Album Fisik di Era Digital, Meski Mahal Tetap Dibeli

indopos.co.id – Pemerhati Musik Wendi Putranto mengatakan, kehadiran platform musik digital tidak terlalu berpengaruh terhadap penjualan album format fisik yang masih tetap ada pembelinya.

Di era serba digital, para musisi mendapat kemudahan untuk mempromosikan karyanya melalui platform musik digital, tanpa perlu menandatangi kontrak dengan label. Musisi bisa menyebarluaskan lagunya untuk didengar banyak orang.

Baca Juga :

Kemudahan mendengarkan musik apa pun yang diinginkan ini, menurut Wendi tidak akan memengaruhi penjualan karya fisik seperti album. Sebab, masih ada penggemar musik yang ingin mengoleksi karya dalam bentuk rekaman fisik dari para idolanya.

“Karena die hard music fans pasti pengin lebih, mereka tetap pengin dengar musiknya tapi mereka juga mau memiliki format fisik dari musiknya. Tapi memang perbedaannya kentara antara die hard music fans dan penggemar musik biasa,” kata Wendi dalam jumpa pers “Parade Joox Lima”, Selasa (20/10/2020).

Baca Juga :

D’Masiv Punya Cerita Menarik di London

Die hard music fans atau penggemar berat pasti akan memburu apa pun yang dirilis oleh idolanya. Hal ini juga berlaku bagi para kolektor musik. Sebagai contoh, para penggemar grup idola K-Pop, meski harga album atau single terbilang mahal, para penggemar ini tetap akan membelinya.

Berbeda dengan penggemar musik biasa yang cukup puas hanya mendengarkan lagu-lagunya saja tanpa perlu memiliki format fisiknya. “Die hard music fans itu yang akan memburu, tapi memang secara industri di Indonesia semua moving ke digital. Jadi dampaknya sub kultural, tidak berdampak besar ke industrinya,” tandas Wendi. (ant/rul)

Baca Juga :

Kebucinan Dalam Lantunan Lagu Syifa Hadju

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.