Industri Makanan dan Minuman Merugi Tapi Survive

Semangati Pasar dengan Produk Baru

indopos.co.id – Sektor Fast Moving Consumer Goods (FMCG) atau juga makanan minuman (mamin) diklaim tahan banting dalam kondisi apapun, termasuk saat Pandemi COVID-19. Di tengah kontraksi ekonomi sebesar 5,32 persen, industri makanan dan minuman tetap bisa tumbuh positif 0,22 persen.

”Kontribusi terhadap sektor agroindustri saja masih di angka 39,51 persen. Jadi industri makanan dan minuman terbilang tetap prospektif di masa pandemi,” ujar Ketua Umum Asosiasi Gabungan Industri Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman dalam acara “MarkPlus Industry Roundtable: FMCG Industry Perspective” yang digelar virtual, baru-baru ini.

Meski demikian, lanjutnya, dia mengakui industri mamin tetap ada di periode sulit, terutama di bulan April dan Mei. Anomali juga terjadi ketika Lebaran yang biasanya jadi momentum peningkatan demand produk makanan minuman, tahun ini justru permintaannya rendah karena faktor PSBB.

Kondisi mulai membaik ketika PSBB dilonggarkan, saat inilah mulai ada peningkatan kembali terkait demand. Walau kemudian ada masa flat kembali ketika memasuki PSBB jilid kedua.

Namun, dirinya yakin, PSBB kali ini tidak akan seburuk ketika PSBB pertama periode April dan Mei. Hal senada diutarakan oleh Global Marketing Director Mayora Ricky Afrianto.

Mayora yang selama satu dekade dari 2009 sampai 2019 tumbuh enam kali, merasakan tantangan berat saat pandemi. Terutama di periode April dan Mei.

”Kuartal pertama tidak terlalu terasa. Masuk April sampai Juli terasa sekali. Namun setelah itu mulai membaik lagi, meskipun Juli adalah terburuk,” ungkapnya.

Tak hilang akal, mereka pun melakukan inovasi. ”Salah satu yang kami lakukan adalah dengan tetap meluncurkan produk baru. a

Ada sekitar sepuluh produk baru kami luncurkan periode April dan Juli. Tujuannya agar membuat pasar tetap exciting dan membuat konsumen terdorong membeli karena ada produk baru dan menarik yang bisa dicoba,” tambahnya.

Hal itu harus dilakukan, mengingat pangsa pasar Mayora 50:50 domestik dan ekspor. Sementara ekspor dengan adanya pandemi membuat pihaknya sulit mendistribusikan produknya, karena tiap negara membuat kebijakan lockdown dengan periode berbeda.

Harapannya ada di pasar domestik yang perbaikannya terlihat memasuki masa pelonggaran PSBB. ”Pandemi memang harus membuat pemain-pemain FMCG terus berinovasi. Apalagi dinamikanya berubah cepat.

Tidak cukup profesional, tapi harus ada faktor entrepreneurship untuk drive berbagai kreativitas dan inovasi yang harus sangat cepat dilakukan. Karena tetap ada kesempatan di saat krisis. Behaviour konsumen juga pasti berbeda jika pandemi selesai, termasuk di 2021 dan seterusnya,” ungkap Founder and Chairman MarkPlus, Inc Hermawan Kartajaya.

Adhi berharap, bantuan sosial dari pemerintah ke depan dapat membantu penjualan makanan dan minuman agar tidak menurun terlalu dalam. Namun demikian, pada 2021 yang akan datang, dirinya optimistis pertumbuhan ekonomi akan membaik.

Meski tidak akan mencapai pertumbuhan sampai 8 persen seperti tahun 2019, dia optimistis industri makanan dan minuman akan tumbuh mencapai 5-7 persen pada 2021.  Dia menambahkan, nilai ini dapat dicapai apabila pemerintah konsisten melakukan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan mendorong daya beli masyarakat.

”Dengan bantuan pemerintah untuk masyarakat middle low income, diharapkan konsumsi mereka membaik. Sementara itu, masyarakat kelas menengah ke atas diharapkan mulai berani berbelanja kalau situasi sudah mulai normal,” harapnya.

Dia memperkirakan, Prompt Manufacturing Index (PMI-BI) industri makanan dan minuman akan mencapai 48,2 persen pada kuartal III 2020. Nilai ini pun lebih tingggi dibandingkan kuartal II 2020 yang mencapai titik terendah sebesar 35,30 persen.

Sementara itu, HIS Markit’s Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia juga telah meningkat menjadi 46,9 pada Juli 2020. Indeks ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 39,1. Pada Agustus, nilainya tercatat 50,8.

”Di tengah pandemi ini, beberapa sektor makanan dan minuman cukup baik, misalnya industri susu yang sudah full capacity, bakery juga mulai meningkat permintaannya. Begitu pula bumbu-bumbuan, frozen food, instant food, dan functional food,” terangnya.

Pelaku industri makanan dan minuman pun harus menjadikan aspek kesehatan dari produk mereka. ”Kami sendiri juga melakukan banyak perubahan. Kami terpaksa menerapkan berbagai teknologi untuk beradaptasi dalam new normal. Di industri makanan dan minuman, kita harus banyak memperbanyak human machine interface untuk mengantisipasi physical distancing dan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Pandemi COVID-19,” tuturnya.

Di samping itu, menurut dia, pelaku usaha juga banyak yang berinovasi meluncurkan produk-produk baru. Hal ini untuk menyasar pasar generasi milenial yang cenderung suka mencoba produk-produk baru.

Ditambah, jika pemain-pemain di industri ini bisa memanfaatkan platform online dan offline dalam memasarkan produk. Serta mendorong masyarakat berbelanja lagi terutama kelas menengah.

 

Dorong Industri Jaga Rantai Suplai

Kementrian Perindustrian (Kemenperin) terus memantau dan menjaga aktivitas sejumlah sektor manufaktur strategis di tengah masa Pandemi COVID-19. Di antaranya, industri makanan dan minuman (mamin) yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Namun demikian, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, operasional pabrik tersebut harus tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat. ”Industri makanan dan minuman merupakan sektor yang sangat potensial untuk terus dipacu, karena juga memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional,” ucapnya.

Agus pun mengapresiasi Mayora Group yang telah disiplin menerapkan aturan protokol kesehatan di lingkungan kerjanya. ”Kami menilai upaya preventif yang dilakukan oleh PT Mayora sudah baik. Misalnya, para pekerja diberikan suplemen vitamin secara rutin dan adanya antar jemput bagi pekerja,” ungkapnya.

Dia juga menyampaikan, perusahaan yang sudah memegang Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) dinilai mampu meningkatkan produktivitasnya di tengah tekanan dampak Pandemi COVID-19. ”Ini terbukti dari Purchasing Manager’s Index (PMI) yang mulai meningkat. Karena IOMKI ini menjaga bagian suplainya agar tidak terganggu, baik di pasar domestik maupun ekspor,” jelasnya.

Agus meminta supaya pelaku industri di Tanah Air tetap optimistis menghadapi masa pandemi saat ini, dengan terus produktif dan inovatif. Sebab, sektor manufaktur, seperti industri makanan dan minuman selama ini menjadi penopang atau motor penggerak bagi perekonomian kita.(dew)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.