Alexa Metrics

Bahasa COVID

Bahasa COVID PANDEMI-Warga menggunakan masker berjalan di samping mural bergambar COVID-19 di Jalan Roda 2 Gang Mesin RT 01/01, Kelurahan Babakan Pasar, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (11/10/2020). Foto: Arif Firmansyah/ANTARA

Oleh : Yosep Bambang MS*

indopos.co.id-Di tengah Pandemi COVID-19, setiap hari kita membaca atau mendengar istilah baru. Social distancing, physical distancing, lock down, karantina wilayah, isolasi mandiri, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), PKM (Pembatasan Kegiatan Masyarakat), ODP, PDP, ADP, dan jaga tangga (bukan jogo tonggo) muncul di berbagai media mainstream maupun media sosial.

Kalau pandemi ini berlangsung dalam waktu lama (kita semua tidak menginginkannya), istilah baru akan semakin bertambah dan nantinya bisa menjadi istilah atau kosa kata umum bahasa Indonesia. Jangan lupa, istilah-istilah asing sudah banyak yang masuk ke dalam kosa kata bahasa Indonesia dan tidak perlu diindonesiakan lagi. Dalam teknologi (informasi), download, upload, login, logout, wi-fi, dan Internet sudah mengindonesia.

Ada kata yang “dipaksakan” diindonesiakan seperti download menjadi “diunduh” dan upload menjadi “diunggah.” Mau contoh lagi kata-kata yang berasal dari bahasa asing tetapi sudah menjadi kosa kata Indonesia? Sebagian di antaranya adalah album, bus, data, detail, domain, editor, film, dan formal. Daftar ini bisa diperpanjang.

Bahasa, seperti halnya penuturnya, yakni manusia, di satu sisi bisa (akan) mati dan di sisi lain akan selalu muncul yang baru. Pandemi COVID-19, di samping menimbulkan ketakutan, kekhawatiran, dan kepanikan di seluruh dunia, juga menimbulkan kosa kata atau istilah baru. Ini membuktikan bahwa bahasa merupakan sistem simbol primer (primary symbol) bagi manusia untuk berkomunikasi (Ratna, 2011; Turner, 2003) dan untuk memahami suatu fenomena secara bersama.

Dalam abad Internet dan teknologi komunikasi canggih saat ini, istilah yang dipakai di suatu negara akan melesat secepat kilat ke mana pun juga dan menjadi istilah umum. COVID-19, social distancing, physical distancing, dan lockdown merupakan contoh yang paling jelas.

Tidak Muncul Tiba-Tiba
Istilah-istilah baru tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berdasarkan dinamika yang ada di masyarakat. Di sinilah terbukti bahasa-bahasa itu hidup—seperti halnya kebudayaan. Ada saatnya istilah atau kosa kata tertentu mati karena tidak dipakai lagi, ada saatnya muncul yang baru karena situasi dan kondisi memang membutuhkannya.

Di negeri kita, fenomena ini menarik, apalagi terkait dengan akronim dan singkatan. Indonesia adalah negeri akronim dan singkatan. Saat ini pemerintah, misalnya, membutuhkan istilah khusus untuk memberi pengertian kepada dan mempersuasi rakyat untuk memerangi COVID-19. Maka, muncullah singkatan PSBB dan PKM. Munculnya kedua singkatan ini didukung adanya konsep pemikiran yang matang, bukan sekadar asal-asalan. Konsep jaga tangga –bukan jogo tonggo– dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, juga didasari konsep pemikiran yang matang.

Istilah-istilah baru muncul bukan hanya sebagai alat komunikasi melainkan juga sebagai alat persuasi, terutama dari pihak Pemerintah. Language Expectancy Theory (LET) yang dikembangkan oleh Burgoon dan Miller (1985) merupakan salah satu teori persuasi yang menyatakan bahwa secara verbal manusia itu berkomunikasi sesuai dengan ekspektasi sosial dan budayanya.

Pemerintah hingga saat ini tidak memilih lockdown melainkan PSBB. Kota Semarang tidak memilih istilah PSBB melainkan PKM. Gubernur Jawa Tengah memilih jaga tangga dan bukan karantina wilayah atau lockdown. Dari fenomena ini, terasa sekali kalau Pemerintah Pusat maupun Daerah berusaha menjaga psikologi rakyat agar terhindar dari kepanikan yang berlebihan atau berkepanjangan.

Jaga tangga (menjaga tetangga) disesuaikan dengan kearifan lokal atau local wisdom: setiap keluarga, selain menjaga dirinya sendiri, juga diharapkan menjaga tetangganya dan bergotong-royong. Ganjar Pranowo, misalnya, ingin menekankan solidaritas sosial dalam arti luas sebagai upaya untuk memerangi COVID-19.

Implikasi Istilah Baru
Tidak boleh kita lupakan bahwa satu istilah atau kosakata bisa memiliki implikasi sangat luas dan signifikan. Mengapa pemerintah hingga saat ini tidak melakukan lockdown karena dampaknya akan sangat luar biasa, baik secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya, serta pertahanan dan keamanan negara.
Presiden Jokowi beberapa kali menyatakan bahwa lockdown bukan opsi terbaik untuk Indonesia. Sementara itu, pihak-pihak yang berseberangan dengan pemerintah memberikan kritik bahwa lockdown merupakan pilihan terbaik karena akan memutus rantai penyebaran COVID-19.

Dari segi bahasa, satu istilah ini saja memiliki makna dan implikasi yang sangat kompleks karena di dalamnya terdapat berbagai kepentingan dari pihak-pihak yang berseberangan. Tetapi apa pun istilah yang digunakan, pemerintah harus mampu mempersuasi dan menenangkan rakyat. Selain itu, kita dorong pemerintah segera mengambil langkah nyata dan lebih tegas dalam memerangi wabah Corona yang memang berpotensi meluluhlantakkan kehidupan sosial, ekonomi, dan pendidikan kita.

Terkait dengan istilah atau ‘bahasa’ yang harus digunakan, Pemerintah harus mempertimbangkan atau menyesuaikan target yang dibidik. Kalau yang dipersuasi rakyat akar rumput, sebaiknya tidak perlu digunakan istilah-istilah asing yang sulit dipahami oleh rakyat. Biarlah istilah-istilah asing yang rumit cukup menjadi wacana akademik atau terbatas digunakan oleh kalangan pejabat Pemerintah bersama kalangan akademik.

Kepada rakyat kebanyakan harus ada pendekatan yang lebih membumi atau mudah dipahami. Untuk hal ini, Pemerintah perlu melibatkan para tokoh masyarakat lokal, pemuka agama, dan para pemimpin informal untuk menyampaikan informasi tentang betapa bahayanya COVID-19 dan bagaimana melakukan hal terbaik untuk mencegah dan segera mengakhirinya. Bukan istilah-istilah asing atau sulit yang akan mengakhiri pandemi melainkan kesadaran seluruh rakyat untuk berhati-hati dan memiliki kebiasaan hidup sehat.

Fungsi Bahasa Indonesia
Pada akhirnya, bahasa bukan hanya alat komunikasi melainkan sarana untuk saling memahami dan meneguhkan antara Pemerintah dengan rakyat, antara rakyat dengan rakyat. Di sinilah pentingnya kita membangun kesadaran bersama betapa pentingnya fungsi dan peran bahasa Indonesia untuk mewujudkan kehidupan bersama yang lebih baik, yang saling menghormati, tolong-menolong, dan mencapai tujuan bersama.

Dalam Bulan Bahasa ini, kesadaran ini perlu kita tumbuhkan. Mari kita cintai bahasa Indonesia seperti kita mencintai tanah tumpah darah dan bangsa ini. (*)

*Dekan Fakultas Bahasa dan Budaya Untag Semarang



Berita Terkait


Apa Pendapatmu?