Mengintip Ajang Modest Fashion Project di Tengah COVID-19

Digelar secara Daring, Potensi Fesyen Muslim Indonesia Mencapai USD8,3 Miliar

indopos.co.id – Kompetisi desain fesyen muslim MOFP ditabuh. Di tengah wabah COVID-19, pentas bagi pekerja kreatif Indonesia tersebut digelar secara online. Seperti apa?

Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) terus berupaya mengembangkan potensi desainer fesyen muda Indonesia yang sangat besar. Itu ditunjukkan dengan memberi wadah, panggung sebagai sarana pengembangan, dan promosi diri.

Salah satunya melalui perhelatan kompetisi desain fesyen muslim MOFP. ”MOFP 2020 diselenggarakan untuk kali ketiga sejak 2018. Kompetisi ini untuk menjaring wirausaha muda bidang fesyen muslim berbasis desainer untuk kemudian dibina selama 2 tahun,” tutur Dirjen IKMA Gati WIbawaningsih pada acara Road to Modest Fashion Project 2020, Senin (21/9).

Melalui kompetisi MOFP itu, pihaknya akan memberi pembinaan selama 2 tahun melalui berbagai kegiatan. Misalnya, coaching, capacity building, dan fasilitasi kegiatan pendukung lain. Itu penting agar dapat menjadi pelaku usaha bidang fesyen muslim berdaya saing. ”Modest Fashion Project diharap menjadi batu loncatan bagi para desainer sebagai wirausaha baru bidang fesyen muslim berkualitas dan berdaya saing,” imbuhnya.

Gati menerangkan perkembangan jumlah umat muslim dunia menjadi salah satu pemicu utama yang mendorong pertumbuhan industri fesyen muslim. The State Global Islamic Ecomony Report 2019/2020 melaporkan konsumsi fesyen muslim dunia mencapai USD283 miliar, terus meningkat dengan proyeksi laju pertumbuhan 6 persen sehingga pada 2024 konsumsi fesyen muslim dunia diproyeksi akan mencapai USD402 miliar.

Sementara konsumsi fesyen muslim Indonesia senilai USD21 miliar. Itu menunjukkan peluang pasar fesyen muslim global dan domestik sangat besar. Karena itu, harus diisi industri fesyen muslim Indonesia. Pengembangan fesyen muslim Indonesia juga mempunyai prestasi internasional.

Berdasar The State of Global Islamic Economy Report 2019/2020, Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara pengembang fesyen muslim terbaik dunia setelah Uni Emirat Arab dan Turki. ”Itu menunjukkan peluang Indonesia untuk menduduki urutan pertama dan menjadi salah satu pusat fesyen muslim dunia,” terang Gati.

Industri fesyen muslim yang merupakan bagian industri pakaian jadi memiliki kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional. Berdasar data Pusdatin Kemenperin, kinerja ekspor industri pakaian jadi sepanjang 2019 mencapai USD8,3 miliar. Periode Januari-Juli 2020, ekspor industri pakaian jadi telah mencapai USD4,07 miliar. ”Industri pakaian jadi juga memiliki peran besar terhadap PDB nasional pada 2019 sebesar 5,4 persen,” tegasnya.

Melihat potensi dan keunggulan sektor industri fesyen muslim Indonesia, Gati mengajak para desainer, pemerintah, pelaku industri, market place, akademisi, seluruh stakeholder bersama-sama memaksimalkan potensi, mempromosikan, dan memperkenalkan industri fesyen muslim Indonesia.

”Selain itu, saya juga mengajak seluruh masyarakat mendukung keberlangsungan usaha industri kecil dan menengah dengan membeli produk. Selain berdampak kepada IKM, juga berdampak besar kepada sektor pendukung. Misalnya, penjahit, penyedia bahan baku, logistik, dan sektor terkait lainnya. Pada akhirnya akan menjaga perekonomian Indonesia tetap bertahan meski sedang menghadapi krisis akibat Pandemi COVID-19,” bebernya.

Sebagai bentuk wujud cinta terhadap Indonesia, Warna Wastra menjadi tema pergelaran acara MOFP 2020. Itu melambangkan keanekaragaman budaya Nusantara warna-warni keindahan Indonesia, adat, suku bangsa tertuang dalam sebuah kain beragam dari Sabang sampai Merauke.

”Wastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta yang memiliki arti selembar kain (sandangan). Saat ini, penggunaan istilah Wastra mulai diperkenalkan kembali kepada masyarakat Indonesia dan dunia untuk mewakili nama kain tradisional Indonesia,” tutup Gati. (*)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.