Alexa Metrics

Pimpinan MPR Ahmad Muzani Prihatin Penangkapan Aktivis

Pimpinan MPR Ahmad Muzani Prihatin Penangkapan Aktivis demokrat

indopos.co.id – Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Muzani prihatin atas penangkapan para aktivis, diantaranya Jumhur Hidayat dan Syahganda Nainggolan serta belasan anggota Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan Pelajar Islam Indonesia (PII) oleh pihak berwajib pada Rabu (14/10/2020) kemarin.

Sebab, menurut Wakil Ketua MPR RI, mereka merupakan aktivis yang menyuarakan aspirasi atas berbagai macam keprihatinan yang dirasakan rakyat.

“Saya pribadi merasa bahwa mereka yang ditangkap itu adalah kawan-kawan, saudara-saudara yang merupakan seorang aktivis sejati,” ungkap Ahmad Muzani kepada wartawan di Lampung pada Rabu (14/10/2020).

“Mereka adalah sosok yang terus menerus menyuarakan berbagai macam keprihatinan terhadap apa yang dirasakan oleh rakyat saat ini,” tegasnya.

Oleh karena itu, dirinya berharap agar aparat Kepolisian tetap bersikap humanis dengan terus mengutamakan pendekatan persuasif kepada masyarakat, khususnya selama digelarnya aksi unjuk rasa.

“Tujuannya agar aksi unjuk rasa dapat tetap terjaga,” katanya.

Ahmad Muzani juga menyatakan keprihatinan atas sejumlah aksi unjuk rasa di sejumlah wilayah Indonesia selama sepekan belakangan.

Ahmad Muzani mengungkapkan keprihatinan itu merujuk makna yang terkandung dalam demonstrasi atau aksi unjuk rasa. Aksi unjuk rasa, sambungnya, senyatanya merupakan wadah rakyat dalam mengutarakan perasaan dan pendapat terkait kebijakan yang diterbitkan pemerintah.

Namun, momen yang sakral dan dilindungi oleh negara lewat Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum itu diungkapkan Ahmad Muzani justru dinodai dengan aksi kekerasan.

Oleh karena itu, dirinya berharap aksi unjuk rasa yang digelar masyarakat berjalan damai dan kondusif. Sehingga aspirasi dapat tersampaikan tanpa merugikan orang lain.

“Keprihatinan ini tentu saja menjadi sesuatu yang penting, karena tujuan dari unjuk rasa itu adalah menyampaikan perasaan, agar perasaan tentang persoalan yang dikemukakan itu bisa terungkap,” tandas Ahmad Muzani.

“Tapi kemudian karena terjadinya berbagai macam gesekan, akhirnya apa yang menjadi aspirasi justru menjadi bias,” sambungnya seraya menutup. (mdo)



Apa Pendapatmu?