Beginilah kalau Ladeni Lawan Hanya Sebelah Mata

indopos.co.id – Ayo, siapa yang bisa menghentikan mereka? Pertanyaan itu muncul usai Liverpool menghentikan Arsenal 3-1 di pekan kedua Liga Premier. Senin dini hari (5/10) WIB, pertanyaan itu terjawab. Klub itu adalah Aston Villa. Villa Park Stadium tak ubahnya jadi killing field untuk sang juara bertahan. Terlepas dari bagaimana gol itu tercipta, skor 7-2 di West Midlands adalah hasil yang mengejutkan bagi siapa saja.

Tetapi bila ditelisik, Liverpool di bawah arahan Klopp nyaris seperti itu. Liverpool kerap tersandung dari dari unidentified club musim lalu. Gara-gara itu, muncul pemeo, seolah-olah Liverpool cuma menyiapkan diri secara detail melawan klub-klub besar. Klub kecil hanya dipandang sebelah mata. Cerobokah Liverpool? Tidak juga. Klopp dikenal sebagai pelatih yang memerhatikan semua hal di klub secara detail. Lalu apa?

Klopp sebetulnya sudah punya rencana yang sangat jelas untuk klub yang sudah berusia 128 tahun. Tanpa ia sadari, secara historis, manajer asal Jerman ini tengah merintis jejak David Ashworth pada 1920-an dan Robert Paisley yang dikenal dengan Bob Paisley pada 1974-1983. Kedua manajer itu berhasil melakukan back to back. Artinya, mempertahankan gelar atau merebut juara dua tahun berturut-turut.

Begitu buruknya penampilan sang juara bertahan sampai-sampai Klopp hanya bisa tertawa geli. Ia nyaris tidak percaya pada beberapa hal yang dia saksikan. Rasanya tidak benar berkonsentrasi hanya pada kegagalan Liverpool setelah penampilan ajaib Aston Villa. Ollie Watkins yang bikin hat-trick, Ross Barkley,  dan brace Jack Grealish seperti mercusuar.

Baca Juga :

Imbangi Liverpool, Everton Pimpin Klasemen

Pelatih Aston Villa Dean Smith mengeksekusi taktik dengan sangat sempurna. Smith seolah-olah menggelar Okotberfest yang buruk untuk Jurgen Klopp. Oktoberfest adalah festival minum bir dua mingguan di Munich pada akhir September hingga awal Oktober.  Inilah kekalahan terburuk Liverpool sejak 1963. Mungkin juga inilah malam  terburuk The Reds di bawah rezim Klopp.

Hal yang ada dalam benak Klopp sekarang adalah apakah ini kejadian aneh atau pertanda ada masalah serius di timnya. Liverpool harus menghadapi Everton di Goodison Park pada 17 Oktober setelah jeda internasional. Klopp perlu mencari solusi.

Baca Juga :

Liverpool Pinjamkan Grujic ke Porto

Apakah Klopp masih akan memasang Adrian sebagai penjaga gawang. Sebab, penjaga gawang utama Alisson Becker mungkin harus menepi selama empat hingga enam pekan setelah tabrakan keras dengan rekannya saat latihan. Musim lalu, Alisson bahkan harus absen selama 8 pekan di awal musim. Liverpool kemudian berhasil mengatasi badai itu.

Dengan demikian, Adrian adalah satu-satunya pilihan paling memungkinkan di bawah mistar gawang. Toh tahun lalu, Adrian melakukan tugasnya dengan sangat baik. Di luar Adrian, Naby Keita juga melorot. Firmino malahan bermain agak kasar. Liverpool seolah-olah merindukan Jordan Henderson, Sadio Mane, dan Thiago Alcantara.

Tiga pemain terakhir yang disebutkan harus fit saat bermain di Goodison pada 17 Oktober. Tetapi, di musim yang paling bergejolak ini, tidak ada yang bisa dianggap remeh. Villa Park menjadi titik balik bagi Liverpool musim lalu ketika mereka menjadi juara. Kala itu mereka mencetak dua gol telat untuk memenangkan pertandingan.

Terkadang kekalahan telak bisa sama signifikannya dengan kemenangan sensasional. Artinya, Klopp harus berharap Villa Park kembali menjadi titik balik bagi timnya.

‘’Aston Villa bermain dengan sangat baik. Mereka memaksa kami melakukan kesalahan demi kesalahan. Kami akan berdiri, berlatih, dan bermain lagi setelah kekalahan menyakitkan ini,’’ sebut Klopp yang menggantikan manajer Brendan Rodgers sebagai manajer Liverpool pada 9 Oktober 2015. (*)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.