YLKI Tak Setuju Batasan Usia 12 Bulan untuk SKM

indopos.co.id – Peraturan Kepala (Perka) Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, menyebutkan bahwa Susu Kental Manis (SKM) tidak untuk menggantikan air susu ibu (ASI), dan tidak cocok untuk bayi sampai usia 12 bulan. Sebagai salah satu pihak yang tidak setuju SKM ini disebut susu, YLKI mempertanyakan batasan usia tersebut. Batasan usia hingga 12 bulan ini dipertanyakan banyak pihak, termasuk YLKI.

“Rekomendasi menyusui yang diwajibkan itu adalah dua tahun bukan setahun. Waktu itu dalam pertemuan dengan BPOM di uji publik dan rekomendasi peraturan itu, YLKI sudah memberikan masukan agar itu dibuat jangan setahun tapi dua tahun. Banyak juga yang menentang waktu itu, tidak hanya YLKI saja,” ujar Peneliti YLKI Natalya Kurniawati, dalam siaran pers yang diterima wartawan, Kamis (24/9/2020).

Baca Juga :

Menurut Natalya, alasan BPOM mencantumkan usia yang dilarang itu hingga 12 bulan adalah karena adanya rekomendasi dari Kemenkes, bahwa anak yang sudah berusia 12 bulan atau setahun itu sudah bisa diberikan makan makanan keluarga.

“Tapi kalaupun setelah setahun anak bisa dibantu susu lain, tapi itu bukan susu kental manis. SKM ini tidak bisa diberikan sebagai pengganti susu. Tapi kalau mau makan puding dicampur SKM itu baru boleh,” kata Natalya yang juga lulusan Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini.

Baca Juga :

Konsumsi Krimer Akibatkan Gizi Buruk Anak

Natalya mengatakan YLKI termasuk yang tidak setuju SKM ini disebut susu. Menurutnya, yang menandakan itu susu dan bergizi adalah kandungan proteinnya. Sedang produk yang layak diberikan untuk anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan adalah gizinya harus benar-benar seimbang dan tinggi protein.

“Tapi dari penelitian kami, kandungan gula dan protein dalam SKM itu jomblang. Dalam satu kaleng SKM, itu jumlah gulanya mencapai 51%, sedang kandungan proteinnya tidak lebih dari 6,5 persen. Itu ‘kan sangat jomblang, seperti gula disusupi, bukan susu yang disusupi. Itu yang membuat YLKI sangat konsen untuk mendukung pelarangan SKM dikonsumsi anak-anak,” ucapnya.

Baca Juga :

Muslimat NU Sikapi Iklan Susu Kental Manis

Harusnya BPOM juga harus bisa lebih kreatif lagi dalam mengeluarkan peraturan terkait SKM ini. “Misalnya menjalin suara lebih ke berbagai Universitas untuk melihat bagaimana tanggapan mereka terhadap SKM itu,” ujar Natalya.(wok)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.