Alexa Metrics

Tatanan Demokrasi Hadapi Tantangan dan Perubahan. Ini Penyebabnya…

Tatanan Demokrasi Hadapi Tantangan dan Perubahan. Ini Penyebabnya… mdo-ui diskusi

indopos.co.id – Demokrasi di seluruh dunia saat ini menghadapi tantangan dan perubahan besar. Pemilu yang bebas dan adil sebagai landasan legitimasi demokrasi, mengalami tekanan dari gerakan populisme dan pasca-kebenaran, yang menyalahgunakan teknologi komunikasi digital untuk menyesatkan masyarakat. Beberapa studi menunjukkan bahwa media sosial (medsos) mempolarisasi debat publik, mendorong orang ke arah politik yang ekstrem.

”Sedangkan studi lain berpendapat bahwa medsos menciptakan ‘gelembung filter’ dan ‘ruang gema’, mengurangi akses ke berbagai sumber informasi dan perspektif,” ujar Devie Rahmawati, moderator diskusi daring bertajuk ‘Beyond Misinformation: US Electoral Integrity in The Digital Age’ dalam sambutannya, Minggu (1/11/2020).

Peneliti Vokasi UI sekaligus penggiat literasi digital itu menambahkan, disinformasi merupakan salah satu strategi para populis yang mencoba meruntuhkan kepercayaan masyarakat pada fakta yang dapat diverifikasi dan membangun sinisme –termasuk dengan menjelekkan jurnalis profesional sebagai penyebar ‘berita palsu’–, sehingga kontestasi kebijakan serta pemilu tidak didasarkan pada akal sehat, melainkan pada pesona pribadi dan loyalitas sektarian.

Devie yang juga Dosen Pendamping Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fact Checker UI menuturkan, medsos seperti Facebook atau Whatsapp, Instagram, atau twitter dianggap banyak orang sebagai media yang memiliki jurnalis, memiliki pemimpin redaksi (pemred). “Ini yang unik, tidak heran informasi yang berseliweran dipercaya betul oleh masyarakat, baik soal COVID, politik, dan lainnya,” ujarnya.

Dalam diskusi virtual yang digelar Pusat Kebudayaan Amerika Serikat (AS) di Jakarta didukung Pusat Kebudayaan Amerika di Filipina, Kolombo, dan Kathmandu itu menghadirkan pembicara Direktur Cybersecurity Program dari National Association of Secretaries of State (NASS) Lindsey Forson dengan moderator Devie.

Kehadiran Lindsey lantaran memiliki fokus area tentang cara negara berupaya melawan serangan siber pada sistem pemilihan negara bagian serta memerangi kampanye disinformasi tentang integritas pemilihan lokal di AS.

Lindsey bertugas mengelola hubungan asosiasi yang terkait dengan keamanan siber dan keamanan pemilu, memfasilitasi pembagian informasi keamanan siber di antara anggota NASS dan staf mereka, serta staf Komite Keamanan Siber NASS.

Sementara itu, Desiree Maghdalena Roring, Putri Indonesia Intelegensia 2020 menganggap bahwa kekuatan influencer ialah sosial media yang dimiliki. Melalui sosial media tersebut, para influencer dapat mempengaruhi banyak orang.

”Sebagai influencer, sumber informasi yang tepat itu penting banget. Kita bertanggujawab tentang apa yang kita bagikan. Jangan sampai kita tanpa sengaja share hoax, itu sangat berbahaya,” paparnya. (mdo)



Apa Pendapatmu?