. “Kata-katanya mungkin yang lebih diperhalus agar tidak menimbulkan kesan yang menyeramkan karena dijemput itu,” kata Zita di Jakarta, Selasa (15/9/2020).

Menurut dia, hal tersebut sesungguhnya memang tidak berlebihan. Terlebih jika melihat kebiasaan warga Jakarta, karena masih banyak membandel tidak ingin dibawa untuk isolasi. “Saya rasa itu hal yang wajar dan memang patut untuk diterapkan. Dengan catatan asal benar tindakan di lapangannya. Jangan sampai hanya menakut-nakuti pasien,” kata Zita.

Karena hal tersebut, Zita mengatakan, ada baiknya Pemprov DKI Jakarta mengharuskan seluruh anggota masyarakat di Jakarta tanpa terkecuali, termasuk para pejabat Pemprov DKI untuk patuh mengikuti aturan isolasi terpusat ini.

Seiring diberlakukan PSBB mulai Senin (14/9), Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan jika ada pasien positif COVID-19 menolak untuk isolasi terpusat di tempat yang telah ditentukan, akan dilakukan penjemputan oleh petugas kesehatan didampingi aparat penegak hukum.

Hal tersebut dilakukan, lanjut Anies, karena isolasi mandiri di rumah tinggal memiliki potensi pada penularan COVID-19 klaster rumah. Karena itu isolasi mandiri di rumah harus dihindari. Anies menyebutkan Tower 4 dan 5 Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran dengan kapasitas lebih dari 2.500 kamar dan disiapkan untuk menangani orang tanpa gejala (OTG) atau gejala ringan yang terpapar COVID-19. (ant/rul)



Apa Pendapatmu?