Jatuh Bangun Menuju Tiga Ladang Ganja di Madina

BNN RI Bakar 10 Ton Mariyuana

indopos.co.id – “Bang berapa lama lagi?,” ujar seorang perempuan muda yang tampak kelelahan kepada pria setengah baya di sebelahnya sambil berjalan menapaki tanjakan di tengah hutan.

”Ya 15 menit lagi,” balas sang pria. ”Ahh nggak percaya. Dari tadi 15 menit terus,” tandas sang perempuan terlihat kesal setelah berjalan selama sekitar dua setengah jam lebih, namun belum sampai ke lokasi. Dan akhirnya, setelah satu jam berlalu, barulah perempuan itu tiba di lokasi.

Baca Juga :

Setelah Aceh, Kini Madina

Percakapan tersebut tampak saat Tim Gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia (RI) menggelar Operasi Pemberantasan Ladang Ganja di Pegunungan TOR Sihite, Desa Rao-Rao Panjaringan, Kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut), Rabu (30/9/2020).

Tim Gabungan BNN RI dipimpin langsung Direktur Narkotika, Deputi Bidang Pemberantasan BNN RI Brigjen Pol Aldrin Hutabarat. Total tim sebanyak 109 personel terdiri dari BNN Pusat, BNNK Madina, Propam Mabes Polri, Polres Madani, Koramil, Sat Brimob, dan Sat Pol PP.

Mereka harus berjibaku atau jatuh bangun untuk menuju tiga ladang ganja di ketinggian 1.017 Meter Di atas Permukaan Laut (MDPL). Untuk sampai ke lokasi dibutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat jam perjalanan. Demikian pula pulangnya, bahkan ada yang sampai lima jam. Jadi total waktu pulang-pergi sekitar enam sampai sembilan jam. Tak ayal operasi yang digelar pagi hari ditutup pada malam hari.

Baca Juga :

Beberapa personel mengaku medan atau treknya cukup berat, bahkan ada yang bilang sangat berat. Selain konturnya ekstrem dengan kemiringan antara 30-80 derajat, kondisi tanah juga lembab atau basah. Akibatnya jalan menjadi licin.

Sejumlah personel ada yang terpeleset dan jatuh. Ada pula yang kakinya terkilir kemudian kram dan pegal-pegal. Keberadaan akar dan batang tanaman sangat membantu tim sebagai pegangan.

Selain trek ekstrem, gigitan hewan kecil seperti pacet juga dirasakan beberapa personel. Di sisi lain kabarnya masih ada hewan buas seperti harimau dan beruang. Meski masih disangsikan keberadaannya, namun menurut salah seorang personel, hewan tersebut muncul sekitar sore atau menjelang malam hari. Walau demikian, untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, beberapa personel BNN Pusat dan Polri dipersenjatai peluru tajam.

Kelelahan tim terbayar setelah tiba dan berhasil memusnahkan tiga ladang ganja atau mariyuana seluas enam hektare (ha). Ketiga titik itu berada di koordinat antara lain N 00°43.281’, E 099°43.845’; N 00°43.263’, E 099°43.897’; dan N 00°43.210’, E 099°43.968’.

Brigjen Pol Aldrin Hutabarat menjelaskan, dari luas enam ha ladang ganja itu terdapat sebesar 25.000 batang dengan berat basah tanaman berkisar 10 ton. Sementara jarak tanam antar batang sekitar 50 centimeter (cm) dengan ketinggian tanaman bervariatif antara 30-150 cm.

Bagaimana dengan pelaku? ”Saat ini kita masih lakukan penyelidikan. Pelaku bisa dijerat Pasal 111 Ayat (2) UU No 35/2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup,” jelas Aldrin.

Mantan Kapolres Madiun Kota, Jawa Timur itu menambahkan, memang daerah ganja terbesar setelah Aceh, yakni wilayah Madina, Sumut. Untuk mempersempit ruang gerak pelaku, pihaknya sudah menyarankan kepada Plt Bupati Madina untuk membuka akses jalan ke lokasi penanaman ganja. Dengan demikian, tidak ada lagi daerah terpencil. ”Jika jalan itu sudah terbangun, kemungkinan ada pos polisi dan kegiatan patroli kamtibmas,” ujarnya.

Terkait perkembangan Program Grand Design Alternative Development (GDAD), Kasubdit Masyarakat Pedesaan Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN Hendrajid P. Widagdo menjelaskan, sejauh ini Program GDAD mendapat dukungan dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia (Menko PMK) serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Bahkan dalam Peraturan Menko PMK membantu kegiatan P4GN (Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika).

”Di Aceh sudah panen jagung seluas 11.017 ha. Di Gayo kita kembangkan sektor-sektor kebutuhan ekonomi seperti pengairan. Kita juga menerapkan pola non-pertanian. Ini sudah banyak capaiannya,” jelas dia.

Bagaimana dengan di Madina? ”Wilayah Madina masih menjadi prioritas kita setelah Aceh. Bupati Madina incumbent sudah menetapkan perhutanan sosial seluas 403 ha di empat desa kawasan TOR Sihite. Wilayah itu akan dikembangkan komoditas kopi mandailing. Untuk bibit, Kementan memberikan bantuan bibit kopi,” ujar Hendrajid.

Sementara tiga ladang ganja yang barusan dimusnahkan BNN, lanjut dia, akan dikembalikan fungsinya sebagai kawasan hutan lindung. ”Ini karena wilayah itu berstatus hutan lindung,” tandas Hendrajid. (aro)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.