Buku Puisi Para Pendaki, Diluncurkan di Puncak Steling Kota Samarinda Kaltim

indopos.co.id – Buku antologi puisi Bisik Langit Pasak Bumi karya 58 pendaki, sebagian besar sudah diterima para penulisnya di berbagai provinsi di Indonesia. Dengan sederhana, buku inipun diluncurkan dengan cara yang berbeda-beda.

Jika di Riau sudah diluncurkan akhir pekan lalu di Puncak Tungkus Nasi, di Kalimantan Timur (Kaltim), diluncurkan dengan sederhana, Kamis (17/9/2020). Puncak di tengah Kota Samarinda dengan latar belakang Sungai Mahakam yang disebut masyarakat setempat dengan puncak Gunung Steling, menjadi lokasi peluncuran.

Baca Juga :

Peluncuran di Kota Samarinda ini digagas Aisyah Sutoro, pendaki asal Samarinda yang puisinya juga tertuang dalam buku tersebut. Selain Aisyah, dari Kaltim ada beberapa pendaki lain, seperti Dino S Putra dan Puja Anugerah Andika. Tapi, keduanya tidak bisa ikut bergabung karena berada di tempat yang saling berjauhan. Aisyah di Kota Samarinda, Dino S Putra di Kabupaten Tenggarong dan Puja Anugerah Andika di Kota Balikpapan.

Di Puncak Steling, Samarinda, Aisyah mengajak beberapa rekannya untuk turut membacakan puisi-puisi Bisik Langit Pasak Bumi sebagai tanda peluncuran. Kegiatan tersebut juga dihadiri penggagas lahirnya buku Puisi Para Pendaki yang juga Ketua Penyair Perempuan Indonesia (PPI), Kunni Masrohanti.

Baca Juga :

”Kebetulan yang punya gagasan dan hajat besar atas lahirnya Bisik Langit Pasak Bumi, Kak Kunni ada kegiatan di Kota Bontang. Kemudian saya jalin komunikasi terus dan akhirnya kami bersama-sama meluncurkan buku ini di Samarinda. Alhamdulillah semua berjalan lancar meski sangat sederhana,” kata Aisyah.

Disebutkan Aisyah, semangat menyambut lahirnya buku ini memang disepakati bersama oleh seluruh pendaki yang turut menulis puisi dalam buku tersebut dengan meluncurkan buku di daerah masing-masing, dengan cara masing-masing. Aisyah juga mengaku senang bisa terlibat dalam projek yang menurutnya mengedepankan karya dan kebersamaan tersebut.

”Ini karya yang luar biasa. Barangkali bukan puisi-puisi yang ada di dalamnya karena kami semua bukan penyaulir, tapi semangat atas lahirnya buku ini, termasuk perjuangan, kegigihan dan kreatifitas kak Kunni dan teman-teman di Rumah Sunting. Mereka berhasil mengajak saya dan teman-teman pendaki lain berliterasi menulis puisi konservasi, dapat buku gratis lagi,” sambung Aisyah.

Sementara itu, Kunni yang menyempatkan diri hadir bersama di acara peluncuran di Puncak Steling, mengaku senang melihat semangat teman-temannya tersebut.

”Literasi bukan untuk sendiri. Terima kasih teman-teman pendaki di Kaltim yang bersedia menulis puisi dan meluncurkan bersama buku ini. Semua ini disempenakan dengan perayaan Hari Puisi Indonesia 2020,yang mengusung tema Puisi Menyatukan,” kata Kunni.(art)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.