Alexa Metrics

Cerita Pedagang Warteg di Masa PSBB, Lebih Dua Orang Pembeli Diusir

Cerita Pedagang Warteg di Masa PSBB, Lebih Dua Orang Pembeli Diusir Petugas Satpol PP melakukan penertiban area kantin yang menyediakan makan di tempat saat razia penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Total di kawasan Cakung, Jakarta, Selasa (15/9/2020). (Foto: Aprillio Akbar/wsj/ ANTARA)

indopos.co.id – Sejak pagi Dedi sibuk berbenah di warung Tegal (warteg) miliknya. Dari membersihkan setiap sudut akrelik hingga menyusun setiap hidangan yang mengepulkan asap. Pria genap berusia 45 tahun ini sudah menggeluti usahanya sejak 20 tahun lalu. Suka duka sudah dia lakoni. Dari pasang surut pembeli hingga harus berurusan dengan petugas satpol PP.

Baru saja dibuka, pelanggan mulai berdatangan. Maklum, usaha warteg milik Dedi berada di tengah perkotaan Jakarta. ’’Bang, dibungkus satu ya. Pake sayur pare sama ikan gembung,’’ pesan seorang pembeli. Sembari mengangkat tempe goreng yang aromanya menggugah selera, Dedi dengan cekatan melayani pesanan pelanggannya.

’’Silakan duduk dulu. Yang lainnya apa lagi,’’ kata Dedi sembari mengulurkan sebungkus nasi rames dengan kantong plastik merah.

Dua puluh tahun bukan waktu singkat. Dedi dengan telaten melayani pelanggan. Ada satu resep yang tidak pernah dia tinggalkan, yakni melayani pembeli dengan bersabar. Dan tetap menjaga kualitas rasa masakannya. ’’Paling penting itu melayani setiap pembeli dengan baik dan jangan mengurangi rasa. Karena rasa masakan inilah yang akan menarik pembeli kembali ke sini,’’ katanya.

Usaha warteg Dedi tidak seramai dulu. Dia merasakan usahanya mulai sepi sejak pandemi COVID-19. Dulu, biasanya dalam sehari, bisa menghabiskan beras 25 liter. Tapi sekarang 15 liter saja sudah untung. ’’Ya maklum sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), pembeli yang makan dibatasi,’’ katanya.

Pemilik warteg di bilangan Pramuka, Jakarta Pusat, ini menuturkan, pada masa PSBB transisi usahanya kian ramai. Jumlah pelanggan yang makan di tempat tidak lagi dibatasi. ’’Ya wajar kalau ada penurunan, kan masih pandemi. Tapi masa transisi ini, alhamdulilah turun juga paling 25 persen,’’ bebernya.

Ketika ditanya terkait pemberlakuan PSBB diperketat di Jakarta sejak Senin (14/9), Dedi hanya menghela napas panjang. Sembari tertunduk, dia berharap agar pandemi COVID-19 segera berlalu. ’’Sampai hari ini masih normal aja. Belum ada imbauan dari petugas satpol PP. Kita buka biasa aja,’’ katanya.

Namun untuk mengantisipasi PSBB, Dedi sudah membatasi jumlah kursi di warteg miliknya. ’’Udah antisipasi aja sih, kursi sudah kita kurangi. Karena PSBB pertama paling banyak 2 orang. Dulu ada pengalaman, petugas menemukan ada 3 pembeli makan di tempat, 1 orang disuruh keluar. Jadi PSBB pembeli makan di tempat tidak boleh lebih dari 2 orang,’’ ucapnya.

Hal sama dirasakan Dewi Harja. Pemilik usaha warteg ini menuturkan, masa PSBB transisi usahanya mulai ramai. Dalam sehari dia bisa memasak beras hingga 20 Kg. Perempuan genap berusia 40 tahun ini mulai membuka usahanya sejak pagi hari.

’’Kita mulai masak sejak pagi-pagi sekali. Dini hari kita sudah belanja dan langsung menyiapkan menu-menu makanan,’’ ujarnya.

Sejak pagi Dewi sudah terlihat sibuk melayani pelanggannya. Tidak sedikit pelanggan menyantap makanan di tempat. Dan, tidak sedikit pembeli memesan nasi bungkus untuk dibawa pulang atau dibawa bekerja. ’’Kalau dibandingkan sebelum Corona, omzetnya turun sampai 50 persen,’’ kata Dewi.

Tidak berbeda jauh usaha Dewi dengan usaha warteg milik Dedi. Hingga Senin siang, menurut Dewi belum ada imbauan resmi dari petugas satpol PP untuk membatasi jumlah pembeli atau menutup usahanya. ’’Masih normal sih, kita hari ini jualan biasa aja. Belum ada imbauan resmi dari petugas satpol PP,’’ ungkap Dewi.

Di tempat terpisah, Walikota Jakarta Barat Uus Kuswanto mengatakan, akan serius mengawal pelaksanaan PSBB di DKI Jakarta. Apalagi wilayah Jakarta Barat masuk zona merah dengan angka penderita COVID-19 cukup tinggi. ’’Kita akan serius menerapkan PSBB. DKI sudah zona merah, masyarakat harus taat mengikuti protokol kesehatan,’’ katanya.

Uus mengaku telah berkoordinasi dengan TNI dan Polri untuk menegakkan PSBB. Sejumlah check point diberlakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19. ’’Kita akan tegas pada setiap pelanggaran PSBB. Ini tujuannya untuk kepentingan bersama. Dan semua unsur harus terlibat termasuk di dalamnya masyarakat dengan mematuhi PSBB. Kalau tidak penting sekali, sebaiknya di rumah saja,’’ ujarnya. (nas)



Apa Pendapatmu?