Hakim PTUN Putuskan Kalau Ucapan Jaksa Agung ST Burhanuddin Salah

indopos.co.id – Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) merasa bersyukur atas dikabulkannya gugatan ibu korban peristiwa penembakan Semanggi I dengan tergugat Jaksa Agung ST Burhanuddin. Sebab, Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) mengabulkan gugatan bernomor 99/G/TF/2020/PTUN.JKT yang dilayangkan Kontras tersebut.
Staf Divisi hukum Kontras Tioria Pretty mengatakan dikabulkannya gugatan Maria Catarina Sumarsih yang merupakan ibu dari korban penembakan mahasiswa Universitas Atma Jaya Benardinus Realino Norma Irawan akan menjadi landasan pengungkapan kasus peristiwa pelanggaran HAM berat Semanggi I dan II.
Menurut Tioria, putusan hakim sangat adil dan sangat memahami peristiwa tersebut. Ia juga menilai, Majelis Hakim PTUN sangat memahami kasus Semanggi yang mana kasus tersebut masuk ke dalam pelanggaran HAM berat dan pelanggaran pidana.
”Kami bersyukur sekali dengan putusan itu. Artinya hakim sangat memahami bahwa kasus Semanggi perjalanannya panjang dan tentu saja akan berdampak ke depan. Dan memang sudah seharusnya PTUN mengabulkan permohonan keluarga korban Semanggi I dan II dan menyatakan pernyataan Jaksa Agung adalah perbuatan yang bertentangan dengan hukum,” kata Tioria di Jakarta, Rabu (4/11).
Dengan dikabulkannya gugatan tersebut, menurut Tioria menjadi teguran keras kepada pemerintah untuk tidak sembarangan berkomentar terkait kasus-kasus pelanggaran HAM.  ”Jadi penjelasan seperti yang disampaikan Jaksa Agung ke DPR yang seperti ini tidak bisa lagi digunakan dan disampaikan dalam rapat-rapat. Karena ini sudah jelas,” lontar Tioria yang juga anggota dari Koalisi untuk Keadilan Semanggi I dan II.
Sebelumnya Maria, pada April 2020 menggugat Jaksa Agung ST Burhanuddin ke PTUN lantaran dalam sebuah rapat dengan Komisi Iii DPR RI Burhanuddin mengatakan kalau tragedi Semanggi I tahun 1998 dan Semanggi II tahun 1999 itu bukanlah  bukan pelanggaran HAM berat. Maria sendiri sudah nyaris 500 kali berunjuk rasa dalam ’Aksi Kamis-an’ di depan Istana Negara menuntut setiap Presiden RI sejak era Presiden Gus Dur untuk menuntaskan kasus dan mengungkap pelaku penembakan anaknya itu. Aksi Kamisan akhirnya dilarang pada November 2015.
Tak terima dengan ucapan itu, Maria yang merupakan ibu dari mahasiswa Universitas Atmajaya Benardinus Realino Norma Irawan yang tewas tertembak pada tragedi Semanggi I dan sampai sekarang pelakunya tidak terungkap, menggugat Jaksa Agung ke PTUN. Hasilnya, Majelis Hakim PTUN pada Rabu (4/11/2020) memutuskan kalau Jaksa Agung ST Burhanuddin bersalah.
Majelis Hakim PTUN juga memutuskan kalau Jaksa Agung ST Burhanuddin selaku tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan pernyataannya yang menyebutkan kalau tidak perlu membuat Pengadilan Ad Hoc untuk kasus Semanggi I dan II karena bukan merupakan pelanggaran HAM berat. Majelis Hakim PTUN juga mewajibkan tergugat untuk membuat pernyataan terkait penanganan dugaan Pelanggaran HAM berat Semanggi I dan Semanggi II sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. (ind)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.