Enam Penyebab Terjadinya Resesi Ekonomi di Sebuah Negara

indopos.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) sudah mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal III/2020 periode Juli-Agustus-September minus 3,49 persen. Pada kuartal sebelumnya, yakni Kuartal II/2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia juga sudah minus 5,32 persen. Karena sudah dua kali berturut-turut pertumbuhan ekonomi mengalami minus, maka artinya ekonomi Indonesia sudah resmi sedang krisis.

Sebelumnya pada Kuartal I/2020 periode Januari-Februari-Maret pertumbuhan ekonomi di Indonesia juga hanya 2,97 persen. Melihat situasi ini, ekonom senior Rizal Ramli mengatakan kalau kenyataan ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Alasannya, sejak awal tim ekonomi pemerintahan Presiden Jokowi tidak memiliki terobosan dalam membangkitkan perekonomian yang tengah terpuruk ini.

”Ini sudah diperkirakan sejak awal tahun 2020 karena kebijakan ekonomi super-konservatif dan neoliberal yang sudah gagal. Jadi apakan akan dilakukan dengan mengulangi cara yang sama padahal telah berulang kali gagal. Atau mengubah strategi dan memecat menteri neoliberal dan KKN,” lontar Rizal Ramli.

Namun, sebab-sebab resesi ekonomi sendiri sudah didefinisikan National Bureau of Economic Research (NBER) atau Biro Nasional Penelitian Ekonomi Amerika Serikat. Menurut NBER, resesi yaitu penurunan signifikan dalam aktivitas ekonomi yang tersebar di seluruh perekonomian, berlangsung lebih dari beberapa bulan, yang biasanya terlihat dalam Produk Domestik Bruto (PDB) yang riil, lapangan kerja, produksi industri, dan penjualan grosir-eceran.

Baca Juga :

Berikut sebab-sebab umum terjadinya resesi sesuai riset NBER:

1. Guncangan Ekonomi Secara Tiba-Tiba :
Maksudnya, masalah kejutan yang menimbulkan kerusakan finansial yang serius. Salah satu contohnya wabah virus COVID-19 yang mematikan ekonomi di seluruh dunia.

Baca Juga :

Atasi Resesi dengan Langkah Konkret

2. Hutang yang Berlebihan :
Maksudnya ketika individu atau bisnis memiliki terlalu banyak utang, biaya untuk membayar utang dapat meningkat ke titik dimana mereka tidak dapat membayar tagihan mereka. Meningkatnya utang dan kebangkrutan dapat membalikkan perekonomian.

3. Inflasi Terlalu Tinggi :
Inflasi adalah tren harga yang stabil dan naik dari waktu ke waktu. Inflasi bukanlah hal yang buruk, tetapi inflasi yang berlebihan adalah fenomena yang berbahaya.

4. Deflasi Berlebihan
Meskipun inflasi yang tak terkendali dapat menyebabkan resesi, deflasi juga bisa menjadi lebih buruk. Deflasi adalah saat harga turun dari waktu ke waktu, yang menyebabkan upah menyusut, yang selanjutnya menekan harga. Ketika lingkaran umpan balik deflasi lepas kendali, orang dan bisnis berhenti mengeluarkan uang sehingga merusak ekonomi.

5. Perubahan Teknologi
Penemuan baru teknologi dapat meningkatkan produktivitas dan membantu perekonomian dalam jangka panjang. Namun, kemungkinan ada periode penyesuaian jangka pendek untuk terobosan teknologi. Saat ini beberapa ekonom khawatir bahwa Artificial Intelligence (AI) dan robot dapat menyebabkan resesi lantaran pekerja kehilangan mata pencaharian.

6. Gelembung Aset
Yakni ketika keputusan investasi didorong oleh emosi, hasil ekonomi yang buruk akan segera terjadi. Investor bisa menjadi terlalu optimis jika perekonomian kuat. Gelembung asset biasa disebabkan ”kegembiraan irasional” dalam menggambarkan keuntungan besar di pasar saham. Kegembiraan irasional menggelembungkan pasar saham atau gelembung real estat. Ketika gelembung meletus memicu panic selling yang dapat menghancurkan pasar sehingga menyebabkan resesi. (ind)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.