BMKG Imbau Waspada Bencana Banjir dan Longsor Akibat Fenomena La Nina

indopos.co.id – Awal Oktober ini menandai mulai turunnya curah hujan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) minta masyarakat mewaspadai fenomena La Nina yang berdampak pada anomali cuaca yang berujung pada bencana hidrometeorologi.

Namun dampak anomali cuaca itu sendiri sangat bergantung pada musim dan bulan, wilayah serta intensitasnya. Sedangkan bencana hidrometeorologi adalah bencana yang dipengaruhi oleh faktor cuaca seperti banjir, longsor, dan puting beliung.

Baca Juga :

Dalam siaran pers BNPB dijelaskan kalau fenomena La Nina akan muncul berdasarkan kesimpulan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sesuai hasil analisis potret data suhu permukaan laut di Pasifik, yang mana saat ini La Lina sudah teraktivasi di Pasifik Timur. Kondisi tersebut dapat memicu frekuensi dan curah hujan wilayah Indonesia yang akan lebih tinggi mulai bulan ini hingga April 2021. Bahkan derasnya curah hujan akan jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Supari menjelaskan kalau dampak La Nina yang menyebabkan curah hujan jauh lebih tinggi makan akan menyebabkan banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, atau yang disebut bencana hidrometeorologi. Namun fenomena La Nina sendiri menurutnya dampaknya tidak seragam di seluruh Indonesia.

Meski begitu, Supari meminta perlunya kewaspadaan terhadap kondisi hujan di atas normal mulai Oktober dasarian I dan II. Satuan dasarian yang digunakan menunjuk pada kurun waktu sepuluh harian. ”Karena beberapa provinsi diperkirakan akan memasuki musim hujan pada Oktober ini,” ujar Supari di Jakarta, Kamis (1/10/2020).

Menanggapi analisis dari BMKG itu, institusi BNPB meminta agar setiap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai focal point penanggulangan bencana di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota untuk selalu waspada dan siap siaga menghadapi potensi bahaya bencana hidrometeorologi tersebut. Upaya dini pencegahan dan mitigasi harus dilakukan untuk mengurangi ataupun menghindari dampak bencana. BNPB juga mengimbau masyarakat untuk melakukan upaya kesiapsiagaan, khususnya di lingkup keluarga.

Baca Juga :

Untuk diketahui, fenomena La Nina adalah kebalikan dari fenomena El Nino. Dua fenomena itu kerap terjadi di Indonesia. Fenomena La Nina adalah peristiwa dimana terjadi penurunan suhu permukaan air laut di Samudera Pasifik bagian timur, yang menyebabkan peningkatan kecepatan angin pasat timur yang bertiup di sepanjang samudra pasifik. Sehingga dampak La Nina itu menjadikan wilayah Indonesia akan mengalami intensitas hujan yang jauh lebih tinggi.

Sedangkan fenomena El Nino adalah memanasnya suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur. Dampaknya beragam dan sangat luas, di kawasan Amerika Latin akan mengalami peningkatan curah hujan yang tinggi, namun di wilayah Indonesia akan berdampak berkurangnya curah hujan yang bisa menimbulkan bencana kekeringan. (ind)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.