Ekonom Yakin Kemenangan Joe Biden Berikan Dampak Positif ke Indonesia

indopos.co.id – Sejumlah ekonom di Indonesia meyakini, ekonomi Indonesia dan dunia akan sulit membaik jika Presiden Donald Trump kembali terpilih. Sebaliknya, kemenangan Joe Biden dari Partai Demokrat, akan memberikan dampak signifikan.

Pengamat hubungan Internasional dari Universitas Indonesia Makmur Keliat, mengatakan meski tidak ada dampak langsung dari pemilu AS terhadap Indonesia, namun Indonesia akan diuntungkan jika tak ada lagi perang dagang antara AS dan Tiongkok, seperti yang terjadi selama 4 tahun terakhir di bawah pemerintahan Trump.

“Kita harus mencatat dengan jelas bahwa kita tidak terlalu penting bagi Amerika secara perdagangan, tetapi kita menganggap Amerika Serikat penting bagi kita secara perdagangan dan investasi,” ujar Makmur, di Jakarta Minggu (8/11/2020).

“Bagi Indonesia hubungan akan menjadi lebih baik, jika Amerika dan Tiongkok dalam hubungan yang lebih bersifat kerja sama daripada konflik,” cetusnya.

Baca Juga :

Dikatakan, sejak awal posisi Biden di atas angin dan akhirnya terbukti memenangi pemilu di AS. Kemenangan Biden tersebut diprediksi akan menormalisasi hubungannya dengan Tiongkok.

Sementara itu Ekonom dari Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Malik Zaini, mengatakan jika Trump yang menang, dia kemungkinan akan kembali memangkas pajak seperti yang dia lakukan pada periode sebelumnya.

Baca Juga :

Pada saat yang sama, stimulus fiskal yang direncanakan Trump dalam periode 2021-2024 hanya akan terbatas sekitar 334 miliar dollar AS (Rp 4,9 kuadriliun), sebagai konsekuensi berlanjutnya pemotongan pajak yang membuat penerimaan negara lebih rendah.

Sedangkan Joe Biden, dalam manifesto kebijakan ekonominya menegaskan akan menerapkan kebijakan berbeda 180 derajat dengan Trump. Contohnya seperti menaikkan berbagai macam pajak, termasuk pajak korporasi yang diperkirakan akan naik 15 persen seperti sebelum era Trump dan pajak pendapatan.

Dari sisi belanja negara, Biden yang pernah menjabat sebagai wakil presiden pada era Presiden Barack Obama itu berjanji memberikan stimulus fiskal yang jauh lebih besar dibanding Trump, yakni sekitar 2,5 triliun dollar AS (Rp 36,5 kuadriliun) selama periode 2021-2024.

“Karena ekonomi Amerika merupakan 30 persen dari ekonomi dunia. Maka, ketika AS melakukan stimulus besar pasti dampaknya akan cukup besar bagi negara emerging market, maupun di seluruh dunia,” jelas Ahmad Malik.

Menurutnya, jika yang jadi presiden lagi adalah Trump kemungkinan pemulihan ekonomi akan jauh lebih lamban. Namun, di tangan Biden yang akhirnya terpilih, pemulihan ekonomi dunia akan semakin cepat. Laporan terbaru lembaga riset Moody’s Analytics memproyeksikan ekonomi AS akan tumbuh lebih tinggi jika Biden sebagai presiden AS, yakni naik 4,2 persen pada periode 2020-2014. Sedangkan, jika Trump yang terpilih, ekonomi AS diproyeksikan hanya akan tumbuh sebesar tiga persen pada periode yang sama.

Pertumbuhan ekonomi global sejak 2019 telah mengalami penurunan akibat perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok. Perlambatan ekonomi pada 2020 pun diperburuk oleh menyebarnya virus Corona yang saat ini menjangkiti 213 negara. Bahkan, Indonesia sebagai negara berkembang harus merasakan kontraksi minus 5,23 persen pada kuartal III-2020.(dni)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.