Alexa Metrics

Robby Sumampow

Robby Sumampow Disway-Foto

Oleh : Dahlan Iskan

indopos.co.id-Akhirnya saya ke lapangan golf dan mengayunkan stik. Itulah untuk pertama kali, dalam hidup, saya mengayunkan stik golf. Aneh. Kepala stiknya bisa mengenai bola. Bolanya pun bisa terbang cukup jauh.

Harian Disway-lah yang membuat saya ke lapangan golf untuk memenuhi permintaan rekanan, yakni pemilik lapangan golf itu, Bukit Darmo Golf (BDG) Surabaya, Jawa Timur.
Hari itu, Minggu (11/10/2020) lalu, ada pertandingan golf di situ. Harian Disway harus membuka acara itu. Saya datang lebih pagi agar pelatih di situ sempat mengajari saya memegang stik lalu cara mengayunkannya.

Baru tiga kali ayunan waktu pembukaan pun tiba. Maka saya lebih banyak berdoa daripada berusaha: ups… bisa juga.

Siangnya saya harus menyerahkan piala kepada para juara. Saya pun banyak mengobrol mengenai siapa pemilik lapangan golf itu yang belakangan sakit-sakitan.

Saya tahu bos di situ. Saya juga kenal adiknya. Bahkan saya hadir saat lapangan golf itu sedang dibangun, bukan sebagai tamu, tapi sebagai wartawan. Itu sudah lama sekali, persisnya pada 1985.

Yang membuat proyek itu harus diliput wartawan adalah kehadiran Panglima ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) –kini TNI– Jenderal Leonardus Benyamin (L.B.) Moerdani atau kerap disebut Benny Moerdani. Tapi kami tidak berani mendekat, apalagi minta komentarnya. Para wartawan, kala itu, sangat takut kepada Benny Moerdani.
Sikap Benny sangat dingin kepada siapa saja. Wajahnya tidak pernah tidak serius. Ia tidak pernah terlihat tersenyum. Sikapnya tegas, tapi juga proporsional.

Misalnya, soal larangan Danramil dan Kapolsek memberikan wawancara pers. Benny punya alasan menarik. “Kalian, wartawan ini, umumnya sarjana. Danramil dan Kapolsek itu (waktu itu, Red) lulusan SD. Pasti jawaban mereka kurang bagus. Apalagi kalau kalian tekan-tekan,” ujarnya di suatu pertemuan dengan para pemimpin redaksi (pemred).

Saat meninjau lapangan golf itu rumornya sangat kuat. Benny Moerdani adalah sahabat baik pemilik lapangan golf tersebut. Itulah pengusaha Jakarta asal Solo, Jawa Tengah (Jateng) Robby Sumampow. Sehari-hari ia dikenal sebagai Robby Kethek.

Kethek, dalam bahasa Jawa, berarti kera atau monyet. Saya pun mencari tahu mengapa pengusaha yang begitu kaya mendapat nama panggilan Kethek.

“Itu karena Robby lahir di tahun kera,” ujar Didi Darwis, pengusaha besar Jakarta yang sama-sama punya leluhur di Hokja, Tiongkok.

Robby memang lahir di Solo pada 1944. Itu tahun monyet. Saat itu ada pengusaha Solo lain yang juga bernama Robby, yakni Robby Tjahjadi , pemilik pabrik tekstil yang sangat besar di Ungaran, dekat Semarang, Jateng. Keduanya sama-sama asal Solo, sama-sama sukses, sama-sama Tionghoa, sama-sama punya nama depan Robby. Sejak itu nama panggilan Kethek diberikan kepada Robby yang Sumampow.

Tapi bagaimana orang Solo punya nama belakang Sumampow? Nama lahirnya adalah Ie Kian Tiong. Waktu kecil Kian Tiong diambil anak angkat oleh seorang polisi asal Manado, Sulawesi Utara (Sulut). Nama belakang polisi itu Sumampow. Ia tinggal di Solo. Ia bertugas di kepolisian Solo. Ia dapat istri pun orang Solo.

Anak polisi Sumampow itu satu permainan dengan Kian Tiong. Bukan lagi teman sepermainan, tapi sudah seperti saudara. Maka Kian Tiong dianggap sebagai anak Sumampow sendiri. Ketika orang Tionghoa Indonesia harus punya nama Indonesia, dipilihlah nama Robby Sumampow.

Adik bungsu Robby pun –dari sembilan bersaudara– menggunakan nama yang sama, Hendro Sumampow. “Putra Pak Sumampow itu sekarang bersama kami di perusahaan kami,” ujar Hendro Sumampow yang menceritakan asal usul nama Manado itu.

Waktu membuka pertandingan itu saya bertanya pada manajer di situ. Apakah Pak Robby masih sering ke sini?

Saya tidak menduga bahwa pertanyaan itu salah waktu. Detik itu Robby Sumampow lagi kritis di ICU di RS Singapura. Lalu ia meninggal dunia keesokan harinya. Jenazahnya dimakamkan di Solo pagi ini.

Di Surabaya, Robby dikenal luas memiliki lahan sekitar 200 hektare (ha). Lahan itu dibelah jalan tol. Sisi barat jalan tol itulah yang dijadikan lapangan golf, perumahan mewah, mal, dan apartemen. Sisi timur tol masih berupa lahan kosong yang luas.

Robby memang punya banyak properti di Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, dan tentu juga di Solo.

Nama Robby mulai nge-top saat Indonesia mengambil alih Timor Timur (Timtim). Waktu itu, Benny Moerdani mencari pengusaha yang mau berjuang bersama tentara di Timor Timur.
Maksudnya agar ada pengusaha yang mau mengirim barang kebutuhan rakyat Timtim, mulai bahan makan, sandang, sampai kendaraan seperti sepeda. Dengan demikian, rakyat Timtim bisa hidup lebih baik setelah menjadi warga negara Indonesia (WNI).

Persoalannya, kapal pengangkut barang ke Timtim itu pulangnya pasti kosong. Itu menjadi mahal. Maka, Robby Sumampow diberi hak monopoli kopi hasil bumi Timtim untuk mengisi kapal yang kosong menuju Surabaya.

Timtim membuat Robby akrab dengan Jenderal Benny Moerdani. Apalagi saat itu uang operasi untuk militer tidak bisa dipenuhi seluruhnya oleh APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara).

Robby pun menyanggupi tantangan ABRI saat itu. Ada unsur berjudi di situ. Tapi Robby adalah pejudi asli. Hobi judinya dikenal luas oleh teman-temannya sampai ke Las Vegas, Amerika Serikat (AS) segala.

Bahkan Robby pernah mendirikan proyek perjudian di sebuah pulau milik Australia yang letaknya hanya satu jam penerbangan dari Jakarta, yaitu Pulau Christmas atau Christmas Island. Letaknya di laut selatan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat (Jabar).

Logikanya, banyak sekali pejudi dari Indonesia mau ke sana. Hanya terbang satu jam. Tentu mereka mau ke Christmas Island yang begitu dekat. Robby pun menyediakan pesawat carter jurusan Jakarta-Christmas Island.

Ternyata proyek itu tidak sebagus perencanaannya. Karena sepi, usaha itu akhirnya ditutup.
Robby memang punya modal nama, yakni sebagai orang yang punya kemampuan mengelola judi. Ia pernah dipercaya pemerintah untuk mengelola judi lotre Indonesia, SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah). Robby pun mengajak Didi Darwis untuk ikut sama-sama menangani SDSB dan menjadi pemegang saham.

Robby dikenal teman-temannya sebagai orang yang setia kawan. “Saya masih sering bertemu di Singapura. Masih sering juga diajak ke MBS,” ujar Didi Darwis. MBS adalah Marina Bay Sands atau pusat perjudian di Singapura.

Robby, kata Darwis, juga tidak pilih-pilih tempat makan. Di pinggir jalan pun ia datangi asalkan enak. Tapi kebiasaan merokoknya tidak terkendali, padahal ia sudah mengeluh dadanya sesak. Ia lalu terpaksa diterbangkan ke Singapura dengan pesawat khusus. Diketahuilah ia menderita kanker paru stadium akhir. Akhirnya ia meninggal dunia pada usia 77 tahun.

Kesukaan Robby yang lain adalah menyanyi. Suaranya memang merdu. Ia bisa nyanyi di sebuah karaoke sampai pagi. Lagu yang paling disukai adalah lagu-lagu Elvis Presley. (*)



Apa Pendapatmu?