Pandemi Tak Halangi Pembayaran Ganti Rugi Proyek Tol Sercin

indopos.co.id – Pandemi COVID-19 tidak menyurutkan jajaran Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus melakukan kewajiban pengadaan lahan untuk Proyek Strategis Nasional (PSN), yakni dua pembangunan tol yang ada di wilayahnya.

Kedua proyek jalan bebas hambatan itu, tol Serpong Cinere (Sercin) yang menghubungkan Kecamatan Serpong, Kota Tangsel dengan Kecamatan Cinere, Kota Depok, dan tol Serpong-Balaraja (Serbaraja) yang menghubungkan Kecamatan Serpong, Kota Tangsel, dengan Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang.

Baca Juga :

Tol Serpong-Cinere Selesai Tahun 2021

Kepala BPN Tangsel Himsar yang memimpin penyerahan Uang Ganti Rugi (UGR) mengatakan, meski wabah corona tapi pembayaran kewajiban kepada pemilik lahan tetap dilakukan.

”Pembayaran uang ganti rugi ini hak pemilik lahan,” terangnya saat pembayaran UGR di Hotel Mercure, Alam Sutera, Kecamatan Serpong Utara.

Dia juga mengatakan, pembayaran UGR untuk 29 bidang itu dilakukan dengan protokol kesehatan COVID-19. Yakni, semua pemilik lahan yang datang sebelum masuk ke lokasi acara wajib cuci tangan, mengenakan masker, duduk menjaga jarak, dan juga mengenakan sarung tangan.

”Saya memastikan dana UGR ini halal. Saya berharap dana yang diterima bisa mengangkat harkat dan derajat pemilik lahan,” ucap Himsar.

Baca Juga :

Pelayanan New Normal

Himsar juga mengatakan, pembayaran UGR ini warga tidak dikenakan pajak apa pun termasuk BPHTB karena ini proyek negara. ”Kecuali yang berhubungan dengan kewajiban pemilik lahan seperti PBB tertunggak, pembayaran PLN dan lainnya,” papar juga mantan Kepala BPN Kabupaten Tangerang ini.

Ia juga mengatakan, setelah pemilik lahan menandatangani pelepasan hak, selanjutnya diantarkan ke bank untuk menerima ganti rugi dalam bentuk tabungan. ”Maka putuslah hubungan bapak dan ibu dengan tanah tersebut. Saya berterimakasih atas peran serta dan kepedulian warga merelakan tanahnya untuk proyek nasional dan kepentingan umum ini,” cetusnya.

Dalam pertemuan itu Himsar sedikit menyinggung tentang penetapan harga tanah. ”Penetapan harga lahan bukan dilakukan BPN tapi oleh KJPP (Kantor Jasa Penilai Publik). BPN Tangsel hanya pelaksana yang dapat tugas dari negara untuk pembebasan lahan,” paparnya juga.

Karena itu, Himsar juga mengingatkan warga tidak tergiur iming-iming dari pihak manapun.

Untuk diketahui, pembayaran UGR milik warga yang terdampak dua proyek tol itu dilakukan di aula Hotel Mercure dengan rincian, untuk UGR proyek tol Sercin berjumlah 29 bidang dengan total luas lahan 2.138 meter persegi (m2) senilai Rp26 miliar. Sedangkan untuk lahan pembebasan proyek Tol Serbaraja nilainya Rp6 miliar dengan rincian untuk dua dua bidang milik warga sebesar Rp3 miliar dan lahan milik PT Bumi Serpong Damai (BSD) yang terdampak proyek itu senilai Rp3 miliar.

Kegiatan pemberian UGR itu selain dihadiri warga pemilik lahan juga dihadiri unsur kepolisian dari Polres Kota Tangsel dan Kejaksaan Negeri Tangsel serta perwakilan Kementerian PUPR serta jajaran kelurahan dan kecamatan yang
daerahnya terdampak pembebasan lahan.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengadaan Tanah BPN Tangsel Susyono mengatakan pembebasan lahan tol Sercin diharapkan selesai pada November. ”Masih ada lahan warga yang belum dibebaskan,” terangnya kepada INDOPOS, Kamis (17/9/2020).

Dia juga mengatakan, belum selesainya pembebasan lahan karena ada perubahan beberapa trase proyek tol Sercin karena ada sengketa lahan.

Untuk proyek tol Serbaraja hanya satu kelurahan yang jadi kewenangan BPN Tangsel. ”Proyek tol Serbaraja kebanyakan masuk wilayah BPN Kabupaten Tangerang,” ujarnya juga.

Sedangkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Proyek Pembangunan Jalan Tol Serpong-Cinere, Muhamad Fajri Lukman menambahkan, progress pembebasan lahan proyek Tol Sercin berjalan sesuai jadwal. ”Pembebasan lahan Seksi 1 terealisasi sesuai target yang ditetapkan,” ujarnya.

Fahad, 35, salah satu warga Kelurahan Cilenggang, Kecamatan Serpong, pemilik 180 meter lahan yang menerima UGR proyek Tol Serbaraja mengakui harga ganti rugi yang ditetapkan di atas NJOP (nilai jual objek pajak). ”Kalau saya menerima. Tapi ada warga ingin
harga ganti rugi sesuai harga pasaran,” terangnya.

Dahlan, salah satu warga Kelurahan Sarua yang juga menerima ganti rugi, mengaku mendukung proyek jalan tol Sercin karena merupakan proyek nasional. ”Pada dasarnya kami setuju dengan harga yang ditetapkan karena di atas NJOP,” terangnya.(yas)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.