Soal Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia, Silakan Kalau Pilih Instan

indopos.co.id – Timnas Indonesia U-19 kini mulai diminati oleh banyak pemain keturunan nusantara yang berlaga di luar negeri. Namun, PSSI menyerahkan kewenangan tersebut kepada  pelatih.

Seperti diketahui, Timnas Indonesia sedang bersiap dua turnamen penting di depan mata, Piala Asia U-19 2020 dan Piala Dunia U-10 2021.

Timnas Indonesia U-19 yang akan turun di dua turnamen besar tersebut, saat ini,  sedang menjalani pemusatan latihan di Kroasia dan selanjutnya di Turki.

Selain menggodok pemain lokal, ternyata PSSI juga menyiapkan Timnas Indonesia U-19 dengan wacana untuk membentuk tim dengan berbagai cara, termasuk cara-cara luar biasa dan instan.

PSSI disebut akan mengoptimalkan pemain keturunan Indonesia yang ada di luar negeri dan bahkan menaturalisasikan  pemuda-pemuda Brasil. Jika naturalisasi mendapat pertentangan, menjangkau pemain keturunan relatif tidak mendapat resistensi besar dari publik bola Indonesia.

Di skuad Timnas Indonesia saat ini terdapat beberapa nama pemain keturunan yang tersebar di level senior dan U-19. Bahkan, kini disebut Timnas Indonesia, terutama U-19 mulai kebanjiran ‘lamaran’ dari pemain-pemain keturunan darah Indonesia yang sedang berlaga di luar negeri.

Meski banyak pemain keturunan yang menyatakan hasrat ingin memperkuat Timnas Indonesia U-19, PSSI mengatakan bahwa semua pemilihan skuad diserahkan pada Shin Tae-yong. Terkini ada nama Elkan Baggott dan Jack Brown yang saat ini masuk dalam daftar pemain Timnas Indonesia U-19 yang langsung dilatih oleh Shin Tae-yong.

Namun, belum lama ini kembali ramai menjadi perbincangan bahwa ada beberapa pemain yang bermain di Liga Belanda ataupun Inggris bisa menjadi tambahan amunisi Timnas Indonesia U-19.

Teranyar, bek asal Inggris, Joseph Ferguson Simatupang, mengungkapkan bahwa ia memiliki cita-cita untuk bisa bermain memperkuat Timnas Indonesia U-19.

Terkait hal itu diungkapkan melalui akun Insta Story milik Joseph Ferguson, Selasa (20/9/2020). Ia mengutarakan keinginan berduet bersama dengan Bagus Kahfi di Timnas Indonesia U-19. Tak hanya itu, masih banyak pemain lainnya yang keturunan Indonesia bermain untuk Timnas Indonesia U-19.

Apalagi tim asuhan Shin Tae-yong itu tengah dipersiapkan menghadapi Piala Dunia U-20 2021. Menanggapi hal ini, Pelaksana Tugas (Plt) Sekjen PSSI, Yunus Nusi, mengatakan semua keputusan berada di pelatih Timnas Indonesia U-19, Shin Tae-yong.

“Pertama kan tentang skuad timnas itu kami serahkan seluruhnya kepada pelatih,” kata Yunus Nusi  dihubungi, di Jakarta, Jumat (25/9).

“Ketika itu menurut pelatih harus beberapa tempat yang pemain harus diisi tidak ada di Indonesia, lalu siapa itu? Kami serahkan ke coach Shin,” katanya.

Namun, terkait untuk pemain keturunan,  pria yang juga menjabat sebagai anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI itu mengatakan, pelatih asal Korea Selatan tersebut juga pasti mengetahui bagaimana persyaratannya.

“Pelatih sudah tahu tentang itu,” ujarnya.

Oleh karena itu, PSSI tidak ingin mengintervensi Shin Tae-yong terkait pemain karena itu sepenuhnya menjadi keputusannya. Jika memang nantinya pelatih berusia 51 tahun itu mengajukan pemain yang sudah diperhatikan dan dibutuhkan untuk skuad Timnas Indonesia U-19, PSSI juga bakal langsung memprosesnya.

“Makanya kami juga tidak terlalu mengintervensi langsung tentang hal-hal ini, semua kami serahkan kepada Shin Tae-yong,” ungkap Yunus Nusi.

“Ya kalau bagus seperti Elkan Baggott atau yang lain ya kami ambil. Kami saring, kami usahakan, dan kami proses administrasinya,” katanya

Beberapa waktu lalu, publik sepak bola Indonesia geger dengan hadirnya lima pemain muda asal Brasil yang bergabung ke tiga klub Liga 1 2020. Tiga klub yang menjadi tempat para pemain muda Brasil itu berlatih adalah Persija Jakarta (dua pemain), Arema FC (dua pemain), dan Madura United (satu pemain).

Fakta di lapangan itu pun disertai berbarengan dengan wacana mengatakan bahwa lima pemain muda itu akan dinaturalisasi oleh PSSI. PSSI disebut ingin menjadikan lima pemain asal Brasil tersebut untuk memperkuat Timnas Indonesia U-19 yang akan berlaga di Piala Dunia U-20 2021.

Meskipun pada akhirnya wacana itu dibantah sendiri oleh PSSI, kegaduhan sudah sempat terjadi di antara para pelaku sepak bola nasional. Fakhri Husaini, mantan pelatih Timnas Indonesia U-19 bahkan sempat mengungkapkan kekesalannya lewat unggahan di akun Instagram pribadinya.

“Jika memang PSSI sudah kehilangan rasa percaya dirinya terhadap para pemain lokal, serahkan saja status tuan rumah Piala Dunia U-20 kepada negara lain,” tulis Fakhri pada 20 Agustus 2020 lalu.

Selain dari pelatih, beberapa pengamat sepak bola dan bahkan pemain Timnas Indonesia sendiri mengkritik wacana naturalisasi instan para pemuda Brasil itu untuk masuk skuad Garuda.

 

Atas wacana tersebut, PSSI pun disebut hanya menambah gaduh situasi ditengah seretnya prestasi olahraga nasional, terutama sepak bola dalam beberapa dekade terakhir.

Meski pada akhirnya membantah, PSSI secara tidak langsung sudah menimbulkan situasi tidak kondusif di tubuh Timnas Indonesia U-19.

Ketua Forum Komunikasi Suporter Indonesia (FKSI), Richard Achmad Supriyanto, menyatakan PSSI membuat kegaduhan terkait naturalisasi pemain.

“Terkait naturalisasi itu sangat tidak relevan, PSSI selalu bikin gaduh terkait naturalisasi ini,” kata Richard.

Richard menilai bahwa Indonesia saat ini sejatinya tidak kekurangan bibit pemain muda yang sangat potensial.

Selaku federasi, PSSI seharusnya memaksimalkan potensi lokal terlebih dahulu, alih-alih langsung mengambil opsi naturalisasi.

“PSSI tidak pernah percaya dengan potensi pemain-pemain muda Indonesia. Padahal pemain muda kita hasil pembinaan cukup bisa diandalkan,” tambahnya.

Di sisi lain, Richard tidak mempermasalahkan adanya pemain keturunan di tim Garuda Nusantara saat ini.

Seperti diketahui, saat ini ada dua pemain keturunan, Elkan Baggott dan Jack Brown, yang masuk dalam skuad pilihan Shin Tae-yong.

Menurut Richard, pemain keturunan sah-sah saja membela tim Merah Putih karena darah Indonesia yang mengalir dalam diri mereka.

“Kalau terkait pemain keturunan boleh-boleh saja asalkan sesuai kebutuhan dan berdampak bagus hasilnya,” tutupnya.

Sampai saat ini, Indonesia mempunyai pemain naturalisasi berjumlah sekitar  33 orang.

Pemain naturalisasi itu sejatinya diharapkan dapat membantu kekuatan timnas Indonesia, sayang mereka lebih banyak di luar ekspetasi.

Proses naturalisasi pemain asing menjadi WNI seharusnya lebih ketat dan berdasar usia produktif sang pesepak bola.

Naturalisasi pemain memang menjadi salah satu role model yang sedang gencar dilakukan Indonesia sejak 10 tahun terakhir.

Tidak lain, tentu proses naturalisasi pemain asing jadi Warga Negara Indonesia (WNI) itu untuk memperkokoh skuad Garuda pada turnamen level Asia Tenggara maupun Asia.

 

Naturalisasi ramai dibicarakan di Indonesia sejak Cristian Gonzales memperkuat timnas Indonesia.

Pemain kelahiran Uruguay itu adalah pesepak bola pertama yang mengajukan diri untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Ia resmi berstatus WNI pada 3 November 2010.

Setelah itu, beberapa pemain ikut dinaturalisasi. Mereka antara lain: Kim Kurniawan, Diego Michiels, Raphael Maitimo, Jhonny van Beukering, Tonnie Cussel, Sergio van Dijk, dan Greg Nwokolo.Lalu ada Stefano Lilipaly, Ilija Spasojevic, Beto Goncalves, hingga Osas Saha.

Namun, jika dilihat dari prestasi timnas Indonesia hingga kini, proses naturalisasi pemain memang belum menjadi dampak positif bagi skuad Garuda.

Belakangan ini, menaturalisasi pemain asing kembali berdengung. Pemain bertahan Persija Jakarta, Otavio Dutra menjadi pilar asing yang resmi menjadi WNI.

Lelaki asal Brasil itu telah diambil sumpah di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur di Surabaya, akhir September 2019.

Selain, Otavio Dutra, kini gelandang Persija Jakarta, Marc Klok yang sedang menjalani proses naturalisasi menjadi WNI.

Pada Maret 2020, pemain asal Belanda itu menjelaskan berkas naturalisasinya saat ini berada di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.

Namun, Klok belum mengetahui secara pasti kapan ia bisa mendapat status WNI. Untuk persoalan itu, ia serahkan kepada wakil rakyat Indonesia.

Sementara itu, beberapa pemain yang sudah dapat naturalisasi juga bukan berarti kariernya akan cemerlang di Tanah Air. Tak jarang, mereka juga yang harus menelan pil pahit.

Contohnya Jhonny van Beukering. Penyerang bertubuh gempal itu harus menyelesaikan karier sepak bolanya pada usia 35 tahun. Hal itu karena kariernya semakin meredup.

Sempat berseragam timnas Indonesia pada Piala AFF 2012, Van Baukering dilanda cedera, hingga akhirnya kariernya semakin menurun.

Pada saat mencicipi Liga Indonesia, catatan main pemain ini bisa dibilang tidak terlalu mulus.

Terakhir, dia berkostum Pelita Jaya pada musim 2011-2012. Sayang, performa yang kurang maksimal, membuatnya memilih untuk pulang ke kampung halamannya di Belanda.

Van Baukering sempat memperkuat FC Dordrecht (2012) dan FC Presikhaaf (2013), sebelum memutuskan gantung sepatu pada usianya yang ke-35.

Selain itu, ada juga kisah dari Tonnie Cussel, pemain asal Belanda ini juga satu angkatan Van Baukering di timnas Indonesia pada Piala AFF 2012.

Cussel dinilai banyak pihak tidak dapat melihatkan performa yang apik. Kontribusinya di dalam tim yang minim membuat dirinya tersingkir.

Pemain kelahiran Belanda ini sempat berseragam Barito Putera. Dia hanya dapat lima kesempatan bermain di laga awal musim. Namun, Cussel belum bisa beradaptasi dengan baik dalam sepak bola Tanah Air.

Kabar terakhir, dia juga kembali ke Belanda untuk bermain dengan tim Nieuw Utrecht pada 2014-2015. Saat ini, belum ada kabar terbaru tentang dirinya. (*)

 

Daftar Pesepak Bola Naturalisasi Indonesia.

Dari Eropa: Jhon van Beukering, Ilija Spasojevic, Tonnie Cusell, Sergio van Dijk, Kim Kurniawan, Stefano Lilipaly, Raphael Maitimo, Diego Michiels, Ezra Walian, Nol van der Vin,

Dari Afrika: Esaiah Pello Benson, Fassawa Camara, Sackie Doe, Bruno Casimir, Mamadou Diallo, Herman Dzumafo, Zoubairou Garba, Mohammadou Al Hadji, Victor Igbonefo, OK John, Greg Nwokolo, Guy Junior Ondoua, Bio Paulin, Osas Saha, Egwuatu Godstime Ouseloka, Mufilutau Opeyemi Ogunsola

Dari Amerika Selatan: Fabiano Beltrame, Otávio Dutra, Sílvio Escobar, Beto Gonçalves, Cristian Gonzáles, Esteban Vizcarra

Dari Asia: Yoo Jae-hoon

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.