PBSI Siap Gelar Simulasi Piala Sudirman

Fokus Depan Net

indopos.co.id – Pelatih ganda campuran Indonesia, Richard Mainaky, mengungkapkan triknya menangani skuat asuhannya. Richard menyebut memiliki program berbeda antara atlet putra dan putri.

Atlet Indonesia sudah lama tak ikut kompetisi. Praktis, turnamen terakhir yang mereka ikuti adalah All England 2020 pada Maret silam.

Setelah itu, pebulu tangkis Indonesia hanya mengikuti turnamen internal. Namun, untuk pebulu tangkis ganda campuran tidak mengikuti simulasi Thomas dan Uber Cup.

Oleh sebab itu, Richard menyebut cara menghindarkan kebosanan bagi skuat asuhannya. Menurutnya, dia kesulitan menangani para atlet yang akan berlaga di Olimpiade 2020.

“Kalau pemain muda sebenarnya tidak masalah. Malah ada keuntungan karena mereka bisa banyak dibentuk sesuai kebutuhan setiap atlet,” kata Richard.

“Akan tetapi, yang menjadi pekerjaan rumah atlet level atas. Khususnya yang masuk nominasi Olimpiade. Seperti atlet putri, kami lebih fokus pada permainan depan net.”

“Mereka harus lebih halus dan rapat. Sedangkan untuk putra, jelas variasi pukulan bola atas dan pengembalian bola-bola datar yang harus benar dan terarah,” Richard melanjutkan.

PBSI sendiri tengah berencana menggelar simulasi Piala Sudirman. Namun, hingga saat ini belum diketahui bagaimana kelanjutan rencana tersebut.

Sementara, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti, mengungkapkan pihaknya akan lebih jeli memilih turnamen pada 2021. Hal itu disebabkan padatnya agenda.

Seperti diketahui, banyak kompetisi yang seharusnya digelar pada 2020 mengalami penundaan. Termasuk di antaranya adalah Olimpiade serta Thomas dan Uber Cup.

Alhasil, agenda bulu tangkis menumpuk pada 2021. Belum lagi ajang yang memang seharusnya berlangsung di tahun tersebut seperti Piala Sudirman.

Kondisi tersebut membuat PBSI terpaksa memilah kompetisi yang bakal diikuti. Menurut Susy, tidak semua kompetisi bisa diikuti oleh pemain.

“Antisipasi dari PBSI adalah pengaturan penetapan target dan pengiriman pemain. Mana turnamen yang harus diutamakan,” ujar Susy.

“Terutama mereka yang masih membutuhkan poin untuk ke Olimpiade. Tentu akan berbeda dengan yang sudah aman seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon misalnya. “Banyak turnamen yang tidak memungkinkan dilaksanakan pada 2020. Kami menghargai keputusan BWF karena pertimbangan utamanya pasti kesehatan dan keselamatan atlet,” imbuhnya. (*)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.