Aldila Sutjiadi, Srikandi Tenis Andalan Indonesia

Disiplin, Kerja Keras dan Pantang Menyerah

indopos.co.id – Sosok Aldila Sutjiadi mungkin sudah tidak asing lagi di dunia olah raga, terlebih cabang tenis. Ya, perempuan  23 tahun itu, salah satu petenis andalan Indonesia. Kemampuan dara manis akrab disapa Dila itu, tidak perlu diragukan.

Wanita cantik kelahiran  Jakarta 2 Mei 1995 itu, menyukai olahraga tenis sejak usia 5 tahun. Berkat dukungan penuh kedua orang tua, ia mulai menekuni tenis di klub KTKG (Kampus Tenis Kelapa Gading) di bawah binaan salah satu legenda tenis Indonesia, Hadiman.

Baca Juga :

”Awalnya ikut nonton kakak saya yang Latian. Saya sempat  diterima masuk di klub itu karena usia baru lima tahun, sementara syaratnya usia 6 tahun. Tapi karena saya bisa mengikuti program latian, saya akhirnya diterima juga berlatih di klub tersebut,” tutur Dila mengawali wawancara bersama INDOPOS, kemarin.

Sebelum serius memilih tenis, Dila juga pernah menekuni basket. Itu ia lakoni kala masih menempuh pendidikan bangku Sekolah Dasar (SD) Don Bosco, Pulo Mas, Jakarta. Ia pernah mewakili tim basket putri SD Don Bosco berlaga di kompetisi antarsekolah.

Baca Juga :

”Jadi, waktu pas SD itu mungkin bisa dibilang setengah-setengah, antara main tenis dan basket,” beber Dila. ”Tapi setelah lulus SD, aku pindah sekolah ke SMP Jubilee, Sunter, dan setelah itu tidak pernah main basket lagi,” tegasnya.

Pemuja Roger Federer itu menuturkan bercita-cita sejak kecil berkiprah di dunia model. Namun, petenis bertinggi 170 sentimeter itu, mengurungkan niat setelah rutin berlatih tenis. Latihan itu, membuat kulit Dila terbakar matahari dan banyak bekas luka akibat terjatuh.

Baca Juga :

”Jadi, enggak mungkin deh jadi model karena kulitku sudah terbakar matahari, sudah banyak bekas luka jatuh,” ulas Dila menjelaskan alasan tidak mengejar impian menjadi model dan fokus di dunia tenis.

Dila mengenal tenis tidak lepas dari kisah kedua kakak kandungnya yang telah terlebih dahulu berkecimpung pada cabang olahraga tersebut.

”Keluarga saya berdarah petenis. Mulai papa, kakek hingga kakak. Karena itu, saya menyukai olah raga tenis. Lagi pula sejak kecil saya lebih suka mainan bola tenis dibanding boneka,” ungkap Dila.

Dila telah mengukir banyak prestasi dunia. Mulai sapu bersih medali emas PON Riau 2012 hingga menjadi jawara Asian Games 2018 bersama Christopher Rungkat nomor ganda campuran. Dia mengawali karier profesional saat berusia 15 tahun. Dila bermain dalam turnamen International Tennis Federation (ITF) Jakarta.

Karier Dila semakin bersinar saat mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 Riau. Putri Indriatno Sutjiadi itu, memborong tiga medali emas untuk tunggal putri, ganda putri, dan beregu. Selain itu, Dila telah mengantarkan Indonesia ke Group 1 Piala Fed Asia/ Oceania pada 2013. Melihat potensi di bidang tenis itu, sejumlah universitas di Amerika Serikat (AS) menawarkan beasiswa. Dila akhirnya memilih tawaran full scholarship dari Universitas of Kentucky AS.

Ia menuntaskan kuliah bidang Matematika Ekonomi selama empat tahun. Ia lulus dengan predikat summa cum laude dengan IPK 3,92 nyaris sempurna. Dia dinobatkan sebagai salah satu remaja paling berprestasi di AS dalam Elite 90 yang diinisiatori The National Collegiate Athletic Associate (NCAA). Dila dinilai berpestasi di akademik dan tenis sekaligus.

”Kunci sukses saya ada tiga, disiplin, kerja keras, dan pantang menyerah. Tidak hanya di lapangan, tapi juga luar lapangan. Seperti menjaga pola makan,” paparnya.

Lebih jauh, Dila masih ingin terus mengembangkan permainan untuk meraih banyak gelar. Salah satu mimpinya bermain di turnamen kasta tertinggi Grand Slam.

”Saya berharap bermain tenis lebih baik lagi. Salah satu mimpi saya bisa bermain di Grand Slam,” ungkapnya. ”Tahun ini, proyeksi saya tembus 600 dunia dulu,” tambah  perempuan berparas manis tersebut.

Di masa pandemi, Dila mengaku masih tetap berlatih. Di awal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dia hanya berlatih di rumah dengan menggunakan zoom. Setelah GBK buka, dia kembali berlatih.

”Tapi hanya boleh berlatih pagi hari, sementara sore saya manfaatkan main gitar, masak, dan main golf,” jelas Dila.

Dila mengaku fokus bermain tenis. Belum berpikir bekerja atau berbisnis. ”Tapi nanti setelah  tidak bermain tenis lagi saya baru berpikir untuk mendirikan usaha atau bisnis,” paparnya.

Antara Traveling, Kuliner, dan Golf

Selain olahraga tenis, Aldila Sutjiadi ternyata juga hobi traveling. Itu dilakukan di sela-sela mengikuti turnamen di daerah atau negara lain.

”Kalau ada waktu senggang, saya menyambangi destinasi wisata mancanegara. Saya juga  sering mencicipi berbagai kuliner tradisional  di luar makanan Indonesia,” aku Dila.

Dengan banyaknya kejuaraan tingkat internasional tentu membuat Dila sering berkeliling ke berbagai negara. Seperti Thailand, Amerika, Singapura, Tiongkok, dan sejumlah negara lain. Itu menjadi salah satu yang disukai putri bungsu pasangan Indriatno dan Herawati tersebut.

”Yang membuat saya suka tenis itu karena masuk olahraga berat dan jarang orang suka. Selain itu, juga bisa traveling kalau lagi bertanding,” ungkapnya.

Menurut Dila, di belahan dunia ini ternyata masih banyak lokasi-lokasi menarik patut dikunjungi. Karena itu, sembari bertanding diberbagai kejuaraan, kesempatan itu, dimanfaatkan menjelajahi berbagai wilayah di dunia.

”Kadang saat bertanding kan di kota kecil, yang itu justru belum banyak dikunjungi,” katanya.

Ditanya mengenai target, Dila mengatakan ingin bermain di Grand Slam. Tetapi, keinginan tersebut tentu masih butuh proses dan waktu tidak pendek. Saat ini. Dila akan berlatih ekstra untuk memperbaiki ranking dunia. Dila juga menggilai sejumlah cabang olahraga lain. Mulai golf, renang, lari, menembak, dan basket.

”Pokoknya saya sangat menyukai aktivitas bersifat olahraga. Karena sejak kecil saya suka olahraga dibanding  main boneka,” tuturnya.

 

Korbankan Masa Kecil untuk Tenis

Aldila Sutjiadi terlahir dari keluarga petenis. Ayahnya, Indriatno Sutjiadi, suka bermain tenis. Kesukaaan itu, mendorong Indriatno mengarahkan anak-anaknya menekuni tenis. Selain Dila, kakaknya, Adrianus Jonathan Amdanu Sutjiadi juga petenis.

”Papaku dan kakakku main tenis. Semua bisa main tenis, dulu kakakku itu mantan atlet junior Indonesia dan cukup bagus. Mereka semua paling berjasa membuatku menjadi petenis seperti sekarang ini,” aku Dila melalui rekaman WhatsApp, kemarin.

Dulu ketika masih junior, Dila mengaku belum bisa menghasilkan uang. Kalau pun ada sponsor jumlahnya tidak seberapa.

”Karena itu, segala biaya untuk keperluan bertanding dan ikut turnamen 100 persen  ditanggung  orang tua. Keluarga mendukung penuh mulai pegang raket sampai sekarang ini. Saya juga  mengucapkan terima kasih banyak kepada kakak saya yang terus memompa semangat saya agar berprestasi lebih baik lagi di olahraga tenis,” ungkapnya.

Dila mengaku banyak mengalami suka duka selama menjadi petenis. Sukanya menemukan hal baru ketika bermain di suatu negara.

”Saya kan hobinya traveling. Jadi, saya banyak menemukan hal baru. Misalnya, teman baru, kuliner, wisata baru, dan lain-lain,” ujar Dila.

Sementara dukanya, Dila banyak mengorbankan waktu kecil  untuk berlatih tenis. ”Saat teman pulang sekolah bermain, saya tidak tidak bisa. Saya harus berlatih dan berlatih hingga saya kuliah. Tapi saya tidak menyesal karena sudah berkomitmen menjadi petenis profesinal,” paparnya. (bam)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.