Semangkuk Mie Sapi di Melawai

Joesvicar Iqbal-Novita, Jakarta

indopos.co.id – Arus lalu lintas tampak ramai lancar, tak padat terlihat di bilangan Jalan Melawai Raya, Jakarta Selatan. Bagi karyawan kantoran dan siapa pun yang ingin melepas lelah sambil santai seperti di sebuah Kedai Mie Sapi AG yang sederhana itu. Ternyata, semangkuk mie sapi itu harganya hanya Rp15 ribu.

Mie yang cukup membuat perut kenyang sembari menghabiskan waktu. Namun ketika ditemui INDOPOS, di kedai Mie Sapi AG yang tepatnya beralamat di Jalan Melawai Raya, nomor 27, Kebayoran Baru, menawarkan citarasa kuliner berbeda.

Pemilik warung Mie Sapi AG, Anton, (48), menuturkan, awalnya dia membuka kedai kopi tapi ternyata di masa Pandemi COVID-19 orang tidak boleh berkumpul. Akhirnya kedai kopinya tutup, tak ingin berlarut dalam kesedihan. Anton tak patah arang, dirinya mencoba membuka kedai mie ayam.

Baca Juga :

“Sebab, semua orang ‘kan pasti suka makan mie ayam. Hingga akhirnya saya membuat sendiri mie dan meracik bumbunya sendiri,” ujar pria mengenakan kaos oranye itu.

“Mie saya buat berukuran sedang dengan daging sapi yang dipotong tipis – tipis,” sambungnya.

Baca Juga :

Mengintip Tips Cantik Ala Dhini Aminarti

Tetap dengan menjalankan protokol kesehatan, karena mengingat masih di tengah pandemi COVID, Anton memberanikan diri buka usaha mie sapinya. Di kedainya, kursi hanya disisakan dua buah untuk satu mejanya.

Pria berkulit putih itu menambahkan, yang membedakan dengan mie lainnya, ciri khasnya mie yang dia buat rada besar dan berkuah, “Rada basah bumbu meresap pada mie dan daging sapinya,” katanya.

Selain memiliki rasa yang khas dan nikmat, menurutnya, kedai itu berada di lokasi yang sangat strategis. Cukup dengan merogoh kocek Rp15 ribu. “Harga sih masih terbilang cukup murah ya untuk kualitas dan rasa boleh,” ujarnya.

Sore itu, suasana Melawai mulai ramai. Lalulintas mulai dipadati oleh pekerja yang hendak pulang ke rumah. Di saat bersamaan, suasana di Gerai Mie Sapi AG ramai. Puluhan orang menikmati mie sapi di meja-meja outdoor.

“Ini kuliner favorit saya. Rasanya sangat enak dengan harga yang sangat terjangkau,” kata seorang pengunjung Anas, (28).

Irisan daging sapi yang cukup tipis dengan rasa olahan rempah seperti lada menggugah rasa. Plus mienya yang agak besar cukup mengenyangkan perut yang sedang lapar. Rempah lada dan kaldu sapi begitu kuat melekat di lidah.

“Bumbunya kaya akan rempah,” imbuh Anas usai menyeruput es teh manis yang bersamaan dipesannya.

Usai melayani pengunjung, Anton menjelaskan, bakmi telah menjadi makanan yang digemari masyarakat Indonesia. Bahkan, saat ini Indonesia menjadi negara terbesar kedua pengonsumi bakmi setelah Republik Rakyat Tiongkok.

“Indonesia saat ini masyarakatnya sebagai pemakan bakmi terbesar kedua setelah Tiongkok,” ungkapnya.

Namun jenis bakmi yang ada di Indonesia sangatlah beraneka ragam. Tak terlepas adanya perpaduan budaya saat bakmi dikenalkan oleh orang-orang asal Tiongkok, tentunya dengan selera masyarakat masing-masing daerahnya.

“Dari Jawa ada Mie Jawa, Bakmi Surabaya, di Aceh ada Mie Aceh, Mie Godok, Mie Medan, Mie Pontianak dan daerah lainnya yang punya ciri khasnya masing-masing. Jadi jangan heran bakmi sudah sangat familiar bagi masyarakat kita,” ulasnya.

Adapun perkembangan bakmi di Indonesia, sambung Anton, terbilang signifikan. Dengan munculnya beragam varian topping yang membuat citarasa bakmi jadi beragam.

“Sejak tiga tahun terakhir pengembangannya sangat beragam, khususnya pada toppingnya. Jenis toppingannya itu tergantung ide kreatifitas masing-masing pedagang,” katanya.

Sambil memegangi tangan yang satunya, Anton menjelaskan, kendati baru satu bulan berdiri, mie sapi racikannya itu sudah banyak diminati. Sebut saja,  untuk mendapatkan racikan bumbu yang tepat, dia melakukan berbagai percobaan. Dihitung, ada satu bulan dia terus mencari racikan yang tepat.

“Saya coba racik bumbunya hingga beberapa kali, tidak langsung jadi. Butuh waktu beberapa bulan.Terus berinovasi. Sampai akhirnya menemukan racikan yang tepat seperti sekarang,” tuturnya.

Guna menambah citarasa, dia memproduksi mie sendiri sampai mencari pelayannya yang benar ingin berjuang sama-sama. Untuk daging sapinya, dia mencari daging dengan kualitas terbaik.

“Memang banyak mie yang sudah jadi, tinggal beli. Di online banyak. Tapi biar kualitas mie cocok dengan racikan bumbu, saya buat sendiri mie dan toppingnya,” pungkas Anton.

Untuk harga, dia mengaku awalnya galau. Menjual mie sapi premium dengan harga Rp15 ribu per porsi, menjadi pilihan sulit mengingat keuntungan yang diperoleh pasti tipis. Apalagi di masa COVID-19 ini.

Namun, demi membangun brand, pria berkulit putih itu berani mengambil resiko. Sebagai orang yang sudah berpengalaman dalam berbisnis, Anton lebih melihat prospek jangka panjang. “Saya ingin menyajikan menu istimewa dengan harga merakyat. Agar bisa dinikmati oleh semua kalangan,” katanya.

Saat ini, Mie Sapi AG sudah punya tiga cabang, dua di antaranya berada di kawasan Arteri Pondok Indah, tepatnya di Jalan Sultan Iskandar Muda, seberang Mal Gandaria City. Disebutkannya, dia akan mulai mengembangkan sayap Mie Sapi AG dengan sistem franchise. “Semoga usaha ini bisa berkembang agar bisa membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya,” harap Anton.

Harapan lainnya, kata Anton, di masa Pandemi COVID ini dia juga berharap bisa buka normal kembali. Seperti yang diharapkan seluruh pengusaha lainnya.

“Terlebih vaksin COVID-19 kan isunya sudah sedang diuji klinis yah sama pemerintah dari informasi yang saya dapat. Semoga bisa normal secepatnya ya wabah virusnya teratasi,” harap Anton menutup obrolan.(*)

 

 

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.