Alexa Metrics

Perusahaan Rintisan Putar Otak, Fintech Paling Gampang Dapat Modal

Perusahaan Rintisan Putar Otak, Fintech Paling Gampang Dapat Modal Perusahaan rintisan kebanyakan menawarkan aplikasi sebagai solusi. Layanan mereka ditujukan untuk membantu masyarakat. (foto: ANTARA)

indopos.co.id -Pandemi COVID-19 yang berlangsung sejak tujuh bulan lalu merontokkan berbagai sektor ekonomi. Dibutuhkan perubahan agar sejumlah sektor ekonomi tidak kolaps. Usaha-usaha yang mulanya dijalankan offline kini mau tak mau harus merambah ke digital agar terus bertahan dan berkembang.

Tidak hanya bertransformasi, perusahaan konvensional dinilai perlu untuk berkolaborasi dan bersinergi dengan startup digital. President Director Binar Academy Alamanda Shantika Santoso menyebut, kolaborasi, sinergi, dan transformasi antara perusahaan konvensional dan digital merupakan suatu keharusan.

‘’Saat ini perusahaan konvensional tengah melakukan transformasi besar-besaran menuju digital. Misalnya, rumah sakit dan groceries yang tengah mengembangkan platform digital,’’ kata mantan petinggi Gojek itu, belum lama ini.

Bahkan, lanjutnya, banyak perusahaan besar, swasta dan BUMN melakukan investasi langsung ke startup digital untuk mencari sinergi atau saling kolaborasi. Dia menyebut, banyak perusahaan swasta yang sudah berinvestasi di startup. Contohnya, BCA melalui Central Capital Ventura, Astra International, Bank OCBC NISP melalui OCBC NISP Ventura, serta Bank CIMB Niaga melalui Genesis Alternatives Ventures.

Perusahaan pelat merah pun melakukan investasi dan sinergi dengan startup. Misalnya, BRI melalui BRI Ventura Investama, Bank Mandiri melalui Mandiri Capital Indonesia, hingga Telkom melalui MDI Venture.

Dia menekankan, transformasi digital tak melulu soal membuat aplikasi.

‘’Mereka perlu mengubah model bisnis, kapabilitas, serta kapasitas SDM yang dimilikinya,’’ imbuhnya.

Ditambahkannya, jika perusahaan konvensional enggan bertransformasi, mereka akan butuh waktu lama untuk bisa bertransformasi ke arah digital. Dia juga menjabarkan, pasca COVID-19, industri startup jauh lebih sehat. Jika dulu startup terkenal suka bakar uang, kini menurutnya sudah tidak lagi demikian.

‘’Selain kolaborasi dan sinergi, diharapkan tidak ada lagi bakar uang, sehingga startup lebih sehat dan menjanjikan keuntungan. Mindset ini sekarang ada di Mandiri Capital,’’ ujarnya.

Minat investor menyuntik modal segar ke startup di Indonesia pun masih besar di tengah pandemi corona. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, penyaluran pendanaan modal ventura hingga Juli 2020 senilai Rp12,66 triliun. Nilai itu tumbuh 19,21 persen year on year (yoy) dibandingkan Juli 2019 senilai Rp10,62 triliun.

Bila dirinci, penyertaan saham tumbuh 41,53 persen yoy dari Rp1,83 triliun menjadi Rp2,59 triliun hingga tujuh bulan pertama 2020. Adapun obligasi konversi tumbuh 5,69 persen yoy dari Rp510 miliar menjadi Rp5,39 miliar per Juli 2020. Kinerja modal ventura masih didominasi pembiayaan bagi hasil senilai Rp9,53 triliun pada Juli 2020. Nilai itu tumbuh 15,24 persen yoy dibandingkan Juli 2019 senilai Rp8,27 triliun.

Salah satu perusahaan modal ventura yang masih aktif berinvestasi di startup ialah Accelerating Asia. Modal ventura yang berbasis di Singapura ini baru saja menyuntik dana pra-Series A untuk startup Indonesia yakni KaryaKarsa dan MyBrand. Kedua startup itu masuk kedalam program akselerator modal ventura itu.

Pada tahap awal, kedua startup itu mendapatkan masing-masing pendanaan senilai USD50 ribu. Bila mampu memiliki kinerja baik, maka Accelerating Asia bakal menambah suntikan dana hingga USD150 ribu.

“Kami memperkuat kembali kehadiran di Indonesia lewat upaya-upaya rekrutmen talenta dari startup-startup. Semoga bisa memberikan keuntungan kepada para investor,’’ kata Co-Founder Accelerating Asia Craig Dixon.

Pihaknya yakin mereka bisa menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi masalah-masalah yang lebih besar di dunia pasca COVID-19.

‘’Ekosistem Asia menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang bertahap dari pandemi dengan tingkat investasi yang meningkat di sektor-sektor seperti agritech, e-commerce, fintech, dan kesehatan. Sehingga menciptakan tingkat optimistis menuju Q3 2020,’’ tambahnya.

Sebagai informasi, KaryaKarsa memiliki lebih dari 7.000 kreator konten di platform mereka dengan tingkat pemasukan lebih dari USD200 ribu dari para kreator sejak Oktober 2019. Sedangkan MyBrand adalah marketplace sosial khusus makanan yang menyediakan platform berbasis aplikasi yang terintegrasi untuk bisnis kuliner rumahan dan brand cloud kitchen untuk menjangkau massa yang lebih luas.

Sementara itu, Chief Executive Officer PT Mandiri Capital Indonesia Eddi Danusaputro menyatakan, pihaknya masih mencari startup hingga saat ini. Investasi yang diberikan merupakan pendanaan seri A. Pendanaan seri A berkisar USD3 juta hingga USD10 juta. Investasi itu dilakukan bersama dengan modal ventura dan investor lainnya.

‘’Kami sudah invest ke startups (fintech) baru. Sedang penjajakan ke satu lagi untuk pendanaan pra-series A,’’ akunya.

Mandiri Capital masih juga melirik startup yang memberikan solusi kepada para pelaku UKM. Lantaran memiliki peluang yang besar dan UKM berkontribusi besar bagi perekonomian Indonesia.

‘’Pada 2020 kami ada budget Rp50 miliar untuk dua hingga tiga investasi baru. Juga menyiapkan dana Rp50 miliar untuk pendanaan lanjutan,’’ imbuhnya.

Dia menyebut, pihaknya telah mendanai ke 13 fintech yang ada di Indonesia. Adapun jumlah dana yang telah disalurkan lebih dari Rp1 triliun. Fintech itu antara lain Mekari, Cashlez, Amartha, Yokke, Privyid, Pten, DAM, Moka, Koinworks, Investree, LinkAja, Crowde, dan Halofina.

Terpisah, Head of Research & Institutional Business PT Trimegah Securities Tbk. Sebastian Tobing mengungkap, layanan finansial dari startup masih jadi incaran favorit para investor. Dia menilai, perusahaan rintisan yang berkecimpung di sektor lain seperti traveling masih akan mengalami tekanan di masa pandemi.

Sementara itu, untuk startup bidang ride hailing seperti Grab atau Gojek, diperkirakan masih dapat bertahan di masa pandemi, namun dari sisi layanan lainnya seperti divisi food dan delivery. Dia pun mengapresiasi penggembangan layanan kesehatan dari kedua startup tersebut dalam rangka berinovasi di era pandemi.

‘’Grab dengan mengusung produk GrabHealth yang bekerjasama dengan Good Doctor, sementara Gojek bermitra dengan HaloDoc. Tapi ‘daging’ terbesar dari bisnis Grab dan Gojek ini nantinya diperkirakan justru ada di sektor finansial,’’ katanya.

Seluruh platform digital yang ada di Indonesia, lanjutnya, diperkirakan akan menjalankan fungsi finansial, seperti memberikan kredit mikro atau menawarkan produk asuransi.

‘’Makanya perusahaan BUMN dan swasta nasional saat ini berlomba untuk investasi di startup atau decacorn. Itu prospeknya sangat besar di industri finansial,’’ tambahnya. (dew)



Apa Pendapatmu?