Alexa Metrics

Rashford, MBE dan Hobi Bikin Keputusan Buruk MU

Rashford, MBE dan Hobi Bikin Keputusan Buruk MU Marcus Rashford (Foto: AFP)

indopos.co.id – Manchester United adalah klub yang sudah terbiasa membuat keputusan buruk. Tidak heran kalau  sekarang mereka juga takut membuat keputusan yang baik. Salah satu keputusan buruk itu adalah tak ambil pusing Mauricio Pochettino tetap ‘’berkeliaran di pasar’’. Di saat bersamaan, MU juga untuk sementara membiarkan kekuasaan Ole Gunnar Solksjaer melayang-layang.

Yang harus dilakukan pemain seperti Marcus Rashford sekarang adalah memastikan bahwa ia tidak menjadi korban sikap Manchester United yang selalu membuat keputusan buruk di atas.  Marcus sebentar lagi berusia 23 tahun. Ia lahir di Wythenshawe, Manchester Selatan, 31 Oktober 1997. Wythenshawe dulunya masuk kawasan Cheshire. Pada 1931, Wythenshawe yang luasnya sekitar 11 mil persegi masuk ke Greater Manchester.

Kiprah Marcus Rashford belakangan menjadi buah bibir. Sebelum pandemi Covid-19, Rashford dikenal sebagai striker sayap Manchester United dan tim nasional Inggris. Di masa pandemi, Rashford membuat sebuah aksi sosial yang bikin semua orang berdecak kagum. Ia jadi pelopor kupon makan untuk menyelamatkan sekitar 1,3 juta anak-anak Inggris yang terkena dampak virus maut dari Wuhan Tiongkok.

Aksi humanistiknya membuat PM Inggris Boris Johnson angkat topi.  Tidak cukup sampai di situ, Jumat malam (9/10), Ratu Elizabeth II memberikan apresiasi khusus berupa MBE (Member of British Empire).  Rashford juga akan mendapatkan gelar doktor honoris causa dari Universitas Manchester.

Ia dianggap sebagai sosok panutan, dewasa, dan cerdas. Ia jadi sosok anak muda yang mengingatkan pemerintah bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memerangi kemiskinan anak. Itu adalah pesan cerdas dan tepat waktu di tengah ingar binger zaman yang profan, egoistik,  dan rasialis.

Di lapangan hijau, ia masih memiliki beberapa agenda penting yang harus dilakukan. Benar bahwa Rashford adalah starter reguler untuk MU dan timnas Inggris. Benar juga bahwa dengan sepatu bot khusus dari Nike, Rashford mencetak gol untuk Inggris yang menang 2-1 atas Belgia di Nations League, Minggu malam (12/10).

Tapi seperti yang ditunjukkan oleh rekan satu tim di klub dan level internasional seperti Dele Alli dan Jesse Lingard, pesepakbola harus terus bergerak ke depan jika tidak ingin orang lain melewatinya.

Jelang kompetisi MU sudah membuat Rashford pusing tujuh keliling.  Kalau saja MU jadi membeli Jadon Sancho dari Borussia Dortmund, itu sama saja dengan memaksa Rashford harus angkat kaki dari Old Trafford.

Dengan demikian, Rashford tetap menjadi pusat harapan lini depan Manchester United bersama Anthony Martial dan Mason Greenwood. Sekarang Rashford harus memastikan ia berada di tempat yang tepat untuk melawan ancaman itu. Sebab, ancaman itu boleh jadi muncul lagi di musim panas mendatang.

Kini, Rashford harus sadar dengan posisi terbaiknya. Ia bukan penyerang tengah, meski terkadang bermain di sana untuk MU, karena dia bukan pencetak gol yang sepenuhnya alamiah jadi striker.

Di MU, ia berfungsi paling baik di sisi kiri tiga penyerang. Melawan Brighton, ia mencetak gol indah. Gol itu diawali dengan gerakan  memotong dari sisi kiri. Itu adalah indikasi gol dari perkembangannya baru-baru ini dan yang menunjukkan tidak ada alasan mengapa dia tidak bisa meningkatkan rata-rata golnya satu gol setiap tiga pertandingan.

Greenwood, lebih bahagia di sisi kanan. Remaja itu bisa dibilang penyerang paling menarik yang pernah dihasilkan Inggris selama satu dekade atau lebih. Rashford tidak memiliki tingkat kemampuan yang luar biasa. Jika ia ingin lanjut ke tahap berikutnya, ia membutuhkan posisi terbaik dan latihan lebih keras lagi. Di Manchester United, hidup terkadang tampak terlalu mudah bagi para pemain. Di tim Solskjaer, terlalu banyak pemain yang gagal menunjukkan konsistensinya.

Dengan pemikiran ini, penting untuk menunjukkan bahwa meskipun Rashford saat ini tidak akan bergabung dengan Manchester City atau Liverpool, ia mungkin melakukannya jika ia beberapa tahun bekerja dengan Pep Guardiola atau Jurgen Klopp di belakangnya.

Para pemain muda perlu mengambil tanggung jawab atas arah perjalanan mereka sendiri, tetapi mereka juga perlu mendapatkan bimbingan dari sosok yang sepadan.

Rashford hampir saja berada di persimpangan jalan kariernya, tapi akan sangat memalukan jika potensinya nyaris dibekap oleh pemain lain yang belum tentu klop. MU harus tahu bahwa mereka pernah merekrut Angel di Maria, Memphis Depay, dan Alexis Sanchez. Mereka adalah par excellence atau contoh terbaik pemain top yang jadi flop di Old Trafford. (*)



Apa Pendapatmu?