Alexa Metrics

Belajar Jarak Jauh Tanggung Jawab Kolektif

Belajar Jarak Jauh Tanggung Jawab Kolektif Debby Kurniawan

indopos.co.id – Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) harus menjadi tanggung jawab bersama. Butuh penanganan serius agar PJJ tidak berdampak negatif kepada anak. Berikut petikan wawancara INDOPOS bersama Anggota Komisi X DPR Fraksi Demokrat Debby Kurniawan.

Dampak PJJ yang selama ini dikhawatirkan terjadi. Peserta didik berinisal KS, kelas 1 SD di Banten meninggal setelah dianiaya ibunya. Apa tanggapan anda atas kasus itu?

Saya turut berduka atas meninggalnya KS. Sangat miris. Pandemi COVID-19 tidak sekadar merontokkan perekonomian, tapi juga pendidikan anak-anak. Kasus itu harus menjadi perhatian semua pihak. Khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Kasus itu harus menjadi catatan merah Kemdikbud. Sejak awal penerapan PJJ, kami sudah meminta ada evaluasi menyeluruh. Evaluasi gunanya untuk apa? Supaya Kemdikbud memetakan sejauhmana program PJJ berjalan. Dan bisa mencari solusi dari semua kendala pelaksanaan PJJ. Tidak dipungkiri banyak kendala dikeluhkan guru, siswa, dan orangtua.

Lalu seperti apa PJJ yang ideal?

Harus digarisbawahi, PJJ tidak mempersulit siswa untuk mendapatkan layanan pendidikan. Karena, semua sudah diatur dalam UUD 45. Penyelenggaraan pendidikan dilakukan negara. Dan, itu menjadi hak asasi warga negara Indonesia. Sejak awal, PJJ menemui banyak kendala. Mulai keterbatasan infrastruktur jaringan internet, pulsa mahal, dan kurikulum belum mendukung.

Jaringan internet banyak dikeluhkan siswa pinggiran atau daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Bahkan masalah jaringan juga dirasakan siswa perkotaan.

Lalu, siapa yang berperan penting dalam PJJ untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak?

Seluruh stakeholder dan masyarakat. Guru, orang tua, dan siswa harus paham betul apa PJJ. Sejak awal, sosialisasi program ini minim. Banyak guru tidak paham atau gagap teknologi (gaptek) kesulitan mengikuti PJJ. Tidak terkecuali orangtua dan siswa selama belajar di sekolah. Peran orang tua sangat krusial pada PJJ. Wali murid menjadi pendamping bagi siswa.

Orang tua harus dituntut bisa menggantikan peran guru untuk mengajar di rumah. Paling penting komunikasi dua arah antara guru dan orang tua. Itu untuk mengurai setiap masalah atau kendala yang dihadapi siswa saat PJJ.

Orang tua dituntut mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Tujuannya, agar anak tidak bosan dan jenuh selama PJJ. Komunikasi dua arah tadi memungkinkan guru melakukan transfer kemampuannya kepada orang tua. Setiap masalah siswa bisa menjadi koreksi dan evaluasi bagi guru untuk mengajar pada PJJ.

Kurikulum sangat menentukan hasil pendidikan. Menurut anda apakah kurikulum yang diterapkan pada PJJ sudah berhasil?

Kemampuan kompetensi siswa pada PJJ berbeda dengan pembelajaran normal. Untuk itu, penting dilakukan penyederhanaan kurikulum. Dengan tidak mengurangi kompetensi dasar hingga kompetensi inti siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan pula guru yang inovatif. Tidak melulu memberikan tugas kepada siswa dalam jumlah banyak setiap hari. Tetapi bagaimana bisa menciptakan belajar PJJ menyenangkan.

Karena, beban kompetensi dasar besar bisa berdampak pada psikologi siswa dan orang tua. Saat anak bosan dan jenuh dengan tugas dari guru, kerap menyebabkan orang tua kesal dan marah. Faktor tekanan ekonomi pada masa Pandemi COVID-19 juga mempengaruhi psikologis orang tua. Tidak sedikit menyebabkan orang tua melakukan tindak kekerasan fisik pada anak.

Pendidikan semestinya menciptakan generasi kompeten di masa depan malah berakhir tragis. Itu karena sistem pendidikan gagal. (nas)



Apa Pendapatmu?