Alexa Metrics

Bahu Membahu Bantu UMKM, Platform Medsos Tawarkan Pelatihan

Bahu Membahu Bantu UMKM, Platform Medsos Tawarkan Pelatihan Pelaku UMKM tidak kehilangan semangat untuk tetap produksi meski terhimpit masalah modal. (Foto; ANTARA)

indopos.co.id – Sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi yang paling terdampak Pandemi COVID-19. Kondisi saat ini membuat supply dan demand serta rantai pasok terganggu, sehingga roda perekonomian di tataran UMKM tersendat.

Menurut data dari Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM), sektor usaha UMKM yang paling terdampak COVID-19 antara lain, 35,88 persen penyedia akomodasi dan makanan minuman, kemudian 23,33 persen pedagang besar dan eceran, serta 17,83 persen industri pengolahan UMKM.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, tumbangnya UMKM dalam krisis kali ini dikarenakan Pandemi COVID-19 telah menghajar sisi suplai dan demand UMKM. Sehingga membuat sektor ini terpojok dan tidak berdaya dalam membantu pemulihan ekonomi nasional.

‘’Dari sisi suplai, permasalahan yang dihadapi oleh para pelaku UMKM selama krisis COVID-19 yakni produksi dan distribusi yang terhambat. Kemudian sulitnya bahan baku, mengingat para pelaku UMKM masih mengandalkan impor bahan baku. Terakhir, masalah sulitnya mengakses tambahan permodalan,’’ jelasnya.

Sedangkan dari sisi permintaan, pembatasan aktivitas dan kekhawatiran masyarakat atas penularan COVID-19 yang begitu masif menjadi faktor utama penurunan permintaan konsumen atas produk-produk UMKM. Pun demikian dengan daerah-daerah yang tidak memberlakukan PSBB, aspek demand atas produk-produk UMKM tetap mengalami penurunan.

Konsumen lebih memilih untuk menjalankan berbagai aktivitasnya di rumah ketimbang di luar karena khawatir akan penularan virus. Bahkan menurut OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) setelah September 2020, akan ada separuh UMKM yang terpaksa harus gulung tikar. Sebagai salah satu pilar ekonomi nasional yang sangat penting, Pemerintah berupaya habis-habisan membangkitkan UMKM melalui berbagai cara.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menjelaskan, UMKM selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi nasional. Setidaknya  terdapat lebih dari 64 juta unit UMKM yang berkontribusi 97 persen terhadap total tenaga kerja dan 60 persen PDB nasional.

Jumlah ini menunjukan peran UMKM yang sangat besar bagi perekonomian nasional. Oleh sebab itu, jika separuh UMKM gulung tikar maka dikha watirkan akan berdampak besar bagi perekonomian nasional.

“Berdasarkan data APEC tahun 2018 jumlah UMKM mencapai 97 persen dari total keselu ruhan usaha dan berkontribusi 50 persen terhadap tenaga kerja. UMKM juga berkontribusi signifikan GDP mencapai 20-50 persen,’’ ungkapnya.

Dia menambahkan, meski penuh dengan tantangan, sek tor UMKM masih memiliki harapan dan peluang untuk meningkatkan skala bisnisnya. Peluang untuk meningkatkan ekspor masih terbuka lebar, apabila pelaku UMKM mau melakukan inovasi produk dan mendesainnya dengan sentuhan teknologi.

Menurutnya, ada tiga sektor yang memiliki peluang besar bagi UMKM untuk dapat meningkatkan ekspornya di tengah pandemi seperti saat ini. Yaitu, produk makanan dan minuman, fashion, serta furniture dan kerajinan.

“Memang kontribusi ekspor UMKM hanya mencapai 14 persen. Sementara usaha besar yang jumlahnya hanya 0,01 persen dapat berkontribusi hingga 86 persen. Angka ini masih jauh dari kontribusi UKM di negara-negara APEC yang berkisar 35 persen,’’ imbuhnya.

Untuk memastikan UMKM tetap bertahan, memang butuh dukungan bersama lintas sektoral. Pekerjaan bersama ini diakuinya tidak mudah, terlebih di saat permintaan dunia mengalami slow down akibat sama-sama terkena wabah COVID-19. Sebagai contoh bentuk kegiatan atau dukungan kepada UMKM, KemenkopUKM mencetuskan beberapa program se perti Gerakan Belanja di Warung Tetangga. Selain itu dukungan program produksi alat pelindung diri oleh UMKM.

‘’Kita juga ada program pasar digital UMKM, melalui program ini potensi belanja yang bisa dimanfaatkan UMKM mencapai Rp35 triliun. Lalu ada juga gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) dan kita akfif mendorong sektor UMKM go digital,’’ bebernya.

Kementrian Perdagangan pun terus berupaya menyelamatkan UMKM dari krisis ini. Tidak sendiri, Kemendag membuka tangan kerja sama dengan berbagai pihak. Salah satunya kolaborasi dengan Facebook melalui kampanye virtual #TumbuhdiFacebook untuk membantu para pelaku UMKM lokal bertahan di tengah pandemi. Melalui program yang berlangsung pada Oktober 2020—Januari 2021 ini, Kemendag dan Facebook akan menyelenggarakan berbagai kegiatan edukasi, diskusi, hingga festival belanja.

‘’Melalui kolaborasi ini, para pelaku UMKM lokal diharapkan akan memiliki keahlian dan wawasan baru untuk bertahan, bertumbuh, bahkan menjangkau pangsa pasar yang lebih luas dengan bantuan platform daring seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp,’’ ujar Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.

Kolaborasi ini, lanjut Mendag, merupakan bentuk konkret pentingnya kerja sama pemerintah dan pihak swasta dalam mendukung program pemerintah ‘Bangga Buatan Indonesia’ dan ketahanan UMKM lokal, serta mendorong pergerakan roda perekonomian tanah air.

Sebagai langkah awal kolaborasi, Kemendag dan Facebook menyelenggarakan pelatihan virtual Akademi Instagram untuk membantu para pelaku UMKM di seluruh Indonesia memaksimalkan penggunaan platform digital dalam mengembangkan usaha mereka.

Sementara itu, Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia Ruben Hattari menyampaikan, di tengah situasi pandemi, Facebook memahami bahwa beralih ke platform daring merupakan sebuah keniscayaan bagi para pelaku UMKM.

‘’Di sisi lain, kami juga menyadari bahwa adopsi digital bukan hal yang mudah untuk diterapkan, karena masih banyak kelompok masyarakat yang belum dapat memaksimalkan penggunaan layanan digital. Untuk itu, kami senang sekali dapat berkolaborasi dengan Kemendag dalam meluncurkan serangkaian kegiatan yang bisa mendorong transformasi digital UMKM Indonesia,’’ terang Ruben.

Dalam program kolaborasi yang berlangsung pada periode Oktober 2020—Januari 2021 ini, akan dilaksanakan 10 kegiatan yang melibatkan pelaku UMKM, perwakilan perdagangan, dan pegawai Kemendag.

Sementara itu, meningkatkan kualitas UMKM, Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) bersama BPOM RI, Kementrian Perdagangan Republik Indonesia dan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menyelenggarakan serangkaian sesi pelatihan untuk mendukung pengembangan wirausahawan dan Industri Kosmetika UMKM. Kegiatan ini diadakan untuk memberikan bimbingan tek nis dalam memanfaatkan berbagai peluang di pasar pada era Pandemi COVID-19, khususnya melalui digital dan social-commerce.

‘’Industri kosm etika adalah salah satu sektor andalan industri di Indo nesia dan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, dimana sebagian besarnya adalah UMKM. UMKM kosmetika turut terdampak secara signifikan akan terjadinya perubahan pe rilaku konsumen dan melemahnya daya beli di era pandemi ini. Perubahan pola perdagangan secara daring yang bertumbuh pesat dan penyesuaian akan kebiasaan baru menjadi tantangan yang tidak mudah bagi para pelaku UMKM kosmetika,’’ jelas Ketua Umum Perkosmi Sancoyo Antarikso.

Oleh karena itu, lanjutnya, pelaku UMKM kosmetika harus berinovasi untuk dapat menghadirkan produk yang relevan dan mengikuti perkembangan digital yang berkembang pesat saat ini.

‘’Kosmetika tematik adalah kosmetika yang ikonik/ identik dengan suatu daerah, menjadi kekhasan dari kekayaan alam Indonesia. Sehingga sangat penting untuk dikembangkan lebih lanjut seperti rumput laut dari Mataram, bedak dingin dari Banjarmasin, dsb. BPOM telah mengadakan berbagai diskusi untuk mendorong percepatan pengembangan kosmetika tematik yang dapat memberikan kontribusi untuk penggerak perekonomian masyarakat dan nasional,’’ imbuh Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetika BPOM RI Gustina Andarini. (dew)



Apa Pendapatmu?