Libur Cuti Bersama, Kamar Hotel di 4 Daerah Melonjak

indopos.co.id – Libur panjang dan cuti bersama di akhir Oktober menggairahkan sektor pariwisata seperti perhotelan karena terjadi peningkatan hunian antara 90 – 100 persen.

Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Budijanto Ardijansjah menyebutkan, pemesanan kamar hotel di sejumlah daerah seperti Bogor, Bandung, Pangandaran, dan Jogjakarta via platform daring diketahui melonjak.

“Tingkat hunian hotel bagus. Terutama di tempat wisata seperti Bandung, kawasan Puncak Bogor, Jogjakarta, dan Pangandaran. Rata-rata sudah fully booked dengan tingkat penghunian hotel 90-100 persen,” kata Budijanto, di Jakarta, Jumat (30/10/2020).

Bahkan Budjanto yakin gelombang wisatawan domestik pada periode libur panjang sejak 28 Oktober – 1 November 2020 akan mendongkrak tingkat hunian hotel di daerah-daerah tersebut hingga 100 persen. Kenaikan ini bila dibandingkan dengan masa hari kerja atau weekdays.

Baca Juga :

Budijanto menilai lonjakan tingkat keterisian hotel saat libur panjang ini lebih tinggi ketimbang kenaikan yang juga sudah mulai terjadi pada akhir pekan biasa. Asita sebelumnya memperkirakan rata-rata okupansi hotel 50-60 persen untuk daerah-daerah wisata di Pulau Jawa yang dapat diakses melalui jalur darat.

Lonjakan angka okupansi yang terjadi di sejumlah wilayah pada liburan panjang ini diakui oleh pelaku usaha sebagai hal yang cukup menggembirakan. Pasalnya, menurut data BPS, tingkat penghunian kamar hotel berbintang dari Januari-Agustus 2020 turun 16,24 persen akibat terdampak pandemi COVID-19.

Baca Juga :

Meski begitu, Budijanto menilai masih terdapat sejumlah hal yang harus dilakukan oleh pemerintah. Terutama, untuk memperluas penyebaran wisatawan agar lebih merata, yang mana saat ini didominasi oleh pelancong asal DKI Jakarta.

Budijanto menyebutkan, pemerintah selain perlu menurunkan harga tiket pesawat, juga harus menambah jumlah bandara yang membebaskan wisatawan dari pajak bandara. Saat ini, jumlah bandara yang tidak mengenakan airport tax hanya 13 bandara. “Target market utamanya kan masih masyarakat Jakarta. Ke depannya harus diperluas target market-nya.”

Untuk pengawasan pelaksanaan protokol kesehatan pemerintah saat ini menjalankan pengecekan secara acak terhadap wisatawan di destinasi wisata. “Sudah ada random checking untuk wisatawan di destinasi wisata sebagai bentuk pengawasan dari pemerintah. Kita harapkan ini bisa menimbulkan trust dan orang makin berani berwisata lagi,” ucap Budijanto. (dni)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.