Strategi Bertahan Industri Makanan dan Minuman, Inovasi Kunci Kompetisi Global

indopos.co.id – Pelaku industri makanan dan minuman (mamin) di Indonesia terus memacu inovasi guna menghadapi kompetisi industri global. Saat ini, kompetisi global menuntut produk lebih murah dengan kualitas tinggi.

Tidak cukup sampai disitu, tantangan juga datang seiring Pandemi COVID-19. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan, penerapan beleid pengurangan pajak super yang baik dapat mengurangi biaya produksi hingga 15-20 persen.

Baca Juga :

Hal tersebut bisa terjadi karena insentif pada bidang penelitian dan inovasi. ”Menggantikan BTP (bahan tambahan pangan) dengan lainnya bisa mengurangi biaya produksi sampai 20 persen. Tapi dengan mutu yang lebih bagus dan biaya yang lebih murah,” ungkapnya di Jakarta, baru-baru ini.

Dia berharap, pemerintah juga menerapkan disinsentif yang besar bagi pelaku usaha yang melanggar. Adhi menyarankan, agar beleid tersebut juga diikuti dengan bauran aturan pendukung lainnya untuk mengakselerasi produksi.

Baca Juga :

“Jangan sampai inovasi cepat terus daftar di (Badan Pengawas Obat dan Makanan) BTP lama. Ini juga harus sinkron,” harapnya.

Sementara itu, Gapmmi menyatakan, sekitar 50 persen dari anggotanya telah bermitra dengan sekolah menengah kejuruan (SMK) pada semester I/2019. Adhi mengklaim per anggota telah bekerja sama dengan 5 SMK hingga 10 SMK, sedangkan industri mamin besar mampu bekerja sama dengan 50 SMK.

Baca Juga :

Selain mengurangi biaya produksi, dia mengatakan, industri mamin dapat dengan mudah menyerap tenaga kerja berkualitas dari hasil program kemitraan tersebut. Pasalnya, peserta program kemitraan akan mendapatkan sertifikat sesuai dengan tingkat keahlian berdasarkan hasil uji kompetensi.

Gapmmi menilai ketersediaan bahan baku menjadi tantangan utama bagi industri makanan dan minuman dalam menghadapi dampak negatif dari sejumlah sentimen global sepanjang 2020. Dirinya menambahkan, larangan ekspor sawit oleh Uni Eropa kemungkinan dibalas dengan membatasi impor bahan baku susu. Padahal, ekspor susu dari Benua Biru itu mencapai 30 persen dari kebutuhan industri mamin akan bahan baku tersebut.

Di sisi lain, dia menilai subtitusi bahan baku tidak bisa serta merta dipacu. Kondisi serupa, katanya, bisa terjadi untuk impor kedelai dan gandum yang menopang industri mamin nasional.

”Maka otomatis, harga susu akan naik dan mempengaruhi daya saing,” ulasnya. Sementara itu, Asosiasi Modal Ventura Untuk Startup Indonesia (Amvesindo) menilai, akselerasi dan ekspansi perusahaan rintisan berbasis makanan dan minuman (mamin) akan makin kencang dan agresif.

Bendahara Amvesindo Edward Ismawan Chamdani menilai,inovasi di sektor ini sudah lama terjadi dan makin agresif di dua tahun terakhir dengan masuknya pendanaan dari perusahaan ventura ke Fore dan Kopi Kenangan, serta sejumlah restoran berjejaring yang sudah mapan.

”Tren urun investasi juga sudah lama terjadi. Dimana binis kuliner diinvestasikan oleh beberapa investor dengan turunnya POJK 37 untuk equity crowdfunding serta POJK 77 maupun IKD (inovasi keuangan digital) di area project financing,” jelasnya.

Menurutnya, akan terjadi lebih banyak lagi inovasi urun dana melalui platform yang mendukung sektor bisnis kuliner itu, baik dengan pola waralaba, operatorship, maupun kepemilikan langsung. Dia melihat potensi cukup jelas dari populasi dan demografi Indonesia sehingga pasar sangat mendukung penyerapan bisnis kuliner.

Kendala maupun peluang lebih ke investasi yang akan lebih padat di kota besar. Selain itu, dia juga menilai dukungan pemerintah dan swasta sudah mencukupi dan sekarang ini cukup agresif membuat program dukungan di beberapa daerah destinasi yang notabene akan mendukung bisnis kuliner juga.

”Seperti program akselerasi akan mempercepat startup di sektor ini berkembang. Namun pelaku harus pintar-pintar memilih platform akselerasi mana yang mereka ikuti,” sarannya.

 

WFH Kerek Penjualan Snack

Pandemi COVID-19 membuat PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) terus berinovasi. Setelah sebelumnya sempat meluncurkan produk snack baru dengan merek Garuda Potato pada Agustus silam, kini mereka kembali meluncurkan Garuda O’Corn yang merupakan inovasi dari hasil open collaboration.

Dengan menggandeng partner global yang telah sukses mengembangkan merek Bugles. Mengusung bentuk produk yang unik dan pertama kali di Indonesia, diharapkan produk ini dapat diterima oleh konsumen pecinta snack di Indonesia, khususnya bagi kalangan young-adult.

Ini menjadi milestone bagi mereka. Terutama di tengah kondisi pandemi yang masih berlangsung, di mana kedua produk baru mereka itu menjadi yang pertama dari extend brand Garuda ke kategori non peanut. ”Hal ini sejalan dengan strategi bisnis dan pertumbuhan GOOD ke depannya yaitu dengan terus melakukan terobosan-terobosan baru dalam meningkatkan penjualan baik melalui jalur distribusi, segmen, dan pangsa pasar yang baru. Kami optimistis peluncuran produk baru yang inovatif ini akan sukses,” kata Direktur Marketing Garudafood Ferry Haryanto di Jakarta, Senin (5/10) lalu.

Dia menambahkan, pihaknya selalu terbuka untuk melakukan kolaborasi usaha dengan pihak lain seperti halnya kerja sama yang telah terjalin dengan Barry Callebaut (2016), Falcon (2019) dan Hormel Foods Asia Pacific (2019 – selai Skippy). GOOD yakin industri makanan dan minuman akan mampu untuk pulih kembali di saat pandemi ini.

Direktur GOOD Paulus Tedjosutikno menambahkan, sektor industri ini akan tetap menjadi andalan dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dengan dukungan pemerintah dalam hal kebijakan-kebijakan yang tepat. Meski demikian, di tengah Pandemi COVID-19 ini bisnis mereka bukan tanpa hambatan.

Namun demikian, dirinya masih melihat beberapa peluang. Seperti, dengan perubahan perilaku masyarakat yang menghabiskan waktu di rumah (Work From Home/WFH), diharapkan permintaan produk makanan ringan dan siap saji turut terkerek naik.

“Selain itu, kami juga akan menyasar pasar kelas menengah dengan melakukan inovasi produk yang lebih premium namun masih terjangkau (affordable premium product),” sebut Paulus. (dew)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.