Alexa Metrics

IPW: Penangkapan Para Tokoh KAMI untuk Uji Nyali Gatot Nurmantyo

IPW: Penangkapan Para Tokoh KAMI untuk Uji Nyali Gatot Nurmantyo Neta S Pane. Foto: istimewa

indopos.co.id – Indonesia Police Watch (IPW) mencatat selama rezim Jokowi berkuasa, penangkapan para petinggi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) adalah penangkapan aktivis kritis yang kelima kalinya. Empat penangkapan terdahulu dengan tuduhan makar, yang terbanyak jelang demo 212 pada Minggu dini hari 2 Desember 2012.

”Semua aktivis yang ditangkap dengan tuduhan makar itu akhirnya dibebaskan. Termasuk Sri Bintang Pamungkas, Ahmad Dhani, dan kawan-kawan. Kasusnya pun tidak ada yang sampai dilanjutkan ke pengadilan. Padahal itu tuduhan yang sangat serius, yaitu makar. Tapi kenapa tidak ada yang lanjut ke pengadilan, “ kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane kepada indopos.co.id, Kamis (15/10/2020).

Menurut Neta, rezim Jokowi sendiri tidak yakin dengan tuduhan makarnya itu. Sehingga setelah ditahan dalam beberapa pekan, para aktivis kritis tersebut dibebaskan semua. ”Jadi tiga penangkapan terdahulu yang dilakukan rezim Jokowi hanyalah sekadar terapi kejut buat para aktivis kritis itu,” ujar Neta.

Terkait penangkapan Syahganda Nainggolan dan jumhur Hidayat cs, Neta menilai mereka yang ditangkap ”setali tiga uang” dengan kasus makar terdahulu. ”Artinya semua itu tak lain hanya sekadar terapi kejut untuk para pengikut KAMI di tengah maraknya aksi demo buruh yang menolak UU Ciptaker yang kontroversial itu,” kata Neta.

Sejak semula rezim Jokowi, kata Neta, sudah mengincar pergerakan dan manuver KAMI yang dianggap cenderung menjengkelkan. Buktinya berbagai aksi penolakan di berbagai daerah ”dilakukan”, namun aktivis KAMI tetap ”bandel” untuk bermanuver. ”Untuk menangkap mereka tidak ada alasan yang tepat. Sebab ujuk ujuk menangkap mereka pasti akan ramai ramai dikecam publik,” imbuh Neta.

karena itulah, lanjut Neta, ketika ada momentum aksi demo menolak UU Ciptaker, penangkapan terhadap para petinggi KAMI segera dilakukan. ”Penangkapan ini sama seperti dilakukan rezim Jokowi terhadap Hatta Taliwang cs maupun Eggi Sudjana cs yang dilakukan saat akan terjadinya aksi demo besar di periode pertama pemerintahan Jokowi. Begitu juga saat ini, saat penangkapan terhadap Syahganda Cs dilakukan, saat itu sedang maraknya aksi demo maupun rencana demo besar,” urai Neta yang mantan wartawan senior ini.

Ditegaskan Neta, ada tiga tujuan penangkapan Syahganda dan Jumhur cs. Pertama untuk mengalihkan konsentrasi buruh dalam melakukan aksi demo dan menolak UU Ciptaker. Kedua, memberi terapi kejut bagi KAMI dan jaringannya agar tidak melakukan aksi aksi yang ”menjengkelkan” rezim Jokowi. Ketiga, menguji nyali Gatot Nurmantyo sebagai tokoh KAMI, apakah dia akan berjuang keras membebaskan Syahganda dan Jumhur cs atau tidak.

”Jika Gatot terus bermanuver, bukan mustahil Gatot juga akan diciduk rezim. Sama seperti rezim menciduk sejumlah purnawirawan di awal Jokowi berkuasa,” ungkap Neta.

Ia menilai, jika melihat tuduhan yang dikenakan kepada Syahganda dan Jumhur cs, tuduhan itu adalah tuduhan ecek ecek dan sangat lemah serta sangat sulit dibuktikan di muka persidangan. ”Sehingga kami melihat kasus Jumhur dan Syahganda cs ini lebih kental nuansa politiknya. Sasarannya bukan untuk mencegah aksi penolakan terhadap UU Ciptaker tapi lebih kepada manuver untuk menguji nyali Gatot Nurmantyo. Artinya mereka akan dibebaskan dan kasusnya tidak akan sampai ke pengadilan seperti empat kasus makar terdahulu, terutama kasus Hatta Taliwang cs,” pungkas Neta. (ind)



Apa Pendapatmu?