Sepeda Masuk Tol atau Kampung?

indopos.co.id – Apa kabar wacana sepeda masuk tol? Sejak Jakarta menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) lanjutan, usulan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan itu memang kurang terdengar lagi. Tenggelam dengan berita-berita kurva COVID-19 yang terus naik. Anies juga sibuk mengendalikan Virus Corona di Ibu Kota.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Danang Parikesit menjelaskan pembahasan soal pemanfaatan ruas tol untuk jalur sepeda masih menunggu hasil kajian evaluasi Pemprov DKI. Kajian lebih komprehensif. Kalau tidak ada data pihaknya sulit mengevaluasi.

Baca Juga :

Jika berkaca negara lain, usulan serupa banyak dilakukan. Mulai untuk lomba lari marathon hingga balap sepeda. Masing-masing pemerintah dinilai bebas menutup dan mengalih-fungsikan jalan tol jika mau. Namun, rata-rata digunakan untuk event. Pada saat Tour de France misalnya. Jalan-jalan lalu lintas umum ditutup untuk keperluan lomba balap sepeda. Penutupan jalan ada di mana-mana. Semuanya atas kewenangan pemerintah. Khususnya menteri berwenang.

Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Kementerian PUPR Hedy Rahadian juga masih mengkaji usulan sepeda masuk tol. Tentu dengan mempertimbangkan aspek plus dan minusnya.

’’Kami masih terus kaji usulan ini. Kami juga terus melakukan evaluasi, apakah mungkin atau tidak usulan ini,’’ ungkapnya.

Hedy mengungkapkan, banyak menemukan masalah dalam kajian usulan sepeda masuk tol. Salah satunya penutupan tol selama digunakan para pesepeda. Sebab, harus melibatkan banyak pihak.

Baca Juga :

’’Kalau sepeda masuk jalan tol, maka operasional tol harus dihentikan. Kan tidak boleh campur aturannya, sepeda masuk tol tapi jalan tol tetap beroperasi,’’ katanya.

Hal itu mungkin saja bisa diterapkan, apabila, dikatakan Hedy, ada jalur khusus bagi pesepeda.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat Basuki Hadimuljono menuturkan, usulan sepeda masuk tol akan melanggar sejumlah aturan. Karena, dalam Undang-Undang (UU) Jalan dan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Jalan Tol disebutkan bahwa jalan tol dimanfaatkan sebagai jalan alternatif untuk mobil beroda empat atau lebih.

’’Jadi peruntukan jalan tol itu alternatif untuk mobil roda empat atau lebih. Tidak bisa untuk mobil kurang dari empat roda apalagi sepeda,’’ ujarnya.

Namun demikian, dikatakan Basuki, sepeda bisa saja masuk jalan tol apabila fasilitas tol ditutup total. Dan hal itu bisa dilakukan dengan memenuhi tiga aspek, yakni untuk kegiatan nasional, keselamatan, dan keamanan. Dia menambahkan, untuk aspek keselamatan bisa saja jalur sepeda dibangun sejajar dengan jalan tol.

’’Kalau untuk kegiatan nasional bisa saja tol tutup, lalu ada demo jalan tol tutup untuk keamanan dan karena banjir, kemudian jalan tol ditutup untuk keselamatan. Tapi kalau di tol dibuat jalur sepeda, itu namanya bukan jalan tol dan itu tidak boleh,’’ bebernya.

Sebelumnya, Basuki menjawab usulan Gubernur DKI Jakarta yang minta agar sepeda bisa masuk tol. Menurut Basuki pemanfaatan Tol Lingkar Dalam Kota Jakarta sisi barat ruas Cawang-Tanjung Priok atau Jakarta Intra Urban Tollroad (JIUT) sebagai jalur sepeda tentu menyalahi aturan.

’’Jalan tol itu untuk kendaraan roda empat atau lebih. Kurang dari empat saja tidak boleh. Bemo saja tidak boleh kan? Apalagi sepeda. Ada aturannya itu. Jika mengacu pada peraturan yang berlaku sekarang adalah road bike event tidak memenuhi peraturan,’’ ujar Basuki ditemui di Gedung Kementerian PUPR, Jakarta, Rabu (9/9/2020).

Sementara itu, Kepala Badan Pengelolaan Transportasi Jakarta (BPTJ) Bambang Prihartono mengatakan, sejumlah kebijakan Pemprov DKI terkait sepeda telah dieksekusi. Salah satunya jalur sepeda.

Bahkan, kebijakan yang sudah lama diusulkan ini memberikan jaminan rasa aman. ’’Ya kalau kemudian ada usulan sepeda masuk tol harus mengedepankan aspek keselamatan pesepeda,’’ ujar Bambang Prihartono kepada INDOPOS, Minggu (13/9).

Bambang juga mencontohkan di luar negeri. Jalur sepeda di sana bahkan dilengkapi atap agar pesepeda aman dan terlindungi saat hujan.

’’Yang penting fasilitas, tidak berbaur dengan kendaraan roda empat lainnya. Kita bisa mencontoh di luar negeri, jalur sepeda di tol ada sendiri bahkan fasilitasnya lengkap dengan pagar dan atap,’’ katanya.

Dia mengatakan, apabila sepeda berbaur dengan kendaraan lainnya di tol, jelas tidak memperhatikan faktor keselamatan. Apabila usulan ini tidak dibarengi pembangunan fasilitas keselamatan pesepeda, maka sangat membahayakan pesepeda.

’’Pemerintah sudah menyiapkan belum fasilitas yang aman dan nyaman? Karena faktor keselamatan pesepeda itu penting, apabila masuk di jalan tol,’’ ungkapnya.

Sebenarnya, usulan ini masih dibahas. Kementerian Perhubungan akan berbicara dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) soal penyediaan jalur sepeda seiring penerbitan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 59 Tahun 2020 tentang Keselamatan Pesepeda di Jalan.

’’Saya akan bicara dengan Kementerian PUPR juga, hadir juga dishub yang koordinasi dengan Pak Bupatinya dan lain-lain untuk menyiapkan jalur sepeda,’’ kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Budi Setiyadi dalam diskusi virtual di Jakarta, Rabu.

Usulan penyediaan jalur khusus sepeda dikarenakan ketidakteraturan alur pesepeda di jalan raya yang seringkali beririsan dengan pengendara kendaraan bermotor lainnya. Selain itu, sempat viral pesepeda melawan arus sangat kencang dan membahayakan, kemudian juga terdapat para pesepeda yang masuk jalan tol.

’’Kita kadang pesepeda seperti ini ada keluhan, pesepeda itu menguasai jalan. Harusnya kecepatan lebih rendah, harusnya sebelah kiri tapi kemudian ini sepeda itu bisa berjajar enam, sehingga setengah jalur dipakai sepeda,’’ katanya.

Budi mengatakan di sejumlah kota/kabupaten sudah disediakan jalur sepeda, seperti Jakarta, Bandung, Pekalongan, Solo, begitupun di sejumlah negara dengan karakteristik jalurnya berbeda-beda.

Dia menambahkan memang sudah menjadi konsekuensi regulator menyediakan fasilitas saat bersepeda ini diatur.

’’Di China, jalur sepeda bahkan sudah elevated (layang), bahkan jadi panjang. Jadi. harapan kita kalau sepeda sudah disuarakan dengan anggaran yang ada, sepeda jadi alternatif motor,’’ katanya.

Adapun, lanjut dia, untuk jalur sepeda tersebut akan dirancang di kiri jalan dan idealnya dipasang pemisah atau separator permanen karena selama ini hanya dipisahkan kerucut (cone) jalan dan hanya di pagi hari.

Pengelolaan jalurnya, Budi menambahkan, akan dibagi berdasarkan provinsi, kabupaten dan kota dan pusat apabila melintasi jalur primer.

Kemenhub telah menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 59 Tahun 2020 tentang Keselamatan Pesepeda di Jalan per 14 Agustus 2020 untuk mewujudkan tertib berlalu lintas dan menjamin keselamatan penggunaan sepeda di jalan seiring dengan semakin maraknya penggunaan sepeda akhir-akhir ini.

Ada tujuh jenis persyaratan keselamatan yang harus dipenuhi pesepeda saat di jalan. Yaitu  sepatbor, bel, sistem rem, lampu, alat pemantul cahaya berwarna merah, alat pemantul cahaya roda berwarna putih atau kuning dan pedal.

Dalam PM 59/2020 disebutkan bahwa penggunaan sepatbor dikecualikan untuk jenis sepeda balap, sepeda gunung, dan jenis sepeda lain.

Untuk penggunaan lampu dan alat pemantul cahaya juga disebutkan harus dipasang pada malam hari dan dalam kondisi jarak pandang terbatas karena gelap, atau saat hujan lebat, berada di terowongan, atau pada saat kondisi jalanan berkabut.

 

Susuri Kampung

Jika Gubernur DKI Jakarta usul sepeda masuk tol, Pemerintah Kota Yogyakarta, DIY, menyiapkan lima jalur sepeda melewati perkampungan.

’’Akhir-akhir ini, kegiatan bersepeda sudah menjadi ikon baru atau gaya hidup baru masyarakat. Makanya, kami siapkan jalur sepeda melewati perkampungan yang pastinya akan menarik minat wisatawan untuk datang,’’ kata Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti di Yogyakarta, Jumat (25/9).

Haryadi bersama sejumlah pejabat Pemerintah Kota Yogyakarta dan pejabat instansi lain berkesempatan menjajal salah satu jalur sepeda bertema “Romansa Kota Lawas”.

Jalur tersebut memiliki panjang 13,33 kilometer yaitu dari Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta di Kotabaru menyusuri Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Sajiono, Jalan Juandi, Jalan Ipda Tut Harsono, Jalan Kusumanegara menuju kawasan Kotagede dan berakhir di Bendung Lepen Giwangan.

Di sepanjang jalur tersebut, wisatawan dapat menikmati suasana heritage Kotabaru, Masjid Perak Kotagede, menikmati kuliner di Lapangan Karang, Masjid Besar Mataram, Taman Gajah Wong dan menikmati kesegaran alam di Bendung Lepen.

“Saya kira, jalurnya cukup aman dan menyenangkan untuk disusuri. Bahkan banyak hal baru yang bisa dinikmati, ternyata ada beberapa yang sama sekali belum tahu potensi yang ada di kampung-kampung,” katanya.

Selain juga disiapkan rute dengan tema “Tilik Jeron Beteng” sepanjang 8,68 kilometer yang diawali dari Pasar Pakuncen, Kampung Ketanggungan, Sindurejan, Suryodiningratan, Magangan dan berakhir di Plaza Pasar Ngasem.

Di sepanjang rute tersebut wisatawan bisa menikmati sajian kuliner di Pasar Condronegaran dan Pasar Ngasem. Rute ketiga yang disiapkan adalah menyusuri kampung-kampung di tepi sungai sepanjang 6,55 kilometer. Kampung yang akan dilewati adalah Kampung Wisata Becak Maju, kampung di sekitar Museum Pangeran Diponegoro, Karangwaru Riverside, dan Kampung Jetis yang dikenal dengan Taman Robin.

Sedangkan rute keempat yang disiapkan adalah jajah kampung sepanjang 6,53 kilometer yang diawali dari Museum TNI menuju Jalan Cik Di Tiro, Jalan Sagan, Embung Langensari, Taman Bakung dan finis di Makam Wijayabrata.

Sementara itu, rute kelima berada di sekitar Taman Pintar sepanjang 6,17 kilometer yaitu dari Taman Pintar menuju Jalan Sultan Agung, Jalan Brigjen Katamso, Sidokabul, dan berakhir di Taman Pintar Dua yang berada di Jalan Tegalturi.

“Keberadaan jalur-jalur sepeda untuk meningkatkan wisata ini diharapkan dapat menggerakkan perekonomian masyarakat,” katanya.

Namun demikian, Haryadi mengingatkan bahwa setiap pesepeda harus mematuhi seluruh protokol kesehatan dan mematuhi rambu lalu lintas.

“Pada awalnya, memang ada lima jalur sepeda yang disiapkan, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk terus menambahnya atau menggabungkan jalur-jalur yang memang berdekatan,” katanya.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta Agus Arif mengatakan, siap menambah papan petunjuk untuk rute jalur sepeda wisata.

“Saya kira, jalur yang dilalui cukup layak dan aman sehingga wisatawan bisa menikmati kehidupan kampung di Yogyakarta,” katanya. (nas/cok)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.