Balai Bahasa Papua Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia

indopos.co.id – Sebanyak 100 responden yang terdiri dari pelajar Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, pelajar Sekolah Menengah Atas, mahasiswa, guru, dosen, peneliti, wartawan, karyawan dan profesi lain mengikuti uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang dilaksanakan Balai Bahasa Papua.

Koordinator UKBI Balai Bahasa Provinsi Papua, Yulius Pagappong di Jayapura, Kamis (17/9), mengemukakan uji coba dinamis UKBI Balai Bahasa Papua dilaksanakan dengan tujuan menguji 2.100 soal yang ada dalam bank soal dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jakarta.

“Jadi, soal-soal ini diuji secara empiris kepada 100 responden, yang meliputi pelajar sekolah dasar kelas V, pelas Sekolah Menengah Pertama kelas dua, pelajar sekolah menengah atas kelas dua, mahasiswa, guru, dosen, peneliti, wartawan, karyawan dan profesi lain,” katanya.

Uji UKBI ini berlangsung dari 15 sampai 18 September 2020. Setiap kelompok atau profesi tadi masing-masing 10 orang. Tetapi sebelum pelaksanaan uji coba, didahului dengan webinar virtual sosialisasi tentang apa itu UKBI, materi yang ada di dalam UKBI, kemudian peringkat dan predikat yang ada dalam UKBI pada Senin, 14 September 2020 yang dipandu langsung oleh moderator dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jakarta.

“Kemudian, saya sebagai moderator di Balai Bahasa Papua,” ujar Yulius.

“Kegiatan ini berlangsung secara baik, meskipun kendala seperti jaringan internet yang sering ada dan sering tidak ada/timbul-tenggelam. Tetapi kami mengantisipasinya dengan menyediakan tetring dari ponsel sehingga bisa berlangsung dengan baik, lantaran beberapa hari ini sering hujan deras sehingga mempengaruhi jaringan internet yang kami gunakan di Balai Bahasa Papua,” lanjutnya.

Secara garis besar, uji coba dinamis UKBI ini menguji secara empiris bobot soal yang ada dalam baterei UKBI, jumlah soal yang diujikan adalah 2.100 soal untuk 100 peserta. Balai Bahasa Papua 100 peserta, Balai Bahasa yang lain ada yang 100 peserta, ada juga yang 100 lebih peserta. Tetapi Balai Bahasa Papua dikasih kuota 100 peserta.

“Semoga kuota 100 ini bisa terpenuhi besok. Hari ini empat orang teman wartawan tidak datang, kita geser ke Jumat besok untuk ikut. Saya pikir ini pengalaman berharga bagi rekan-rekan wartawan dan bagi para responden bahwa ternyata bahasa Indonesia itu sangat bertaji,” jelasnya.

Yulius mengatakan, tujuan lain dari kegiatan ini adalah memartabatkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, bahasa pengantar pendidikan, bahasa resmi dan bahasa persatuan. Lantaran, itu adalah jati diri. Tujuan berikut adalah bagimana sikap positif kita terhadap bahasa Indonesia, jangan sampai kita keinggris-inggrisan sementara bahasa Indonesia ditinggalkan, padahal kita adalah orang Indonesia.

“Oleh karena itu, kepada semua penutur jati, penutur asing, kita bisa menghargai bahasa kita,bisa memartabatkan bahasa kita. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi,” ujarnya.

Menurutnya, mengerjakan soal dalam UKBI itu sama dengan menyelesaikan tes tofel dalam bahasa Inggris, dalam UKBI itu ada lima seksi, seksi pertama adalah mendengarkan, seksi kedua merespon kaidah, seksi ketiga membaca, seksi keempat menulis dan seksi kelima berbicara.

“Nah, respoden yang kita berikan uji coba hari ini hanya sampai pada seksi ketiga yakni seksi pertama mendengarkan, seksi kedua merespon kaidah, dan seksi ketiga membaca, dengan alokasi waktu yang ada. Setelah di seksi ketiga peserta sudah langsung mengetahui sebenarnya kemahiran berbahasa Indonesia saya ada pada skor berapa dan pada peringkat berapa,” katanya.

Dalam UKBI ini, menurut dia, ada tujuh peringkat, yakni peringkat yang tertinggi itu adalah istimewa, peringkat kedua sangat unggul, peringkat ketiga unggul, peringkat keempat madya, peringkat kelima semenjana, peringkat keenam marjinal, dan tujuh terbatas.

“Setelah selesai bagi peserta, maka dengan mengklik seksi ketiga, secara otomatis muncul skor, berapa skor yang diperoleh dan ada pada peringkat ke berapa. Dengan melihat skor ini maka memacu kita untuk lebih belajar lagi tentang bahasa Indonesia dengan lebih banyak membaca buku, dan lebih banyak membaca referensi lainnya,” jelas Yulius.

Khususnya, bagi wartawan karena setiap hari bergelut dengan berita, bagaimana menyampaikan berita supaya isi berita itu sampai ke pembaca atau sampai ke masyarakat, jangan sampai mungkin pemilihan diksinya, ejaannya, mungkin kurang tepat maka bisa saja ditafsirkan lain oleh masyarakat.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Papua, Firman Susilo mengatakan sebenarnya UKBI itu adalah alat ukur tentang kemahiran berbahasa Indonesia. Bagi masyarakat tentu penting juga, kemampuan berbahasa Indonesia perlu ditingkatkan karena bahasa Indonesia selain menjadi jati diri bangsa, tapi juga menjadi indentitas nasional.

Oleh karena, dia mengatakan bahwa semua bangsa Indonesia seharusnya nilai UKBI-nya bagus karena ada standar dari yang terendah sampai yang tertinggi, yang tertingi itu istimewa, sangat unggul, unggul, madya, semenjana lalu majinal, dan terbatas. (ant)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.