Alexa Metrics

Kinerja Ekspor di Tengah Pandemi COVID-19, Biaya Logistik Harus Lebih Kompetitif

Kinerja Ekspor di Tengah Pandemi COVID-19, Biaya Logistik Harus Lebih Kompetitif Pelabuhan Tanjung Priok menjadi tempat bongkar muat ekspor impor. (Foto: Adrianto/INDOPOS)

indopos.co.id – Pemerintah didorong untuk peningkatan kinerja ekspor demi percepatan pemulihan ekonomi nasional di tengah Pandemi COVID-19. Percepatan ekspor juga diharapkan mampu mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negara maju pada 2045 mendatang.

”Pemerintah Jokowi hanya perlu fokus pada peningkatan ekspor. Karena ekspor akan menghasilkan turunan yang banyak,” ujar Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Agus Herta Sumarto di Jakarta, Selasa (15/9).

Dia merinci, upaya peningkatan ekspor akan berdampak baik pada peningkatan kualitas produksi oleh industri dalam negeri. Mengingat, pelaku industri akan terpacu untuk menghasilkan produk yang sesuai standar ekspor.

Selain itu, kebijakan peningkatan ekspor juga diyakini akan mendorong terwujudnya biaya logistik yang lebih kompetitif. Sebab ia menilai biaya logistik dalam negeri saat ini masih belum kompetitif, sehingga dinilai memberatkan pelaku ekspor.

Menurutnya, upaya menggenjot kinerja ekspor juga akan mendongkrak capaian devisa negara. Mengingat transaksi penggunaan mata uang asing kian melonjak pada aktivitas ekspor.

”Untuk itu, kalau kita menekankan strategi peningkatan ekspor. Maka peningkatan pada sektor industri akan membuat devisa meningkat akibat transaksi penggunaan mata uang asing,” sebutnya.

Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto mengaku memiliki tujuh strategi untuk meningkatkan ekspor di masa Pandemi COVID-19. ”Strategi peningkatan ekspor yang dilakukan Kemendag saat ini adalah dengan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) ekspor melalui pendidikan dan pelatihan, coaching program, pengembangan kurikulum dan metode diklat, serta promosi dan kerja sama diklat ekspor,” bebernya.

Kedua, pengembangan pasar dan informasi ekspor dengan menyebarkan informasi pasar ekspor, penyusunan data dan informasi ekspor, maupun pelayanan terhadap pelaku usaha, serta pembuatan aplikasi digital marketing. Ketiga, pengembangan produk ekspor dengan meningkatkan peran Indonesia Design Development Center (IDDC), pengembangan merek produk ekspor, dan diperlukan senter mengembangkan produk ekspor, jasa serta ekonomi kreatif.

Selanjutnya, strategi keempat yakni pengembangan promosi dan citra, yang terdiri dari promosi dagang luar negeri misi dagang dan pameran, promosi produk potensi ekspor, dan pencitraan produk ekspor.

”Kelima, kerja sama pengembangan ekspor sektor-sektor strategis serta pemanfaatan perdagangan jasa, aktivasi Kerjasama pengembangan ekspor,” ujarnya. Keenam, perwakilan perdagangan atase perdagangan (ATDAG) maupun Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) dapat turut berkontribusi dengan laporan peluang pasar promosi dagang, serta komunikasi dengan instansi K/L terkait di negara akreditasi, serta asosiasi maupun pelaku usaha.

”Dan yang terakhir adalah dengan dukungan penyediaan modal kerja bagi UKM siap melakukan ekspor, dengan menginisiasi insentif fiskal bagi usaha skala menengah yang akan melakukan kegiatan ekspor melalui pengalokasian dana PKE yang disalurkan melalui LPEI (Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia),” tuntasnya.

Dukungan pemerintah juga terlihat dengan terbitnya Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 372 dan KMK 08/2020 tentang Penugasan Khusus Kepada LPEI Dalam Usaha Mendukung Sektor Usaha Kecil Menengah Berorientasi Ekspor. ”Melalui LPEI kita melakukan penugasan khusus untuk meningkatkan ekspor untuk UMKM tersebut. Secara konkret pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan kita bekerjasama dengan Kementerian lain, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kemenparekraf, Kementerian Koperasi dan UMKM,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan Risiko Kementerian Keuangan Lucky Alfirman.

Dia menjelaskan, tujuan diterbitkannya KMK ini adalah untuk membantu UMKM yang berorientasi ekspor agar mendapatkan modal kerja ataupun investasi. Supaya mampu meningkatkan daya saing dalam kancah nasional maupun internasional.

”Dari sisi platformnya nanti akan ada dua untuk usaha kecil sebesar Rp500 juta-Rp2 miliar, usaha menengah Rp2 miliar-Rp15 miliar. Dana kredit maksimal 5 tahun sedangkan kredit investasi diberikan minimal 3 tahun itu syarat umumnya,” paparnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Juni tercatat surplus USD1,27 miliar. Surplus terjadi karena nilai ekspor lebih besar dari impor.

Kepala BPS Suhariyanto merinci, ekspor Indonesia per Juni 2020 mencapai USD12,03 milar. Sedangkan impor selama Juni adalah USD10,76 miliar, naik 27,56 persen dibanding Mei 2020.

“Peningkatan tinggi terjadi di impor non migas. Namun ekspor masih cukup positif,” ungkapnya.

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Juni 2020 terhadap Mei 2020 terjadi pada mesin dan perlengkapan elektrik sebesar USD197,2 juta (39,39 persen). Sedangkan penurunan terbesar terjadi pada besi dan baja sebesar USD42,6 juta (16,74 persen).

”Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari-Juni 2020 turun 0,41 persen dibanding periode yang sama tahun 2019. Demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya turun 20,71 persen, sementara ekspor hasil pertanian naik 9,60 persen,” paparnya. (dew)

Pasar Amerika Selatan Bergerak Positif

Sejumlah negara di kawasan Amerika Selatan dinilai memiliki prospek yang baik sebagai pasar ekspor oleh pebisnis Tanah Air. Negara-negara seperti Argentina, Paraguay, dan Uruguay dianggap tepat untuk dijadikan target utama untuk kegiatan ekspor saat ini.

Dalam pemaparan Duta Besar Republik Indonesia untuk Argentina merangkap Paraguay dan Uruguay Niniek Kun Naryati mengungkapkan, tren ekspor Indonesia ke Argentina dan Paraguay tercatat bergerak positif secara tahunan pada 2019 lalu.

Hanya ekspor ke Uruguay yang bergerak negatif.

Tahun lalu, nilai ekspor Indonesia ke Argentina mencapai USD292 juta pada 2019, naik dibandingkan tahun sebelumnya, yakni USD213 juta. Sementara Paraguay, ekspor Indonesia ke negara tersebut pada tahun yang sama senilai USD18,6 juta. Naik dari tahun sebelumnya, yakni USD15,3 juta.

Sampai dengan Juni 2020, ekspor Indonesia ke Argentina tercatat senilai USD127 juta, ekspor ke Paraguay USD5,7 juta, sedangkan Uruguay hanya USD1,5 juta.

Mengacu kepada angka-angka tersebut, nilai ekspor Indonesia ke Argentina, Paraguay, dan Uruguay cenderung menurun seiring dengan berlangsungnya pandemi virus corona (COVID-19). “Di Argentina, sedang terjadi krisis. Berdasarkan kondisi terkini, negara tersebut tengah mengalami sejumlah masalah mulai dari krisis ekonomi, hutang luar negeri dan IMF, depresiasi peso Argentina, hingga capital control,” ujar Niniek.

Pemerintah, kata Niniek, dapat mengekspor produk-produk farmasi, suku cadang, dan karet sebagai bahan baku pendukung industri nasional Argentina. Kemudian, mengakuisi pangsa pasar industri lewat ekspor produk seperti alas kaki, timah, dan produk kimia.

Selain itu, pemerintah dapat memaksimalkan industri strategis negara-negara tersebut lewat ekspor produk-produk aeronautika, infrastruktur, perkapalan, security printing. Sebagai informasi, sampai dengan Juni 2020, ekspor Indonesia ke Argentina terdiri atas produk seperti alas kaki, karet, barang elektronik, mesin mekanik, dan serat kain. Kemudian ke Paraguay, terdiri atas alat berat, karet, plastik, mesin mekanik, alas kaki. Sementara ke Uruguay, terdiri atas filamen, tekstil, alas kaki, karet, dan mebel. (dew)



Apa Pendapatmu?