Masa Depan Bisnis Franchise, Pasar Lokal Tetap Potensial

indopos.co.id-Banyak orang memilih membuka usaha pertama menggunakan model franchise (waralaba). Alasannya sederhana, lebih mudah menembus pasar, karena nama produk sudah dikenal.

Istilah waralaba yaitu ketika seseorang memberi hak pemanfaatan untuk menjual produk atau jasa maupun layanan kepada penerima waralaba. Bisnis waralaba dinilai lebih minim risiko kerugian.

Namun, era Pandemi COVID-19  sejumlah bisnis franchise juga ikut terpukul. Terutama waralaba resto, hotel, theme park, travel, dan pendidikan.

Bank Indonesia (BI) juga telah melakukan survei terhadap 3.719 pelaku usaha yang tersebar di seluruh Indonesia. Hasilnya, terjadi penurunan kegiatan dunia usaha di kuartal I-2020 selama pandemi.

Namun demikian, ada juga yang tak terdampak, bahkan menemukan momentumnya. Seperti, franchise kesehatan, APD, apotek, serta makanan-minuman kesehatan yang dianggap mampu meningkatkan imunitas.

”Kondisinya seperti itu. Ada yang terdampak, ada yang menemukan momentum,” ujar  Ketua Asosiasi Lisensi Indonesia (ASENSI) Susanty Widjaya, belum lama ini.

Wanita yang juga Sekjen Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) ini merupakan pemilik sejumlah waralaba, satu diantaranya adalah Bakmi Naga dan Mie Batavia. Sebagai industri yang terkena dampak (resto), dia mengakui situasi bisnis saat ini tidak mudah.

Seperti bisnis lain, pelaku jaringan franchise juga harus benar-benar memikirkan strategi yang tepat dalam hal pengelolaan operasional dan branding. Dalam urusan pengelolaan operasional, selain tetap harus menjaga cash flow, mereka juga mesti menjaga ritme bisnisnya.

Untuk bisa survive, revival, dan tetap tumbuh (grow), produk atau layanan tetap mesti bisa diserap pasar agar bisnis tak ambruk. Itu artinya bisnis tetap harus jalan.

Salah satu hal penting yang juga dilakukan dalam urusan operasional adalah mengelola hubungan, kolaborasi, dan kemitraan yang makin erat antara franchisor (pemberi waralaba) dan franchisee (penerima waralaba). ”Dalam kondisi seperti ini, kita harus seperti keluarga. Saya sebagai franchisor harus maintain hubungan yang empatik dengan para franchisee,” jelasnya.

Kini, lanjutnya, dengan para franchisee-nya, dia melakukan beberapa hal untuk bisa survive. Pertama, sharing inovasi.

Kepada para franchisee diberikan resep atau produk baru menyiasati pandemi seperti produk ready to serve dan bakmi siap rebus. ”Inovasi ini merupakan cara baru menghadapi perubahan perilaku dan protokol kesehatan di mana layanan dine-in berkurang,” tuturnya.

Kedua, menjaga morale para franchisee dengan cara komunikasi yang kontinyu. Ketiga, memberi keringanan kepada fanchisee seperti royalty fee dan biaya marketing.

”Sebab saya juga merasakan kesulitan mereka. Kami ada di perahu yang sama. Intinya, untuk survive dibutuhkan kolaborasi yang erat antara franchisor dan franchisee,” ucapnya bijak.

Di samping pengelolaan operasional yang tetap prima, tambahnya, pelaku franchise juga tetap harus menjaga brand-nya. Banyak hal bisa dilakukan untuk mem-branding merek franchise. Tapi intinya akan kembali untuk memenangkan pikiran juga hati para pelanggannya.

Di luar kondisi yang sulit ini, Susan juga mengarahkan bisnisnya ke go digital. Mereka bukan hanya meluaskan pasar ke kanal e-commerce, juga makin payless demi meminimalkan sentuhan fisik.

”Jadi, ini memang berkahnya. Dan seperti dinyatakan Jack Ma, never give up. Akan ada sinar matahari di tengah suasana mendung ini,” imbuhnya.

Untuk mendorong kembali pertumbuhan bisnis franchise, Dyandra Promosindo bekerja sama dengan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) dan Asosiasi Lisensi Indonesia (ASENSI) mengadakan pameran lisensi dan waralaba bertajuk “The 18th Indonesia Franchise, License and Business Concept Expo and Conference (IFRA) 2020″. Ini adalah kali pertama digelar pameran secara virtual 18–20 September 2020 mendatang melalui IFRA Virtual Platform.

Presiden Direktur Dyandra Promosindo Hendra Noor Saleh mengatakan, pameran IFRA yang awalnya akan dilaksanakan secara offline berganti menjadi pameran virtual dengan mempertimbangkan situasi saat ini. ”Pameran ini diharapkan dapat dijadikan momentum untuk kembali mendorong perdagangan dan perekonomian nasional,” ujarnya belum lama ini.

Meski dilakukan secara virtual, kata dia, para pengunjung tetap dapat berinteraksi dengan peserta pameran melalui platform yang telah disediakan. Dirinya mengatakan, pameran virtual ini merupakan platform yang efektif dan efisien bagi para pelaku usaha, franchisor dan licensor untuk bertemu dengan calon franchisee dan licensee yang potensial.

Dia mengatakan, lewat pameran virtual ini, pengunjung dapat mengakses pameran IFRA dengan waktu dan tempat yang fleksibel, bahkan dapat juga diakses melalui smartphone. ”Di IFRA Virtual Expo 2020, pengunjung dapat mengakses dan melihat profil para peserta pameran secara mudah dan fleksibel. Pengunjung yang tertarik untuk mencari informasi lebih lanjut dan transaksi bisnis dapat menjadwalkan one-on-one business matching,” tambahnya.

Para pengunjung juga dapat menyaksikan virtual business presentation dari para pelaku usaha mengenai lini bisnisnya. Tersedia lebih dari 60 peserta pameran dari berbagai ragam industri dan tingkat bisnis dari mikro, kecil, hingga menengah di IFRA Virtual Expo 2020.

Sementara itu, Ketua Umum AFI Anang Sukandar menambahkan, bisnis waralaba dan lisensi tetap diminati hingga saat ini. Hal ini karena memiliki keunikan tersendiri yang dapat bertahan di masa pandemi ini.

”Situasi yang kurang ideal ini tentunya memaksa pelaku usaha untuk beradaptasi. Inilah yang kami coba terapkan di IFRA dan industri waralaba dan lisensi pada umumnya. Salah satunya dengan shifting dari offline ke online,” jelasnya.

 

Waspada Iming-Iming Untung Besar

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Syailendra mengatakan, pihaknya tak ingin ada masyarakat tertipu bisnis waralaba dengan iming-iming keuntungan tak wajar. “Jadi jangan sampai kita ditawarin bisnis waralaba ikut investasi, tak tahunya yang punya waralaba belum tentu untung gitu. Nggak jelas untungnya, itu juga harus diawasi,” ucapnya dalam webinar belum lama ini.

Saat ini, kata dia, peraturan yang digunakan adalah Permendag Nomor 71 Tahun 2019 yang mengatur tentang penyelenggaraan waralaba di Indonesia. Setidaknya bisnis waralana harus ada kriteria atau sudah mempunyai keuntungan, standar pelayanan barang dan jasa yang ditawarkan juga harus jelas. Atau dituangkan dalam bentuk tertulis.

“Kita berharap teman-teman yang baru mulai menjalankan usaha, namun sudah ditawarkan sebagai duplikasi waralaba juga bisa lebih baik,” sarannya. (dew)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.