Pelari Agus Prayogo Siap Kejar Prestasi Lagi saat Pandemi Berakhir

indopos.co.id – Pandemi virus corona baru (COVID-19) melumpuhkan aktivitas masyarakat Indonesia dalam dua bulan terakhir, tak terkecuali atlet. Namun, mereka tetap melakukan latihan ringan meski dirumahkan.

Pelari nasional Agus Prayogo, misalnya, mengaku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Pemusatan latihan daerah (Pelatda) Jawa Barat disetop selama pandemi. Pemulangan atlet juga dilakukan seiring penundaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 Papua -yang seharusnya bergulir 20 Oktober-2 November tahun ini- hingga Oktober 2021.

Agus bergabung dengan Pelatda Jabar sejak awal tahun. Ia fokus berlatih di daerah setelah membela Indonesia di SEA Games 2019 Filipina, 30 November-11 Desember. Atlet berusia 34 tahun ini mempersembahkan emas pada nomor maraton dan medali perak pada nomor 10.000 m.

Sebelum pandemi, Agus biasanya berlatih di Pengalengan. Ia hanya menghabiskan waktu di rumahnya di Bandung  pada akhir pekan.

Agus berusaha mengambil hikmah dari pandemi. Selama ini, ia selalu sibuk dengan kegiatan mengejar prestasi. Kini, ia merasa diminta untuk beristirahat dan bisa fokus menghabiskan waktu bersama keluarga.

“Dengan pandemi, ini mungkin waktunya istirahat untuk sementara, kemudian ketika pandemi berakhir, kita (atlet) kembali lagi mengejar prestasi,” kata Agus. “Kami dipulangkan sejak pandemi,

sehingga lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.”

Kebahagiaan menghampiri Agus di tengah pandemi. Sang istri Herlina Dewi Adita sedang hamil tua pada awal masa pandemi. Alhasil, ia bersyukur bisa mendampingi proses kelahiran anak kedua.

Agus sempat waswas ketika mendampingi sang istri. Ia harus memilih lokasi lahiran yang benar-benar steril dari COVID-19. Ia akhirnya memilih salah satu rumah sakit ibu dan anak di Bandung.

“Sebelum lahiran, istri juga diuji (COVID-19). Alhamdulillah negatif. Proses lahiran normal pada 2 Mei. Dia hanya dirawat di rumah sakit selama tiga hari,” ujar Agus.

“Dengan lebih banyak waktu di rumah, bisa fokus mengurus keluarga selama 24 jam. Saya bisa mengantar istri ketika lahiran, bisa mendampingi, hingga sekarang berkumpul dan menjaga keluarga.”

Agus tetap menjaga fisik meski tidak bisa ke tempat pelatihan. Ia melakukan latihan ringan di dalam. Dengan begitu, kondisinya tak terlalu menurun selama pandemi.

Sementara itu, perasaan campur aduk juga melanda petinju nasional Daud Yordan. Ia dikaruniai anak kedua, setelah sang istri Angela Megaria Panuda melahirkan di tengah pandemi COVID-19.

Cino -sapaan karib Daud- menceritakan sang istri masuk Rumah Sakit Bersalin Fatimah di Kabupaten Ketapang, 18 April. Letaknya 100 km dari rumahnya di Kayong Utara. Namun, operasi cesar baru dilakukan sehari kemudian. Ia dan keluarga bisa pulang, 21 April.

“Saya bersyukur bisa mendapat putra kedua dalam kondisi sehat di tengah masa pandemi. Ada kekhawatiran karena harus berhubungan dengan rumah sakit,” kata Cino.

Kini, Cino menghabiskan waktunya bersama keluarga. Ia bahkan membantu sang istri mengurus putra keduanya. Menurutnya, ini menjadi pengalaman tak ternilai karena ia benar-benar merasakan peran sebagai orangtua.

“Kondisi anak kedua ini sepenuhnya dengan saya dan istri di rumah, dari lahir hingga sekarang. Ketika anak pertama, saya masih belajar, jadi dibantu mertua,” ujar Cino.

“Sekarang mertua tidak dilibatkan. Setiap malam saya harus bangun, ganti popok, buatkan susu, dan kadang menenangkannya ketika rewel atau nangis.”

Kelahiran putra kedua sekaligus menjadi penghibur Cino. Pandemi COVID-19 membuatnya batal naik ring.

Ia dijadwalkan melawan petinju Jepang di Marina Bay, Singapura, 16 April. Namun, pertarungan ditunda. Pihak tuan rumah enggan mengambil risiko menggelar acara di tengah pandemi.

“Saya hanya beraktivitas seperti biasa pascapertarungan ditunda hingga waktu belum ditentukan. Saya berlatih di kampung halaman untuk menjaga kondisi sembari menunggu jadwal ulang yang disusul manajemen,” kata Cino.

Cino berharap pandemi segera berlalu. Dengan begitu, masyarakat bisa kembali beraktivitas normal dan bekerja. Ia berusaha menjadi contoh anak-anak muda di kampung halamannya, karena mayoritas dari mereka tak menghiraukan arahan pemerintah. “Kalau ada contoh, harapannya mereka bisa mengikuti,” ujarnya.

Situasi berbeda dihadapi perenang nasional Triady Fauzi Sidiq. Ia menjalani akad nikah dengan pasangannya Alfy Fauzia Azmi di Ciater, 4 April. Pernikahan ini di luar jadwal yang direncanakan.

Triady mengatakan, akad awalnya dijadwalkan pada 11 April. Namun, pihak Kantor Urusan Agama (KUA) meminta acara dimajukan dan hanya boleh dihadiri 10 orang.

“Saya lebih waswas kalau tidak jadi nikah, karena berita-berita di sana banyak yang gagal pernikahan. KUA juga mengatakan akad hanya bisa dilakukan, tapi tidak dihadiri melebihi 10 atau 15 orang. Kalau mau tetap dijalankan harus pakai masker dan sarung tangan,” kata Triady.

“Awalnya sempat tidak menerima karena hanya akad, tapi tidak ada resepsi. Akhirnya terima saja. Resepsi ditunda, menunggu pandemi berakhir. Baru diatur lagi jadwalnya.”

Triady berharap pandemi berakhir, sehingga bisa berkunjung ke sanak saudara. Ia juga ingin melakukan bulan madu dengan sang istri, karena rencananya masih tertunda.

Triady menjelaskan, aktivitas selama pandemi hanya sekadar latihan ringan. Ia pergi ke kolam renang di dekat rumah. Namun, program latihannya satu sesi, ditambah dry land dan latihan fisik.

“Sekarang tidak bisa ke mana-mana. Keluar rumah juga tidak bisa jauh,” kata Triady.

Menurut Triady, salah satu hal dirindukan adalah melakukan touring bersama komunitas renang. Ia biasa mengendarai vespa. “Sekarang hanya dipanaskan. Kalau dipakai, hanya ke kolam renang dekat rumah. Itu juga tidak sampai lima menit,” katanya. (*)

 

 

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.