Alexa Metrics

Logistik Cold Chain di Indonesia Tumbuh Signifikan

Logistik Cold Chain di Indonesia Tumbuh Signifikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi.

indopos.co.id – Aktivitas layanan cold chain atau sistem rantai dingin pada industri logistik di Indonesia terus mengalami pertumbuhan signifikan.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, terlepas dari kondisi Pandemi COVID-19 bahwa pertumbuhan industri cold chain di dalam negeri setiap tahunnya rata-rata mencapai 4 persen hingga 6 persen.

“Tingkat pertumbuhan itu didorong kian menggeliatnya populasi atau penikmat e-Commerce. Yang sekarang ini cenderung memilih berbelanja secara online. Termasuk untuk kebutuhan bahan pokoknya seperti makanan, minuman dan sejenisnya,” ujar Yukki dalam Seminar dan Pertemuan Dagang Cold Chain Brands Taiwan-Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Pengembangan Perdagangan Eksternal Taiwan (TAITRA), secara Virtual pada Kamis (18/9/2020).

Selain itu, kata Yukki pertumbuhan cold chain juga dipicu meningkatnya kegiatan pengiriman industri farmasi, komoditi pertanian dan barang konsumsi.

Lebih lanjut Yukki mengatakan, peningkatan permintaan makanan dan minuman beku. Serta bangkitnya waralaba di dalam negeri juga menjadi faktor tersendiri yang berkontribusi menumbuhkan indutri cold chain di Indonesia.

Yukki mengungkapkan, pasar cold chain secara global, khususnya yang diproyeksikan berasal dari kebutuhan konsumen maupun pertanian dan perikanan pada tahun 2030 masing-masing bisa mencapai USD1,070 milliar dan USD 450 milliar.

Bahkan pada 2030, Indonesia diproyeksikan menjadi pasar terbesar ke-7 di dunia, lantaran populasi konsumennya yang mencapai ratusan juta jiwa (McKinsey).

“Tidak bisa dipungkiri bahwa permintaan produk melalui e-commerce juga menopang pasar logistik. Sebab dengan permintaan produk yang tinggi maka pengiriman akan meningkat,” ujarnya.

Oleh karena itu kata Yukki, supaya para pebisnis di industri cold chain dapat melakukan investasi serta perluasan pasar yang lebih luas, salah satunya dengan menambah kantor cabang. Atau perwakilannya seiring dengan meningkatnya aktivitas industri itu di dalam negeri.

Selain itu, peningkatan permintaan terhadap produk yang mudah rusak dan pengiriman cepat, turut mendorong aktivitas logistik ekspres. Dan cold chain yang mengarah pada tingginya kebutuhan fasilitas pergudangan di Indonesia.

Yukki mengungkapkan pasar logistik cold chain di Indonesia kini digarap oleh beberapa perusahaan terkemuka antara lain; Diamond Cold Storage, Kiat Ananda Cold Storage, MGM Bosco, Dua Putera Perkasa, GAC Samudera, dan Adib Cold Logistics

“Bahkan untuk lima tahun kedepan, pasar cold chain Indonesia diperkirakan akan tumbuh 8 sampai 10 persen lantaran bermunculan permintaan baru,” ujarnya.

Berdasarkan karaktetistik industri cold chain, kata Yukki, pertumbuhan pasar pada industri itu seiring dengan peningkatan barang-barang yang mudah rusak termasuk makanan beku, farmasi, daging, makanan laut dan produk susu.

“Karakter logistik cold chain di Indonesia sebagian besar adalah Business to Business (B2B) meskipun permintaan business to customer (B2C) cukup banyak akhir-akhir ini,” bebernya.

Yukki juga mengatakan diperlukan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang tersistem baik dan perangkat pendukungnya. Terutama terhadap komoditi pertanian dan perikanan. Melalui penyimpanan dan pengiriman yang berkualitas.

Lebih lanjut Yukki menjelaskan, dibalik potensi bisnis cold chain juga terdapat berbagai tantangan. Seperti menyangkut teknologi untuk sistem pengiriman, maupun asuransi penyedia layanan. Serta terbatasnya platform e-Commerce yang menginformasikan kemampuan cold chain.

“Apalagi, jumlah kegagalan logistik dalam penyimpanan dan distribusi tetap tinggi yakni masing-masing 10 persen dan 20 persen,” tuturnya.

Oleh karena itu, kata Yukki, diperlukan kolaborasi dan kemauan yang kuat dari pemerintah, industri, serta lembaga pendidikan untuk mempromosikan dan meningkatkan keunggulan industri cold chain di Indonesia.

Sebagai solusi, ALFI juga mengusulkan ke Pemerintah Republik Indonesia (RI) untuk mengembangkan cold chain. Yakni perbaikan sarana dan prasarana untuk menampung hasil pertanian dan perikanan. Menyiapkan connected hub and spoke dalam transportasi maupun distribusi untuk menjaga kualitas produk dan efiaiensi.

Selain itu, menyiapkan platform Pendidikan berbasis IT yang lebih kuat. Dan adanya regulasi yang mengatur pasar serta industri terhadap pertumbuhan produk pertanian.

Ditataran global, Taiwan telah dikenal sebagai produsen kualitas pertanian dan perikanan yang sukses dengan segudang pengalaman dan teknologi yang handal.

“Kami berharap industri cold chain Indonesia dapat belajar dan mereplikasi kesuksesan tersebut. Melalui seminar ini diharapkan agar kedua belah pihak dapat meningkatkan kerjasama,” ujar Yukki. (mdo)



Apa Pendapatmu?