Alexa Metrics

Potensi Ekonomi Digital Capai USD133 Miliar

Potensi Ekonomi Digital Capai USD133 Miliar Masyarakat Indonesia sangat akrab dengan berbagai aktivitas di media sosial. (Foto: Adrianto/INDOPOS)

indopos.co.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan, potensi ekonomi digital di Indonesia mencapai USD133 miliar. Sehingga pemerintah akan terus mendorong transformasi digital.

”Potensi yang bisa tersedia di Indonesia di sektor digital sebesar USD133 miliar dan untuk ASEAN USD300 miliar. Oleh karena itu, revolusi industri 4.0 terus didorong,” katanya dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa (15/9).

Dia menjelaskan, Indonesia mempunyai modal cukup besar dalam melakukan transformasi digital dan merealisasikan potensi tersebut. Sebab, terdapat 180 juta penduduk yang mampu mengakses internet.

Kemudian, dari 180 juta penduduk itu sebanyak 150 juta orang merupakan pengguna internet aktif. Sebanyak 105 juta orang di antaranya adalah pengguna layanan online.

Tak hanya itu, dia menjelaskan, dari total 83.218 desa terdapat 70.670 desa atau 84,92 persen yang menerima atau dapat mengakses layanan jaringan 4G. ”Sebanyak 320 persen dari populasi kita juga merupakan generasi Y atau yang berumur 20 sampai 39 tahun,” ujarnya.

Airlangga memastikan pemerintah akan terus mendorong pengembangan infrastruktur digital seperti perluasan jaringan 4G kepada 12.548 desa yang belum terjangkau. ”Terutama program 3T yaitu tertinggal, terdepan, terluar ada 9 ribu desa,” janjinya.

Sementara itu, satelit multifungsi SATRIA juga dipastikan akan mulai beroperasi pada 2023 sehingga mampu menjadi penyambung 150 ribu titik dari sekolah, pemda, fasilitas kesehatan, dan K/L. ”Berikutnya persiapan 5G di mana akan disiapkan bertahap dan uji coba prioritasnya di kawasan yang mau revolusi industri keempat atau kawasan terintegrasi,” terangnya lagi.

Dirinya berharap, melalui reformasi industri dan transformasi digital ini bisa menjadi enabler pemulihan ekonomi nasional dan penguat fondasi perekonomian untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. ”Enabler transformasi ekonomi untuk keluar dari middle income trap yang memerlukan pertumbuhan mencapai 5,7 persen sampai 6 persen,” ulasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luky Alfriman menyatakan, pemanfaatan teknologi digital dapat meningkatkan produktivitas masyarakat saat aktivitasnya terbatas akibat pandemi COVID-19. ”Kuncinya adalah tantangan buat kita semua dalam kondisi pandemi bagaimana tetap bisa produktif dengan segala keterbatasan tadi,” katanya dalam diskusi daring di Jakarta, terpisah, sebelumnya.

Dia menilai, kemajuan teknologi digital membuat dirinya bisa menghadiri dua rapat dalam satu waktu dengan menggunakan perangkat yang berbeda. ”Jadi kita bisa rapat dengan dua laptop atau iPad jadi banyak yang bisa kita tangani,” ujarnya.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Ayo Belajar sekaligus alumi Universitas Harvard Nadhira Nuraini Afifa menuturkan, rapat virtual turut meningkatkan kontribusi para peserta rapat dalam memberikan saran atau kritik.

”Peserta rapat bisa jadi lebih berkontribusi karena biasanya kalau virtual kan mukanya kelihatan semua,” ujarnya di kesempatan yang sama. Sedangkan Pianis Jazz Indonesia Joey Alexander menambahkan, teknologi digital memberikan pengalaman baru, yaitu dengan digelarnya konser secara virtual sehingga lebih banyak orang yang bisa menikmati.

”Ini luar biasa festivalnya dan belum pernah terjadi. Jadi saya sebagai musisi bisa merasakan sharing mengenai musik melalui virtual. Meskipun tanpa penonton secara fisik, tapi mereka hadir di rumah masing-masing,” ujarnya senang. (dew)



Apa Pendapatmu?