Alexa Metrics

PDB Indonesia Akan Tumbuh 6,2 Persen pada 2021

PDB Indonesia Akan Tumbuh 6,2 Persen pada 2021 Tutup – Ilustrasi. Pertokoan di Plaza Semanggi, Jakarta, yang tutup karena dampak COVID-19. Foto: Istimewa

indopos.co.id – Pandemi COVID-19 membuat kawasan Asia Tenggara mengalami perlambatan pertumbuhan terbesar sejak krisis moneter Asia di pada 1997. Laju pertumbuhan di kawasan diperkirakan menyusut sebesar 4,2 persen pada tahun ini.

Perhitungan ini dipaparkan dalam laporan bertajuk Global Economic Outlook report dari Oxford Economics, yang diterbitkan oleh badan akuntan ICAEW. Laporan tersebut memperlihatkan, meski aktivitas ekonomi berangsur normal kembali dengan pertumbuhan diperkirakan akan pulih menuju angka 6,4 persen di 2021, laju pemulihan ekonomi selama paruh kedua pada 2020 akan bervariasi di kawasan Asia Tenggara. Hal ini bergantung pada pelonggaran kebijakan pembatasan sosial dan peningkatan permintaan ekspor masing-masing negara.

Laporan ini menjadi topik utama diskusi di Forum Ekonomi Internasional yang diselenggarakan oleh ICAEW, di mana para pemimpin industri membahas tentang perkiraan pertumbuhan ekonomi di kawasan Timur Tengah, Tiongkok dan Asia Tenggara.

”Jalan menuju pemulihan ekonomi di Asia Tenggara akan panjang, ditambah dengan ketegangan AS-Tiongkok saat ini, perlambatan jangka panjang dalam aktivitas perdagangan global, dan pandemi COVID-19 yang berkepanjangan turut membebani prospek pertumbuhan kawasan ini,” ungkap Direktur Regional ICAEW, Tiongkok Raya, dan Asia Tenggara Mark Billington, di Jakarta, Kamis (17/9/2020).

Menurutnya, di Indonesia sendiri, jumlah kasus COVID-19 terus meningkat sehingga laju pemulihan ekonomi diperkirakan akan melambat. PDB Indonesia diperkirakan akan menyusut sebesar 2,7 persen pada pada 2020 sebelum nantinya akan tumbuh sebesar 6,2 persen pada pada 2021. Sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar di kawasan ASEAN, proses pemulihan Indonesia akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi kawasan secara keseluruhan.

Kawasan Asia Tenggara menunjukkan kecepatan pemulihan yang bervariasi pada paruh kedua 2020. Untuk memastikan kebangkitan ekonomi di seluruh kawasan, sangat penting bagi negara-negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN, seperti Indonesia, Singapura, Filipina dan Malaysia, untuk melakukan pemulihan yang stabil.

Namun, tingkat keberhasilan yang berbeda-beda dalam mengatasi wabah COVID-19, dan kebijakan pelonggaran pembatasan sosial yang juga bervariasi akan memperbesar disparitas dalam pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.

Sebagai negara dengan jumlah kasus terbesar di wilayah ASEAN, Filipina diperkirakan akan mencatat kontraksi terbesar, dengan PDB turun 8,2 persen pada 2020. Hal ini dikarenakan ketergantungan ekonominya pada pariwisata internasional dan keterlambatannya dalam menerapkan pelonggaran kebijakan pembatasan sosial.

Sementara itu, pertumbuhan di Singapura diperkirakan akan menyusut sebesar 5,7 persen pada ini karena penurunan tajam dalam perdagangan global. Akan tetapi, tanda-tanda pemulihan ekspor dan impor akan membuat angka pertumbuhan naik ke 6,1 persen pada pada 2021.

Laporan tersebut juga memperkirakan bahwa Vietnam memiliki prospek pemulihan ekonomi yang paling cerah dengan situasi di mana mereka telah berhasil mengatasi pandemi dengan sangat efektif hingga saat ini. Vietnam diharapkan menjadi satu-satunya ekonomi kawasan yang dapat mencatat pertumbuhan positif pada ini dengan PDB naik sebesar 2,3 persen pada ini dan 8 persen pada 2021.

Ekspor Malaysia diprediksi akan diuntungkan dari peningkatan permintaan impor Tiongkok dan siklus elektronik. Meskipun demikian, kecepatan pemulihannya kemungkinan akan melambat mengingat permintaan global yang sedang lesu, pengangguran yang tinggi, serta investasi yang lemah. Ekonomi Malaysia diperkirakan akan menyusut sebesar 6 persen pada ini, diikuti oleh pertumbuhan 6,6 persen pada pada 2021.

”Meskipun ekonomi setiap negara menderita akibat krisis, struktur ekonomi kawasan ASEAN yang unik menunjukkan bahwa krisis telah memberikan dampak yang berbeda di setiap negara. Pada akhirnya, negara-negara yang berhasil mengendalikan wabah dan kembali melanjutkan aktivitas ekonomi mereka akan dapat bangkit lebih cepat daripada negara lain di kawasan ini,” tambah Mark.

Pandemi COVID-19 juga turut mengurangi PDB global sebanyak sekitar sembilan persen di paruh pertama pada 2020, setidaknya 3 kali lipat dari krisis keuangan di pada 2007-2009. Laporan yang sama juga memaparkan bahwa meskipun terjadi pemulihan di kuartal ke-3 sebesar 6,4 persen, PDB global diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar 4,4 persen di pada 2020 secara keseluruhan.

Namun, terdapat momentum positif di paruh kedua pada 2020, yang akan turut mendorong pertumbuhan ekonomi global ke angka 5,8 persen di pertengahan pada 2021, kembali ke titik awal pertumbuhan ekonomi sebelum pandemi. Jangka waktu pemulihan ini mirip dengan masa pemulihan pasca-krisis keuangan 2008. (dni)



Apa Pendapatmu?