Alexa Metrics

Meski Dibayangi Resesi, Inovasi Layanan Pelabuhan Jangan Berhenti

Meski Dibayangi Resesi, Inovasi Layanan Pelabuhan Jangan Berhenti Aktivitas di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, beberapa waktu lalu.

indopos.co.id – Pegiat dan Pemerhati Kemaritiman dari Indonesia Maritime Logistics and Transportation Watch (IMLOW) menegaskan, layanan berbasis digital pada aktivitas di pelabuhan maupun penunjangnya sudah merupakan suatu kebutuhan.

Sekretaris Jenderal IMLOW Achmad Ridwan Tentowi mengatakan, disisi lain kegiatan di pelabuhan khususnya ekspor impor sedang menghadapi tekanan berat. Hal itu menyusul merosotnya perdagangan internasional untuk komoditas tertentu seperti non consumer goods akibat Pandemi COVID-19 yang hampir melanda seluruh negara di dunia. Meskipun begitu, kegiatan perdagangan domestik masih menjanjikan seiring dengan besarnya populasi penduduk Indonesia saat ini.

“Kalau melihat fenomena tersebut, bayangan resesi terhadap ekonomi di Indonesia akibat pertumbuhan ekonomi nasional yang terus minus sekarang ini, rasanya tidak perlu terlalu di khawatirkan. Karena konsumsi atau perdagangan domestik kita sekarang inikan masih berjalan bagus bahkan cenderung tumbuh,” ujar Ridwan, melalui keterangan persnya, Senin (28/9/2020).

Dia mengatakan, di tengah melemahnya perekonomian dan daya beli masyarakat saat ini, para operator pelabuhan termasuk di Pelabuhan Tanjung Priok agar mampu memberikan layanan terbaiknya, bahkan harus tetap berinovasi mengedepankan layanan berbasis digital agar lebih efisien dan efektif.

“Kalau layanan pelabuhan efisien otomatis mempengaruhi biaya logistik secara keseluruhan dan akan berdampak pada menurunnya harga barang. Jadi kuncinya kita mesti mengefisiensikan layanan logistik,” ujar Ridwan.

Sementara itu, Operator terminal peti kemas terbesar dan tersibuk di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta International Container Terminal (JICT) tetap optimistis kendati perekonomian RI dibayangi resesi.

Wakil Direktur Utama JICT Riza Erivan mengatakan, saat ini JICT menguasai 40 persen market share pergerakan peti kemas ekspor impor di pelabuhan Tanjung Priok. Apalagi, kata dia, mayoritas pergerakan peti kemas internasional itu merupakan pasar dari dan ke negara Tiongkok, yang saat ini negara tersebut tidak mengalami resesi ekonomi.

“Kalau pergerakan kargonya banyak berasal atau tujuan negara yang terkena resesi, otomatis akan berdampak signifikan terhadap aktivitas pelabuhan. Namun kalau di JICT itu lebih dari 75 persen-nya merupakan kargo perdagangan dari dan ke Tiongkok,” ungkapnya.

Kendati begitu, Riza mengatakan imbas melemahnya perekonomian di dalam negeri yang dibarengi dengan penurunan daya beli masyarakan akibat masih berlangsungnya Pandemi COVID-19 saat ini telah mempengaruhi kegiatan bisnis secara keseluruhan, termasuk di pelabuhan.

“Prediksinya sepanjang tahun ini arus barang di Priok terjadi penurunan sekitar 16 persen. Tetapi kondisi ini sepertinya masih lebih baik ketimbang negara-negara tetangga lainnya seperti Singapura yang telah mengalami resesi ekonomi saat ini,” pungkasnya.(mdo)



Apa Pendapatmu?