Tiga Cakada Tangsel Sebut Kampanye Virtual Kurang Maksimal

Kompak Membantah Kampanye Tularkan Corona

indopos.co.id -Melonjaknya kasus penularan COVID-19 di Kota Tangsel yang diduga akibat dampak kampanye berupa pertemuan terbatas antara cakada (calon kepala daerah) dengan warga membuat prihatin. Bahkan, Bawaslu RI menyebutkan tingkat penularan virus corona di Kota Tangsel akibat kampanye tertinggi di Tanah Air.

Tiga pasangan Calon Wali Kota (Cawalkot) Tangsel buka suara terkait permintaan kampanye daring (dalam jaringan). Ketiganya beralasan penggunaan kampanye daring memiliki banyak kesulitan pengaplikasiannya kepada masyarakat.

Calon Wakil Wali Kota Tangsel nomor urut 1 Rahayu Saraswati (Sara) mengatakan jika kampanye daring menggunakan program ber-Zoom-pa dengan aplikasi zoom beberapa kali mereka terapkan. Namun kampanye secara virtual itu mendapatkan sejumlah kendala.

”Kalau tidak punya kendala mungkin setiap kampanye kami akan dilakukan secara virtual. Hampir lima kali kami gunakan kampanye via zoom tetapi tidak maksimal,” katanya, Senin (12/10).

Dijelaskan Rahayu juga, ada banyak kendala dalam pelaksanaan kampanye daring atau virtual dalam mengurangi penularan virus corona. Yakni, masalah komunikasi dengan peserta kampanye yang kerap mengalami gangguan sinyal.

Kendala lainnya, adalah tidak semua masyarakat paham penggunaan media sosial (medsos). ”Untuk kampanye virtual jujur itu masih sangat membatasi gerak kami. Tidak semua orang juga terbiasa menggunakan media sosial. Bahkan kemarin itu ada salah satu bapak yang tidak tahu Zoom itu apa?,” paparnya.

Terkait pelaksanaan kampanye terbatas, lanjut Rahayu, penerapan protokol kesehatan selalu diterapkan. Dirinya pun kerap berpesan kepada panitia penyelenggara kampanye pasangannya itu untuk tetap mengutamakan kesehatan warga. Artinya secara tidak langsung pihaknya tetap memerhatikan penularan virus corona tersebut.

”Makanya kami heran kenapa bisa meningkat penularan virus corona?  Bisa saja warga tertular setelah pulang kampanye. Jadi tidak dapat disebut karena kampanye terbatas penularan COVID-19 itu terjadi,” cetusnya.

Sedangkan Calon Wali Kota (Cawalkot) Nomor Urut 2, Siti Nur Azizah mengatakan setiap kampanye digabungkan antara konvensional dengan virtual. Untuk kampanye terbatas diberikan porsi 60 persen dan virtual 40 persen. Alasan memberikan porsi besar kepada kampanye terbatas lantaran pembuatan kanal kampanye di media sosial milik pasangannya itu belum rampung.

”Kalau kampanye terbatas, kami hanya tetapkan jumlah peserta saja dan memberikan masker dan mengatur jarak. Kampanye kami gabungkan agar masyarakat yang tidak bisa ikut kampanye terbatas kami dapat melihat dan mengikutinya melalui virtual,” ucapnya.

Putri Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin ini juga mengklaim peningkatan kasus COVID-19 di Tangsel itu bukan karena mengikuti kampanye terbatas. Alasannya wabah penyakit itu dapat tertular karena banyaknya kegiatan lain yang diikuti masyarakat.

Apalagi kampanye terbatas ini hanya diikuti 50 peserta akan sangat sulit menularkan virus corona.

”Logikanyanya kalau hanya 50 orang dengan pembatasan jarak dan pakai masker, bagaimana virus ini menularkan? Itu data dari mana? Setiap kampanye kami siapkan protokol kesehatan,” ungkapnya.

Sementara, Cawalkot Tangsel nomor urut 3, Benyamin Davnie mengatakan selama ini kampanye yang banyak mereka pergunakan adalah kampanye terbatas. Alasannya visi dan misi yang mereka miliki lebih cepat mengena kepada masyarakat.

Namun begitu, setiap pelaksanaan kampanye tatap muka dilaksanakan, dirinya kerap memastikan seluruh aturan dan penerapan protokol kesehatan diterapkan.

”Biar cepet mengena program  kami. Tetap sebelum kampanye penerapan protokol kesehatan dan program 3M kami siapkan. Kami tidak akan berkampanye kalau pesertanya tidak patuh sama peraturan kesehatan,” katanya.

Lantaran penggunaan kampanye terbatas membuat penularan COVID-19 meningkat, mantan Wakil Wali Kota Tangsel ini akan mengurangi kegiatan tatap muka. Bersama pasangannya, dia akan menggunakan kampanye virtual dalam membantu mengurangi kasus penularan virus corona tersebut.

Terpisah, Pengamat Politik Universitas Pamulang (Unpam) Tangsel Sonny Majid mengatakan tidak digunakannya kampanye virtual oleh ketiga paslon karena ketidaksiapan tim sukses dan mesin politik untuk mensosialisasikan visi dan misi calon kepala daerah itu.

Padahal dengan dana kampanye yang dimiliki akan sangat mudah melaksanakan kampanye virtual tersebut. Artinya, ketiga paslon ini tidak memiliki kepercayaan terhadap penggunaan teknologi untuk menarik perhatian masyarakat dalam memilih mereka.

”Tentu ada keuntungan kampanye langsung. Salah satunya pemantauan lumbung suara paslon lain. Bisa saja nanti mengarah ke money politicis agar suara lawan jatuh ke tangan mereka. Kalau pakai virtual kan itu tidak akan terpetakan,”  ucapnya. (cok)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.